kpkgg
Ekonomi

Potensi Ekonomi Karbon Biru Lamun Kaltim Capai Rp5,78 Miliar untuk Lingkungan dan Ekonomi

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap potensi ekonomi karbon biru semakin meningkat, terutama di kawasan pesisir. Di Kalimantan Timur, hasil penelitian oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah menunjukkan bahwa padang lamun memiliki nilai ekonomi yang cukup signifikan. Dengan potensi mencapai Rp5,78 miliar dari perdagangan karbon, keberadaan lamun di wilayah ini tidak hanya berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat lokal.

Nilai Ekonomi Karbon Biru dari Padang Lamun

Menurut Koordinator Tim Periset Karbon Biru, Yekhali Auliansyah, nilai sebesar Rp5,78 miliar tersebut diperoleh dari simpanan 1.157,51 ton karbon yang ada di lokasi penelitian. Harga perdagangan karbon saat ini berada di angka Rp5 juta per ton, sehingga potensi ini menunjukkan betapa berharganya ekosistem lamun bagi perekonomian lokal.

Penting untuk dicatat bahwa nilai ekonomi dari karbon yang terakumulasi di lamun ini belum sepenuhnya dihitung atau dimanfaatkan secara optimal. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti dan pengelola lingkungan untuk mengeksplorasi dan memanfaatkan potensi ini lebih lanjut.

Riset Berkelanjutan untuk Meningkatkan Carbon Storage

Riset yang berjudul “Restorasi Lamun sebagai Upaya Peningkatan Carbon Storage di Provinsi Kaltim” merupakan kerja sama antara Brida Kaltim, Yekhali, dan Universitas Mulawarman. Penelitian ini berlangsung secara berkesinambungan antara tahun 2024 hingga 2026, dengan fokus untuk meningkatkan penyimpanan karbon di daerah tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa stok karbon pada sedimen di salah satu lokasi mencapai 383,78 ton karbon per hektare, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan yang tersimpan di bagian tanaman itu sendiri. Temuan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa sedimen memiliki peran krusial dalam menyimpan karbon dalam ekosistem lamun.

Lokasi dengan Stok Karbon Tertinggi

Salah satu lokasi yang menonjol dalam penelitian ini adalah Pulau Miang Kecil di Kabupaten Kutai Timur, yang mencatat simpanan karbon sedimen tertinggi mencapai 383,78 ton karbon per hektare. Diikuti oleh wilayah Kutai Kartanegara dengan simpanan 381,13 ton karbon per hektare. Sementara itu, stok karbon pada tegakan tanaman tertinggi tercatat di Pulau Malahing dengan 4,19 ton karbon per hektare dan Pulau Miang Kecil dengan 2,18 ton karbon per hektare.

Auliansyah menjelaskan, “Temuan ini menegaskan peran sedimen sebagai gudang karbon utama dalam ekosistem lamun.” Ini menunjukkan bahwa upaya restorasi dan pengelolaan sedimen dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap penyimpanan karbon.

Estimasi Karbon di Bontang dan Keberagaman Hayati

Di perairan Bontang, khususnya di sekitar Malahing dengan luas padang lamun mencapai 802 hektare, tim peneliti memperkirakan simpanan karbon mencapai 209 ton. Dengan estimasi nilai ekonomi hingga Rp17 juta per ton karbon per hektare, ini menunjukkan potensi yang sangat besar bagi wilayah tersebut.

Secara keseluruhan, Kalimantan Timur memiliki sekitar 7.225,6 hektare padang lamun yang tersebar di beberapa daerah seperti Berau, Kutai Timur, Bontang, Kutai Kartanegara, dan Balikpapan. Hal ini menambah kekayaan ekosistem dan potensi ekonomi karbon biru yang dapat dimanfaatkan.

Kekayaan Hayati di Kaltim

Kalimantan Timur juga dikenal kaya akan keanekaragaman hayati. Dari 13 jenis lamun yang ada di Indonesia, 10 jenis di antaranya dapat ditemukan di perairan Kaltim. Beberapa spesies yang dominan antara lain:

  • Enhalus acoroides
  • Thalassia hemprichii
  • Halophila ovalis
  • Halodule uninervis
  • Syringodium isoetifolium

Kehadiran berbagai spesies ini menunjukkan betapa pentingnya ekosistem lamun dalam mendukung kehidupan laut serta peranannya dalam menyimpan karbon.

Pentingnya Pengelolaan Berkelanjutan

Auliansyah berharap bahwa potensi besar yang dimiliki oleh padang lamun di Kalimantan Timur dapat dikelola secara berkelanjutan. Dengan cara ini, nilai ekonomi dari karbon biru tidak hanya akan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga kelestarian ekosistem.

Pengelolaan yang bijak akan memungkinkan masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya alam ini tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Upaya pendidikan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya ekosistem lamun juga menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan.

Kesimpulan

Dengan potensi ekonomi karbon biru lamun yang mencapai Rp5,78 miliar, Kalimantan Timur memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor ini. Melalui riset yang berkelanjutan dan pengelolaan yang tepat, ekosistem lamun tidak hanya akan berfungsi sebagai penyimpan karbon, tetapi juga sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat lokal. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama dalam menjaga dan memanfaatkan potensi ini demi masa depan yang lebih baik.

➡️ Baca Juga: GoTo Respon terhadap Arahan Presiden soal Potongan 8% untuk Pengemudi

➡️ Baca Juga: Hizbullah Mengajukan 5 Syarat untuk Mengakhiri Konflik dengan Israel, Simak Rinciannya

Related Articles

Back to top button