kpkgg
Luar Negeri

El Nino Sangat Kuat, RI dan AS Tingkatkan Riset Laut untuk Antisipasi Kekeringan dan Banjir

Indonesia dan Amerika Serikat (AS) mengintensifkan kolaborasi dalam penelitian kelautan untuk mempersiapkan diri menghadapi dampak signifikan dari fenomena El Niño yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2026 hingga 2027. Fenomena ini diharapkan akan mempengaruhi berbagai daerah di Indonesia dengan cara yang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan yang tepat untuk mitigasi.

Pentingnya Kesiapsiagaan Menghadapi El Niño

Duta Besar RI untuk AS, Indroyono Soesilo, menyatakan bahwa pemahaman tentang potensi ancaman El Niño harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Ini termasuk pengamatan laut yang mendalam, pengembangan alat ukur yang lebih canggih, serta penelitian mengenai Arus Lintas Indonesia (Indonesian Throughflow/ITF). Pendekatan ini akan membantu dalam memprediksi dan mengatasi dampak yang mungkin timbul akibat perubahan iklim yang ekstrem.

Dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh KBRI Washington, D.C., bersama BRIN dan Scripps Institution of Oceanography, Indroyono menjelaskan bahwa kerjasama ini merupakan bagian dari program Comprehensive Strategic Partnership antara Indonesia dan AS. Agenda tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas ilmiah kedua negara dalam menghadapi tantangan yang diakibatkan oleh perubahan iklim.

Fasilitas Penelitian dan Infrastruktur

Kerja sama ini didukung oleh keberadaan Kapal Riset BRIN Baruna Jaya, yang menyediakan platform untuk kegiatan observasi dan penelitian kelautan. Selain itu, alokasi hari layar kapal tersebut akan digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan riset yang berkaitan dengan pemantauan kondisi laut dan atmosfer.

Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN, Luki Subehi, menegaskan bahwa kemitraan antara BPPT/BRIN dan Scripps, yang telah terjalin sejak tahun 1990-an, telah membangun dasar yang kokoh untuk penelitian mengenai ITF dan pengamatan laut. Kolaborasi ini diharapkan dapat berlanjut dan berkembang lebih jauh, dengan fokus pada observasi yang berkelanjutan di Selat Makassar dan perluasan ke jalur-jalur ITF lainnya.

Keselarasan dengan Inisiatif Global

Riset yang dilakukan juga diselaraskan dengan berbagai inisiatif global, termasuk UN Decade of Ocean Science, UNESCO Tsunami Ready, dan Sustainable Development Goals (SDGs). Keterlibatan dalam program-program ini menunjukkan komitmen Indonesia dan AS untuk berkontribusi pada pemahaman dan pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Perkembangan Suhu Laut dan Implikasinya

Dr. Mark Merrifield dari Scripps menyampaikan bahwa suhu permukaan laut di wilayah Pasifik sepanjang khatulistiwa telah meningkat hingga 1,4 derajat Celsius pada periode Juni hingga Agustus 2026. Data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menunjukkan bahwa suhu ini diperkirakan akan meningkat lebih dari 2 derajat Celsius pada bulan Februari 2027.

Peluang terjadinya El Niño dengan status sangat kuat diperkirakan mencapai lebih dari 90 persen hingga Januari 2027. Selain itu, ada kemungkinan El Niño akan melampaui kekuatan seluruh kejadian yang tercatat sejak tahun 1950, dengan prediksi mencapai 75 persen antara Oktober hingga Desember 2026.

Dampak El Niño di Indonesia

Peneliti dari BRIN, Erma Yulihastin, mengingatkan bahwa dampak dari El Niño di Indonesia tidak akan merata. Perubahan iklim ini akan dipengaruhi oleh interaksi dengan Indian Ocean Dipole (IOD), pola monsun, serta kondisi topografi daerah setempat. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana setiap wilayah akan terpengaruh secara berbeda.

  • Kalimantan dan Papua berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.
  • Jawa dapat mengalami penurunan produksi padi akibat dampak kekeringan.
  • Wilayah pegunungan seperti Bogor dan Bandung berpotensi menghadapi hujan ekstrem, banjir, dan longsor.
  • Hari-hari tanpa hujan pada tahun 2026 diprediksi lebih parah dibandingkan tahun 2023.
  • Proyeksi NASA menunjukkan potensi kekeringan dapat berlanjut hingga 2027–2028.

Secara keseluruhan, pemahaman yang mendalam mengenai El Niño dan dampaknya akan sangat penting untuk merumuskan strategi mitigasi yang efektif. Dengan meningkatkan kerja sama riset dan pengembangan teknologi, Indonesia dan AS berupaya untuk meminimalkan risiko yang mungkin terjadi akibat perubahan iklim yang ekstrem ini.

➡️ Baca Juga: Gunung Kerinci Aman, PGA: Aktivitas Utama Masih Didominasi Gempa Permukaan

➡️ Baca Juga: Jojo Menyerah Melawan Wakil Hong Kong Menjelang Asian Games 2023

Related Articles

Back to top button