kpkgg
Ekonomi

Bappenas Kembangkan Inisiatif “Blue Food” untuk Meningkatkan Asupan Protein Masyarakat

Di tengah tantangan global dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, Kementerian PPN/Bappenas telah meluncurkan inisiatif inovatif berfokus pada “blue food” atau pangan berbasis sumber daya perairan. Konsep ini bertujuan untuk meningkatkan konsumsi protein yang berasal dari sumber perairan, khususnya ikan, di Indonesia. Dengan populasi yang sebagian besar terdiri dari negara kepulauan, pemanfaatan sumber daya laut dan perairan tawar menjadi sangat penting untuk memastikan asupan nutrisi yang memadai bagi masyarakat.

Pengembangan Blue Food sebagai Solusi Gizi

Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas, Mohamad Rahmat Mulianda, mengungkapkan bahwa pengembangan blue food merupakan langkah strategis untuk meningkatkan konsumsi ikan di Indonesia. Langkah ini akan diiringi oleh penerapan prinsip keberlanjutan yang terukur, yang menjadi dasar utama dalam setiap kegiatan produksi.

“Bagaimana kita dapat meningkatkan konsumsi ikan di negara kepulauan ini? Kita harus memastikan bahwa produksi yang dilakukan bersifat ramah lingkungan,” jelas Rahmat saat meninjau keramba jaring apung (KJA) milik PT Suri Tani Pemuka di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara. Penekanan pada keberlanjutan ini mencerminkan komitmen untuk memelihara ekosistem laut dan perairan, sambil tetap menyediakan sumber pangan yang berkualitas bagi masyarakat.

Definisi dan Cakupan Blue Food

Menurut Rahmat, konsep blue food mencakup berbagai jenis pangan yang berasal dari ekosistem laut dan air tawar. Ini termasuk ikan, udang, kerang, rumput laut, dan berbagai biota perairan lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan gizi. Keberagaman ini menunjukkan potensi besar yang dimiliki Indonesia untuk meningkatkan asupan protein melalui sumber daya perairan yang berkelanjutan.

Dalam upaya pengembangan blue food, penting untuk mempertimbangkan beberapa aspek, termasuk:

  • Kualitas air yang baik dan bebas dari pencemaran
  • Pengendalian terhadap limbah dan polusi yang dihasilkan dari kegiatan produksi
  • Pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan
  • Partisipasi masyarakat lokal dalam proses produksi
  • Peningkatan kesadaran akan pentingnya konsumsi pangan berbasis perairan

Keberlanjutan dalam Produksi Blue Food

Penerapan prinsip keberlanjutan dalam produksi blue food tidak hanya sebatas pada menjaga kualitas lingkungan, tetapi juga menciptakan keseimbangan antara ekonomi, ekologi, dan sosial. Rahmat menekankan hal ini, terutama di kawasan Danau Toba yang kaya akan sumber daya. Danau ini tidak hanya berfungsi sebagai lokasi perikanan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk pariwisata, transportasi, dan sumber air.

“Keberlanjutan harus menjadi prioritas. Semua sektor terkait, baik perikanan, pariwisata, maupun peternakan, harus saling mendukung untuk menciptakan ekosistem yang seimbang,” tambahnya. Penekanan pada kolaborasi antar sektor menjadi kunci untuk memanfaatkan potensi Danau Toba secara optimal, tanpa mengorbankan salah satu sektor.

Transformasi Sistem Pangan Melalui Blue Food

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo Adypurnama, menambahkan bahwa pengembangan blue food adalah bagian integral dari transformasi sistem pangan yang sedang dijalankan oleh pemerintah. Ini mencerminkan komitmen untuk mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan.

“Target kita dalam mencapai swasembada pangan harus diimbangi dengan strategi yang memastikan produksi pangan kita ramah lingkungan, rendah emisi, dan hemat air,” ungkap Leonardo. Dengan langkah ini, diharapkan Indonesia dapat memanfaatkan sumber daya alamnya dengan lebih baik, sambil menjaga keberlanjutan lingkungan.

Pentingnya Blue Food dalam Diet Masyarakat

Indonesia, sebagai negara kepulauan, memiliki potensi besar dalam menyediakan sumber protein dari perairan. Menurut data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), sekitar 55% asupan protein masyarakat Indonesia berasal dari ikan. Ini menunjukkan betapa pentingnya pengembangan blue food untuk mendukung kebutuhan gizi masyarakat.

“Dengan adanya program-program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), kita perlu terus mendorong masyarakat untuk meningkatkan konsumsi protein,” jelas Leonardo. Dalam konteks ini, blue food menjadi salah satu solusi yang menjanjikan untuk memperbaiki pola makan masyarakat, terutama di daerah dengan akses terbatas terhadap sumber pangan lainnya.

Strategi Meningkatkan Konsumsi Blue Food

Untuk mendorong masyarakat mengonsumsi lebih banyak blue food, beberapa strategi dapat diterapkan, antara lain:

  • Pengembangan kampanye kesadaran akan manfaat konsumsi ikan dan produk perairan
  • Peningkatan akses dan ketersediaan produk blue food di pasar lokal
  • Kolaborasi dengan pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas dan keberagaman produk
  • Pelatihan dan pendampingan bagi nelayan dan petani perairan dalam praktik berkelanjutan
  • Penguatan jaringan distribusi untuk memastikan produk perairan sampai ke konsumen dengan segar

Melalui langkah-langkah ini, diharapkan masyarakat akan lebih mengenal dan menghargai produk perairan sebagai sumber protein yang berkualitas, serta mendukung keberlanjutan lingkungan.

Kesimpulan yang Dapat Diambil

Pengembangan inisiatif blue food oleh Bappenas bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan konsumsi protein, tetapi juga untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan ekonomi masyarakat. Dengan memanfaatkan potensi perairan secara bijak, Indonesia dapat mencapai tujuan gizi yang lebih baik dan menciptakan kondisi yang lebih seimbang bagi semua sektor yang terlibat. Untuk itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha sangatlah penting dalam mewujudkan visi ini.

➡️ Baca Juga: Aksi Perjuangan Hak Konstitusional Warga untuk Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan

➡️ Baca Juga: Ubah Kebiasaan Buruk Menjadi Pola Hidup Sehat untuk Menghindari Penyakit Kronis

Related Articles

Back to top button