Ziarah ke Makam Mbah Yai Muhammad Zainuddin, Tawasulkan Juga Pada Para Ulama Di Maqbaroh Cepoko

Nganjuk, 3 Oktober 2019

Tradisi ziarah makam telah melekat erat pada kultur warga Nahdliyin, terutama ketika menjelang dan pada hari Jumat. Salah satu Ulama sepuh Nganjuk yang masyhur dengan ke-aliman dan linuwihnya adalah Mbah Yai Muhammad Zainuddin, selanjutnya akrab disebut Mbah Zainuddin yang dimakamkan di Maqbaroh sebelah barat Masjid Al-Muhtar Desa Cepoko Kecamatan Berbek Kabupaten Nganjuk.

Lokasi Makam Mbah Zainuddin kerap ramai dikunjungi peziarah, guna kirim doa tabarrukan wa tawassulan pada Mbah Zainuddin. Kesempatan kali ini pada Hari Kamis (3/10), tidak dilewatkan Romo Yai Djamzuri santri Cepoko yang kini menjadi salah satu khotib di Masjid Al-Muhtar, untuk mengunjungi makam Mbah Zainuddin. Pria yang akrab disapa Mbah Djam tersebut juga menceritakan sejarah singkat Mbah Zainuddin dan para Ulama yang kudu ditawasuli ketika berziarah di Maqbaroh Cepoko.

Kemudian, Mbah Djam menunjukkan letak makam Mbah Zainuddin sambil menceritakan kisahnya mensyiarkan Ajaran Ahlussunah Wal-Jamaah di Pondok Poko (Cepoko). Tidak sedikit para santri Mbah Muh sebutan lain Mbah Yai Muhammad Zainuddin menjadi ulama besar, diantaranya yaitu Mbah Yai Abdul Karim pendiri Pondok Lirboyo Kediri, dan Mbah Yai Mohammad Maroef pendiri Pondok Pesantren Kedung Lo Kediri. Bahkan, peninggalan Mbah Maroef ketika nyantri di Cepoko masih ada, yaitu jeding keramat yang dengan kelinuwihannya disusun dari batu bata tanpa cetet maupun semen namun tidak bocor ketika diisi air.

“Disini letak makam para kyai, yang ada tanaman itu makam Mbah Muh, itu ada tulisan namanya di batu nisan.,” jelasnya tanpa membaca.

Lanjut Mbah Djam sembari menjelaskan, juga menuliskan daftar nama para Ulama yang biasa beliau kirim doa ketika berziarah di Maqbaroh Cepoko. Total ada 17 (tujuh belas) nama meliputi Kyai Muhammad Muhtar, Kyai Muhammad Zainuddin, Kyai Abdurrohman (berjuluk Kyai Condromowo), Kyai Ahmad Zahid, Kyai Imam Asyraf, Kyai Habibullah, Kyai Abdul Manan, Kyai Zayadi, Kyai Majduddin, Kyai Muhdin, Kyai Abu Said, Kyai Muhammad Baqir, Kyai Muhammad Dahlan, Kyai Bajuri, Gus Bahruddin, dan Bapak Syumhudi. Para ulama tersebut adalah kyai dan pengajar di Pondok Poko, Pondok Putri Matlabul Hidayah Cepoko, dan Madrasah Diniyah Darul Mutaallimin Cepoko.

Daftar nama para Ulama

Terkhusus pada Mbah Yai Muhammad Muhtar, kerap terjadi kesalahan penyebutan dengan menyebut Mbah Yai Imam Muhtar. Hal Tersebut diketahui Mbah Djam ketika dulu diminta gurunya Kyai Abu Said untuk mengimami tahlil, namun ketika selesai tahlil justru mendapat teguran dari Mbah Said yang menjadi cicit dari dari Kyai Muhtar.

“Dulu diminta ngimami tahlil sama Mbah Said, selesai Tahlil ditanya siapa itu Imam Muhtar yang ditawasuli. Lalu Mbah Said menjelaskan bahwa yang benar adalah Muhammad Muhtar bukan Imam Muhtar. Orang sering rancu mungkin karena ada nama Imam Asyraf bin Muhtar. Mbah Imam Asyraf adalah anak dari Mbah Yai Muhtar.”, jelasnya.

Pada akhir penjelasan ketika mendapat pertanyaan tentang nama terakhir dalam daftar yaitu Bapak Syumhudi, Mbah Djam menjelaskan bahwa mungkin memang tidak banyak yang mengenalnya. Namun Bapak Syumhudi tetap rutin dikirimi doa karena beliau adalah salah satu guru Mbah Djam ketika masih menjadi santri poko.

“Pak Syumhudi mungkin asing bagi orang jaman sekarang, beliau ini dulu ngulang ngaji saya, banyak ilmu saya dapatkan mulai fiqh nahwu dan yang lain.”, pungkasnya. (tuh)

Kontributor: Moh. Maftuhul Khoir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *