Yayasan Sunan Giri Siap Dirikan RA

 Yayasan Sunan Giri Siap Dirikan RA

Rejoso | nunganjuk.or.id – Langkah baru akan ditapaki Yayasan Sunan Giri Desa Jintel Kecamatan Rejoso. Yayasan yang berdiri sejak 1987 akan mendirikan unit Raudlatul Athfal, Ahad (17/1). Selama ini, yayasan hanya memiliki unit madrasah diniyah.

Rapat persiapan akhir digelar di Masjid Sunan Giri Jintel. Tampak hadir adalah ketua yayasan Jito Abdul Nashir, ketua ranting NU, perangkat Desa, tokoh agama dan panitia pendirian. Rapat mengundang pengawas dari Kementerian Agama Kabupaten Nganjuk, Ali Musyafa.

Masyarakat Desa Jintel semua nahdliyin. Menurut Jito, punya semangat bersatu agar maju dalam dunia pendidikan.

“Sehingga anak Desa Jintel tidak keluar Desa lagi saat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi,” ujarnya.

Meski diakui di Desa tersebut belum ada Kiai besar yang punya pondok dengan santri berjumlah banyak. Namun itu diakui tidak menjadi kendala. Dengan semangat kebersamaan, dirinya yakin semua masalah akan bisa diatasi.

“Insya Allah pemerintah Desa Jintal siap mendukung lembaga pendidikan berbasis keagamaan bernama RA Sunan Giri yang hendak didirikan,” jelasnya.

Ke depan, pria yang juga kepala Desa Jintel ini berharap tidak sekedar RA. Namun juga jenjang yang lebih tinggi seperti unit Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Sementara itu, saat menyampaikan paparan, Ali Musyafa mendorong agar niat baik yayasan segera direalisasikan. Terlebih sudah didukung semua pihak yang ada di Desa Jintel. Ia yakin rapat ini akan mencetak prestasi dan prasasti dalam mendirikan RA nanti.

“Terlebih berbasis Masjid, insya Allah tidak ada kendala dalam pengajuan ijin pendirian di Kemenag Nganjuk nanti,” harapnya.

Jihad di dunia pendidikan, lanjutnya, pahalanya tidak hanya bagi para guru yang mengajar. Ia mengajak kepada para donatur dan pihak-pihak yang ikut memikirkan kemajuan lembaga.

“Yang penting itu berjalan dan bergerak dulu, realisasikan ide dan mimpi panjenengan untuk mendirikan RA, untuk perbaikannya sambil berjalan nanti, karena orang maju itu sering berasal dari mimpi,” tandasnya.

Dirinya berharap agar pendirian RA dan MI nantinya memiliki pengaruh di masyarakat. Caranya dengan memperkuat di kurikulum dengan keagamaan dari pesantren. Selain itu, harus kreatif dalam promosi. Karena zaman sekarang harus berbasis digital. Era milenial sekarang tidak sama dengan zaman orang tua dulu.

 “Seharusnya tidak hanya bercerita, menyanyi dan bermain, tapi lembaga nanti harus ada nilai tambahnya. Misalnya ditambahi dengan calistung, mengaji dan praktek ibadah,” imbuhnya.

Terpisah, Muhammad Kharis, selaku ketua panitia, menuturkan kesiapan pendirian RA. Para guru yang akan mengajar juga sudah disiapkan.

“Proposal sudah siap diluncurkan ke Kemenag Nganjuk untuk mengajukan ijin pendirian,” ujarnya.

Penulis: Mukani

Digiqole ad

admin

Related post