Tulisan Pak Dahlan Iskan (DI) tentang Bupati Nganjuk

Oleh: Ali Anwar Mhd


Saya membaca tulisan Pak DI, yang dimuat di Harian DI’s Way (semacam blog harian milik Pak Dahlan Iskan) berkali-kali. Dengan tujuan supaya saya bisa memahami dan bisa mencermati satu persatu dari paragraf yang tersaji.

Tulisan yang berjudul “Perjalan Karir Bupati dan Istri”, yang di dalamnya diulas beberapa pelaksanaan program bupati Nganjuk yang diunggah hari Senin 29 June 2020.

Tulisan Pak DI sangat menginspirasi terutama kaum muda. Pasti siapapun yang membacanya akan tergugah untuk mengikuti jejak sang bupati muda, yang menjadi tamu pertamanya, sejak kantor baru harian DI’s Way di Surabaya dibuka atau diresmikan.

Saya menangkap beberapa point’ yang ditulis Pak DI tentang Bupati Nganjuk, yaitu: perusahaan, program pemerintah seperti jumat keliling, hari buruh dan makam Marsinah, peluang pembangunan kawasan area tol, lumbung pangan RT-RW, percintaan dengan sang istri sampai putra putri Mas Bupati.

Saya meyakini bahwa sumber catatan Pak DI adalah dari Mas Bupati sendiri. Mungkin hasil ngobrol santai (wawancara bebas) saat bupati menjadi tamu di kantor harian DI’s day.

Hasil ngobrol tersebut karena yang memberikan informasi adalah sumber primer dan pelaku, maka Pak DI meyakini kebenaran seratus persen. Lantas ditulisnya.

Menjadi hal yang sangat menarik dari catatan tersebut untuk dijadikan inspirasi terutama para generasi muda.

Dari samua catatan Pak DI, saya sebagai warga Nganjuk yang tinggal di Nganjuk, memang benar adanya sebagaimana catatan Pak DI. Namun juga ada beberapa data yang harus (maaf) saya luruskan.

Misal. Perusahaan yang dimiliki Mas Bupati sesungguhnya perusahaan keluarga. Yang pendiriannya di gagas dan dimotori oleh orang tunya, H. Imam Muhayat Syah, yang dikenal pengusaha kaya di Nganjuk. Mas Bupati meneruskan bersama saudara-saudaranya. Dan orang tuanya sampai sekarang masih ada, dan masih menggawangi perusahaan tersebut. 

Ketika Mas Bupati masih kecil, bahkan belum lahir, perusahan tersebut sudah ada, walaupun belum sebesar saat ini.

Terkait dengan program pemerintah. Iya demikian, tapi tidak sedahsat tulisan Pak DI. 

Misal. Hari buruh yang dicatatan Pak DI, Mas Bupati sampai mengadakan semacam istighosah akbar dan khataman al-Qur’an di seluruh masjid di Nganjuk. Yang benar ada peringatan hari buruh, tapi tidak sampai demikian.

Juga kegiatan Jumat keliling yang memugar rumah penduduk sekitar masjid yang tidak layak huni hasil kumpulan zakat pegawai, yang setelah jadi ada tumpengan bersama. Kegiatan ini mungkin masih bersifat program.

Hal lain terkait dengan proses pencalonan bupati yang sebegitu mudah saat membaca catatan Pak DI. Tentu tidak demikian. Saya adalah orang yang juga ikut terlibat dalam pemilukada. Apalagi terkait partai politik pengusung juga keterlibatan ormas keagamaan terbesar di Nganjuk. Ormas keagamaan (NU) inilah yang memiliki andil yang sangat besar, terutama para kiai, santri, dan pendukung lainya. 

Juga yang harus saya luruskan program ketahanan pangan berbasis RT-RW, itu lebih tepatnya mungkin juga masih program, belum pernah terealisasi sebagaimana tulisan Pak DI.

Program-program besar terkait pengembangan Nganjuk memang iya, tapi sampai hari ini masih dalam proses menuju pencapaian. Belum pada tahap atau titik hasil sebagaimana data-data ditulisan Pak DI. 

Tentu kita semua berharap bagaimana program besar Mas Bupati bisa berhasil, sehingga betul-betul akan memberikan dampak pengembang kesejahteraan bagi masyarakat Nganjuk dari sisa tiga tahun kepemimpinan Mas Bupati di periode pertama.

Saya meyakini Pak DI memang menulis apa adanya dari keterangan sumber yang secara langsung (primer) bertemu. Namun Pak DI pasti tidak mengetahui dengan sesungguhnya fakta-fakta yang ada di lapangan. 

Jadi Pak DI sudah benar menuliskan dalam catatan yang bersumber dari orang atau pelakunya sendiri, supaya bisa menjadi inspirasi semua khalayak terutama anak-anak muda. 

Namun jika catatan tersebut kurang sesuai dengan fakta yang ada, akan menjadi cibiran banyak orang terutama bagi yang mengetahui kondisi di lapangan.

Semoga kita semua selalu terjaga dalam posisi kewajaran, kekritisan, dan keproporsionalan.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *