Transformasi Pesantren Sebagai Ikhtiar Dalam Menjawab Tantangan Perkembangan Zaman

 Transformasi Pesantren Sebagai Ikhtiar Dalam Menjawab Tantangan Perkembangan Zaman

Pesantren sebagai bagian dari pendidikan di Indonesia selalu berusaha untuk dapat mencetak individu yang berpengetahuan luas, memiliki kecakapan dalam mengamalkan ilmunya, dan terbentuknya moral yang baik. Pesantren adalah lembaga pendidikan murni Indonesia. Jauh sebelum sekolah formal didirikan, pesantren lebih dulu aktif dalam mencetak manusia yang berilmu  melalui pendidikannya. Dalam rekaman jejak langkah perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan, pesantren diakui turut andil memberi pengaruh besar. Terbukti dengan banyaknya para kiyai yang diberi gelar pahlawan nasional oleh negara.

Terlepas dari tujuan dan harapan pesantren, setiap pesantren juga berusaha mengiringi arus globalisasi saat ini. Globalisasi yang semakin gencar terkadang juga menjadi ancaman bagi pesantren, oleh sebab itu pesantren juga meneguhkan dan menghadirkan dirinya dalam berkontribusi membawa islam melalui arus globalisasi, bukan malah menghindarinya.

Selain tantangan globalisasi, akhir akhir ini Indonesia seringkai digemparkan oleh adanya isu radikalisme yang diprakasai beberapa kelompok. Dan ironisnya isu radikalisme tersebut menggunakan alibi agama sebagai dasar bergeraknya. Bentuk radikalisme yang ada di Indonesia merupakan usaha untuk menjadikan NKRI sebagai negara Khilafah, seperti bentuk pemerintahan di timur tengah dahulu. Hal tersebut sangat bertentangan dengan asas pancasila yang telah disepakati. Indonesia merupakan negara yang beragam, baik itu budaya, bahasa, adat, bahkan agama. Maka tidak etis jika sistem pemerintahan hanya mngakui islam sebagai pamlik hak tertinggi.

Itulah yang menjadi tantangan pesantren kedepannya. Dengan tetap melestarikan budaya dan tradisi salaf, pesantren juga harus mampu menjawab tantangan tersebut.

Pesantren telah terbukti secara nyata memberikan pendidikan dan pencerahan bagi masyarakat. Namun dalam perjalananya mengiringi globalisasi, perlu adanya bentuk usaha dan kebijakan yang dinilai sebagai transformasi pesantren dalam menjawab arus tantangan zaman. Berikut adalah transformasi dan ikhtiar yang bisa diimplementasikan oleh pesantren dengan harapan pesantren selalu menjadi bagian dalam perkembangan zaman.

Dakwah digital, Dakwah bil medsos

Dunia sampai pada zaman, dimana segala sesuatu dalam pekerjaannya bertransformasi dengan kecanggihannya. Era globalisasi ini memaksa semuanya berjalan begitu cepat, instan, dan lebih produktif. Sebagaimana data yang dirilis Wearesocial Singapore, Jumlah penduduk  adalah 251 juta; 38 juta nya adalah pengguna internet, 62 juta nya adalah pengguna Facebook aktif. Mereka yang aktif menggunakan internet juga memiliki akun di media sosial: 93% Facebook, 80% Twitter, 74% Google+, 39% Linkedin, dan 32% Instagram. Dari jumlah statistik tersebut, dunia internet atau dunia maya sudah menjadi rumah kedua dan mampu mempengaruhi seseorang dalam kehidupan sehari-hari di dunia nyata.

Fenomena ini sulit untuk dihindari, termasuk dunia pesantren. Maka sudah saatnya pesantren di nusantara turut mengisi ruang dunia maya, sebagai bentuk ikhtiar dalam berdakwah menyebarkan khazanah keislaman. Apalagi, sekarang terdapat beberapa aliran/faham yang melenceng dari nilai utama agama islam dan menyalahi aturan hukum negara Indonesia, mereka memanfaatkan media sosial sebagai tempat menyebarkan fahamnya. Ini perlu mendapatkan keseimbangan dari kalangan pesantren dan saatnya pesantren menjadi pelopor sekaligus benteng bagi negara dan khususnya agama islam itu sendiri. Maka, sekali lagi sudah seharusnya pesantren turut berjuang di media sosial dalam membasmi konten faham yang melenceng dari nilai utama keislaman.

Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) juga menegaskan akan pentingnya dakwah bil medsos. Keterangan itu disampaikan oleh ketua LDNU KH. Agus Salim. Menurut Kiai Agus, dalam berdakwah, para dai juga harus siap dengan perkembangan zaman karena berdakwah merupakan amanat Allah kepada nabi dan rasul kemudian dilanjutkan oleh para ulama. Sementara NU sebagai organisasi yang dihuni para ulama memiliki tanggung jawab dalam meneruskan dakwah.

Pendidikan keterampilan diri

Sebagai bagian dari tempat berprosesnya anak bangsa, di pesantren para santri juga dituntut agar mampu dalam menyelaraskan dirinya dengan kehidupan masyarakat nanti setelah kepulangannya. Pada zaman sekarang, dimana setiap orang berlomba lomba dan bersaing dalam menghasilkan produk entah itu barang ataupun jasa, yang mana itu sebagai ikhtiar dalam mencari uang demi melanjutkan kehidupan, maka tak terkecuali dengan para santri. Santri Indonesia juga harus ambil peran dalam pergolakan sosial dalam kehidupan. Demi mewujudkan harapan tersebut, para santri sudah sepatutnya mendapatkan pendidikan kewirausahaan atau keterampilan. Pendidikan keterampilan bisa meliputi pelatihan kewirausahaan, sekolah minat dan bakat, penguatan ekonomi pesantren, dll.

Riset dari Ugin Lugina terhadap pengalaman pengembangan ekonomi pondok pesantren menunjukan peran pesantren dalam menumbuhkan inisiatif orang desa untuk memberdayakan dirinya. Pengembangan ekonomi di pesantren terus dilakukan dengan melakukan penguatan kapasitas. Program penguatan dan pengembangan potensi ekonomi pesantren pada dasarnya merupakan replikasi atau penalaran keberhasilan suatu pesantren dalam mengembangkan kegiatan ekonomi kepada pesantren lain yang memiliki potensi ekonomi, SDM dan dukungan pimpinan pesantren yang tinggi. Pendampingan dimulai dari kegiatan orientasi berbasis praktek, pemberian dana pengembangan ekonomi, dan proses penularan atau replikasi serta bantuan supervisi. Dengan adanya program, penguatan dan pengembangan potensi ekonomi pesantren ini menjadi bekal bagi pesantren untuk dapat lebih mengembangkan potensi-potensi yang ada di masing-masing pondok pesantren (Lugina, 2017).           

Ditambah lagi, karena sejak dulu pesantren didominasi oleh warga dari  kalangan pedesaan, yang mana juga didominasi dari latarbelakang keluarga menengah kebawah. Pesantren juga mempunyai harapan kepada santrinya kelak ketika pulang mendapatkan kehidupan yang nyaman dan layak, terlebih juga diharapkan mampu menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat di daerahnya. 

Penanaman jiwa kebangsaan

Pesantren yang merupakan hasil rintisan Walisongo secara teguh mempertahankan dan melestarikan budaya dakwah yang Walisongo contohkan, yakni dengan adanya sikap toleransi. Terbukti dengan peran pesantren yang ikut berkontribusi menjaga persatuan dan keutuhan NKRI. Kita sadari Indonesia merupakan negara yang beragam, ada banyak perbedaan didalamnya. Maka, sedari dulu, kini, dan nanti pesantren terus berteguh dengan ajaran islam yang Rahmatal Lil A’lamin, yakni yang memberikan nuansa keramahan dalam berdakwah serta tetap menjaga persatuan dan kesatuan NKRI.

Berdasarkan catatan Kementerian  Agama Indonesia, sampai tahun 2020 terdapat belasan juta santri dan puluhan ribu pesantren berdiri diseluruh wilayah Indonesia. Menteri Agama Fachrul Razi menuturkan dengan detail, jumlah pesantren hingga tahun 2020 ini tercatat 28. 194 pesantren dengan 5 juta santri mukim. Jumlah yang besar tersebut membuktikan bahwa pesantren dipercaya sebagai lembaga yang unggul dalam mencetak kader penerus agama dan bangsa. Maka dari itu, tradisi meneguhkan jiwa kebangsaan atau  nasionalisme perlu terus ditanamkan oleh pesantren kepada para santrinya. Ini juga untuk menjaga marwah bahwa pesantren adalah bagian penting bagi NKRI. Jika dahulu semangat patriotisme muncul sebab harapan kemerdekaan, sekarang semangat itu bisa muncul dari keadaan NKRI yang terus mengalami ancaman perpecahan, apalagi sebab perbedaan kepercayaan. Pesantren harus hadir dalam progam perdamaian diatas keragamaan.

Integrasi interkoneksi antar pesantren

Kita tahu telah banyak pesantren yang berlomba-lomba memberikan nuansa pendidikan yang terkesan tidak ketinggalan zaman. Selain bentuk pendidikan yang sudah hadir dengan wajah yang bermacam-macam, banyak pesantren di nusantara yang juga memberikan progam khusus yang intinya juga untuk menghasilkan generasi penerus yang mampu menghadapi arus globalisasi.

Oleh karena itu, dalam esai ini penulis tidak hanya membahas tentang inovasi yang berorientasi pada pengembangan dan mempertahankan eksistensi pondok pesantren menghadapi arus globalisasi. Namun juga menekankan kesadaran kepada para pembaca yang akan arti sebuah produk kebijakan dan pengambilan langkah strategis agar kedepannya seluruh pesantren bersama melangkah untuk tujuan bersama, sehingga tidak timbul pandangan bahwa sesama pesantren justru hanya menuruti nafsu untuk bersaing menampilkan kepiawainnya masing masing, yang mana tidak menutup kemungkinan akan muncul adanya stratifikasi sosial dalam dunia pesantren itu sendiri. Salah satu bentuk ketika pesantren mempunyai ambisi yang keluar dari koridor nilai keislaman adalah mau atau bahkan tidak sadar saat dijadikannya sebagai alat propaganda dalam politik.

Ada sebuah jurnal yang membahas tentang keterkaitannya pesantren dengan politik praktis. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa fenomena pesantren yang terjun dalam politik terdapat dua pandangan yang bertolak belakang. Antara pendapat yang menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dan pendapat yang mengkritiknya sebab pengingkaran terhadap fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang seharusnya selalu menjaga independensi dan posisi politik. Pendapat pertama mengasumsikan bahwa pesantren bagaimanapun juga merupakan entitas yang memiliki hak dan aspirasi politik sebagaimana warga negara lain. Mereka didukung oleh argumentasi teologis bagaimana dan mengapa praktik politik praktis dipilih. Pendapat ini semakin kokoh apalagi disokong realitas semakin banyak pemimpin pesantren (kiai) yang terjun dalam dunia politik langsung maupun tidak.

Pendapat kedua mengkritik bahwa keterlibatan pesantren dalam dunia politik lebih banyak mendatangkan bahaya daripada manfaat. Hal ini mengacu pada realitas politik yang sering dianggap “kotor”. Karena itu, bagaimanapun baik dan kokoh landasan serta argumentasi Kontekstualita, pesantren yang terlibat politik akan terseret ke dalam dunia yang “kotor” pula. Sebagaimana yang terjadi di Pondok Pesantren AlMunawwir, Krapyak, Yogyakarta, keterlibatan pesantren dalam politik praktis bukan saja berdampak pada eksistensi pesantren, namun juga berakibat bagi masyarakat yang selama ini menjadikan pesantren sebagai sumber rujukan keagamaan. (Kontekstualita, Vol. 25, No. 2, 2010)

Maka kedepannya pesantren diharapkan mampu kembali memahami dan merenenungi fungsi dan tujuannya. Jangan sampai pesantren dijadikan alat propaganda dan akhirnya menafikan nilai utamanya. Perlu adanya integrasi-interkoneksi antar pesantren sebagai upaya untuk  menyelaraskan langkah bersama dan kembali menyatukan tekad, misalnya dalam bentuk musyawarah nasional. Hingga pada akhirnya harapan besar pesantren dalam menjawab tantangan globalisasi bisa terrealisasikan bersama melalui saling gotong royongnya antar berbagai pesantren.

Globalisasi memuat dampak positif dan negatif, tergantung cara menyikapinya. Pesantren sebagai entitas keagaaman harus turut mengimbangi perkembangan zaman. Melalui berbagai bentuk inovasi, pesantren harus selalu giat berjuang menampilkan islam dalam bingkai yang semestinya. Pun pesantren juga harus mampu melestarikan tradisinya sendiri. Integrasi-interkoneksi itulah yang akan membawa pesantren semakin maju, dan mampu menghadapi tantangan arus globalisasi.

Oleh: Ahmad Syifa’un Na’im (Santri Pondok Pesantren Abu Dzarrin Al Ridlwan)

Digiqole ad

admin

Related post