Tidak Tau Nama Rois Syuriah? Jangan Luntur Tergerus Zaman

Yasin Yusuf Sampaikan Pesan di Makesta Ranting Cepoko

Awal bagus dari program kerja Pimpinan Ranting Desa Cepoko gelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), di MI Darul Muta’allimin Cepoko. Kegiatan ini sekaligus menjadi agenda kaderisasi pertama, bagi Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU IPPNU Kecamatan Berbek, pasca Konferancab ke X Desember lalu.

Antusiasme luar biasa peserta Makesta di Ranting Cepoko ini terlihat dari total peserta hadir yang tidak lagi muat di ruang kelas, sehingga panitia mengalihkan semua peserta untuk menjalani Makesta dengan konsep out door class di bawah tenda.

Yasin Yusuf direktur LKPT PC IPNU Nganjuk berkesempatan hadir pada Makesta kali ini, sekaligus mendapat tugas mengisi pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Desa Cepoko. Beberapa pesan dia sampaikan terkait tantangan eksistensi Kader IPNU IPPNU.

“Bahwa ada 3 hal yang menjadi PR besar bagi kader IPNU IPPNU, karena dampak zaman di era 4.0.”, ungkap Rekan Yasin saat isi sambutan pada Minggu (05/01) pagi.

Pertama, Lunturnya semangat menjalin silaturahim. Sebab, menjadi penting agar kader-kader IPNU IPPNU tidak kehilangan jati dirinya sebagai seorang santri, yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketawadhu’an kepada semua orang, terlebih kepada para Kyai dan ulama’ NU.

“Kerap saya jumpai kader-kader kita, bahkan pengurus yang menjabat posisi strategis tidak kenal siapa Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah Ranting NU di tempat dia berada.”, kata pemuda yang pernah menjabat Ketua Ranting IPNU Desa Sanan.

Yasin yang pernah menjabat Wakil Ketua Bidang Dakwah PAC IPNU Kecamatan Pace juga menyoroti, terkait lunturnya semangat literasi bersanad dan keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Kebanyakan pemuda, sudah tak bisa mengelak dampak terbesar perkembangan teknologi, salah satunya adalah kehilangan sanad. Kebanyakan pemuda ingin yang praktis dan cepat tak perlu lagi kesana kemari ngaji membawa buku.

“Ciri santri NU adalah mempunyai bidang keilmuan yang sanadnya jelas, dan dapat di pertanggung jawabkan.”, tegasnya.

Terakhir, rasa bangga pada organisasi. Agar kader tidak sampai terlena dengan kemegahan organisasi. Karena kebanyakan kader yang sudah merasa malu organisasi, apalagi kader yang mulai ogah bersosialisasi dengan masyarakat, menganggap bahwa lingkungan sekitar tidak lagi sesuai dengan pemikirannya.

Menurut Yasin, padahal cita-cita KH Tholhah Mansyur pendiri IPNU adalah mencetak kader yang berilmu yang dekat dengan Masyarakat, bukan kader yang ekslusif berkasta elit.

“Jadi mulai sekarang pemikiran-pemikiran kader jangan hanya memikirkan keintelektualitasan diri tapi harus berorientasi nyata dan terasa kehadirannya di tengah-tengah masyarakat. Sehingga Masyarakat akan percaya bahwa IPNU IPPNU adalah organisasi yang baik dan bermanfaat.”, jelasnya.

Pada kesempatan itu pula, Wakil Ketua MWC NU Berbek Kyai Hanif Kamaluddin menegaskan agar kader-kader IPNU IPPNU semakin bermasyarakat.

“Bukan hanya untuk manut grubyuk, bukan untuk trendy, bukan juga untuk gengsi-gengsian biar keren,”, dawuh beliau.

Kaderisasi IPNU IPPNU bertujuan untuk meneruskan perjuangan para pendiri NU, dalam berdakwah mengembangkan Paham ahlussunah wal jamaah. Sehingga menjadikan Islam ini adalah Islam yang rahmatan Lil Alamin, bisa menjaga NKRI. Selanjutnya harapan kedepan dari Makesta ini, menjadi pemantik ranting-ranting lain yang ada di Kecamatan Berbek.(tuh)

Editor: Moh. Maftuhul Khoir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *