Tabir Dibalik Sya’ir

 “Ayo sedulur, Jo nglale ake
Wajib e ngaji sak pranatane
Nggo ngandelake Iman Tauhid e
Baguse sangu, Mulyo matine.”

            Cuplikan seruan syair hasil pemikiran Presiden ke-4 sekaligus ulama’ besar NU di Indonesia beliau KH Abdurrahman Wakhid/Gus Dur, berkumandang di Masjid depan Akademi Militer itu mengingatkanku pada 12 tahun silam saat aku nyantri pada sebuah Pesantren di Nganjuk.  Kyai yang dengan sabar dan tabah selalu mendo’akan santri pengikutnya disetiap sepertiga malam dengan tahajud. Tak bosan untuk memberi wejangan dengan kata-kata halusnya.

            “Inggih Yai”. Hanya itu ucapan yang menjadikan kami Tawadlu’ kepada beliau. Dan dengan rasa bangga kami semua takjub kepada beliau. Setelah jama’ah Maghrib beliau selalu berpesan kepada kami.”Kalau ingin akhirmu Mulia maka mulailah bekal yang kuat dengan Iman mulai dari sekarang”, sembari beliau menunjuk kearahku dan santri yang lain.

            Kata-kata itu sudah sering diucapkan beliau kepada santri-santri pesantren untuk mendorong semangat hidup yang luar biasa. Akan tetapi, penyakit beliau kian datang silih berganti tak ada hentinya, kami sebagai santri seolah tak sedikit pun mengucapkan sebaku kata yang keluar dari mulut dan tak tau yang Allah rencanakan kepada beliau.

            Terlihat sepi suasana menyelimuti langgar kecil yang berada disebelah barat Pesantren ku, tak ada lagi santri yang berani mengucapkan satu kata pun dari mulut nya ”Apa kita disini semua harus Tawadlu’ pada guru?”, gumam Kang Ikrom dengan wajah menggigil. Terdengar dari kejauhan suara lantang menghujat ”Nikmati aja Kang !, Jalani, terus Lakukan apa yang didawuhkan Romo Yai!” ujarnya memerintah.

            “Tapi tak semudah itu, dengan keadaan ku sebagai santri yang setiap hari ku bergelut dengan tanah sawah dan kandang kambing milik Romo”. lantangku menjawabnya.

            “Semua itu kan juga butuh proses, Aku yakin kamu pasti dapat barokah dari beliau”. sontak ucap kepedulian Kang Arifin padaku.

            “Iya Iyaa Percaya, tapi itu lama dan aku sudah banyak mengeluh meninggalkan  pengajian yang sudah ku terlewatkan karena harus berpacu dengan sawah”. bantahku

            Keesokan harinya masih tetap dengan fajar menyingsing itu, segeralah ku ambil cangkul dan masker kecil dari sisa kaos yang tak dipakai untuk menutupi hidung ku dari aroma kotoran kambing yang akan aku ambil dari kandang. “Kang Ali mau kemana?” tanya santri baru setengah windu itu padaku.”Ini mau ke kandang Romo Yai untuk mengangkut kotoran kambing yang akan digunakan sebagai kompos disawah nantinya”. jawabku.

            “Ooo iya ya, kok pagi membuta banget Kang?”tanyanya.

            “Ya nanti pagi kan masih bisa mengikuti pengajian walaupun ya dapat seperempat halaman”. dengan nada tinggi.

            Berjalanlah agak cepat aku menuju ke kandang dahulu guna mengambil kompos kemudian semua aku bawa menggunakan gerobak yang Romo Yai miliki. ”Ayoo Kang cepat ! pengajian sudah hampir dimulai lo”. Ucapnya Kang Jemblung. “Iyaa masih lama dan ini juga belum ku turunkan di ladang sawah”. balasanku dengan nada semakin tinggi.

            “Enak ya ngomong cepat, ngomong istirahat”. rintihan dalam hatiku berkata. Tapi semua itu hanyalah aku seorang yang melaksanakan dan tidak satupun santri bahkan tidak ada utusan sama sekali dari Romo Yai. “Kenapa harus aku, Bisa apa aku?”. sambil ku arahkan cangkul mengenai kompos denganku berteriak.

            Memang sayup sepi di area sawah, bukannya tidak ada orang tetapi emang aku seorang diri yang hanya mengantarkan kompos sampai kesawah.

            Pukul 8 pagi mengantarkanku bersama dengan sisa kompos dan gerobak untuk kembali pesantren dan mengikut kegiatan mengaji seperti yang lain. Tapi apa ? Kedatanganku hanyalah sebagai bahan gunjingan. Mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan.”Telat terusss”. ucap serasa didekat gendang telingaku.

            Aku hanya menunduk malu dengan gunjingan yang kuat itu, membius sampai dalam batinku yang terang menjadi gelap seketika, Tapi semua itu kan atas perintah Romo Yai. Kenapa aku harus malu, harusnya aku malah bangga dengan diriku tetapi itu tidak terjadi padaku. Aku yang hanya polosnya terlalu mengikuti perintah Romo Yai dengan meninggalkan banyak Bab Pengajian yang tersampaikan.

            Adzan Dhuhur telah berkumandang dan jama’ah pun sudah dilakukan. Entah apa yang ada dibenak hati Romo Yai, tiba-tiba beliau memanggilku empat mata dan beranjak ke Ndalem (sebutan untuk tempat Kyai tinggal).

            “Coo Konco !!!” tanpa memanggil Nama asliku Ali beliau lebih segan menyebut semua santrinya dengan sebutan Konco. “Inggih Yai, ada apa?” sambilku menundukkan kepala. “Saya lihat dari batinmu kamu sering mengeluh disini ya? Apa kepingin pulang kerja saja?.” pertanyaan nya terbidik pada isi hatiku yang kemarin malam ku curhatkan dengan santri lain. Dengan tubuh Romo Yai yang semakin menjadi berbeda hanya dengan 4 hari yang lalu karena penyakitnya yang semakin berdatangan.

            Hanya langit yang dapat berbicara menjawab semua isi hati yang sama terhadap Kyai sepuh ku. Semua seolah-olah terkunci tanpa ada kesadaran yang mengikat batin ku dengan beliau.”Sebenarnya nggih begitu Yai, aku sudah ingin meneruskan pengabdian bapak ku yang hampir pensiun disana”. rintihanku kepada beliau, “Tenang ae ,,coo ! Mencari ilmu itu juga lama waktunya, Tapi saya yakin ngaji mu tidak kalah dengan Tekun dan Iman mu yang kuat di Pesantren sini”. dawuhnya sambil tersenyum.

            “Saya kira dengan mu yang setiap pagi ke kandang terus sampai kesawah itu sudah cukup kalau di pesantren menurut saya.”. canda beliau menghadap kearahku. “Ooo Inggih Yai,” dalam hati ku tegas menjawabnya.”Terserah setelah ini kamu mau langsung nyeleksi di Akademi Militer atau masih tetap disini dengan keyakinanmu yang kuat bahwa ilmu barokah itu sebab muncul karena Tawadlu’ kepada guru”.

            “Inggih Yai, sampai kapanpun aku disini Insyaallah tetap kuat dan sabar, nanti juga waktunya pasti kepanggil untuk menjadi seorang Angkatan Laut.” ucapku dengan bangga.

            “Aminn”. romo yai mengamini.

            “Sebaik-baik bekal mati itu adalah ketika kamu sudah Yakin terhadap Ketauhidan Allah SWT, dan membawa nama Allah SWT disaat sakaratul maut mu.” Ujar beliau mengingatkan ku tentang hal itu lagi.

 “Sebut saja Gus Dur, beliau tidak terlalu mementingkan dunia pada saat itu, dan tidak banyak orang yang memuliakan beliau karena belum tau sejatinya Gus Dur itu siapa?. sedikit motivasi nya kepadaku. Kemudian “Tapi lihat ! setelah Gus Dur meninggalkan dunia seolah makam nya tidak pernah sepi pesiarah”.

“Itulah cerita kecil dari tokoh yang disegani banyak masyarakat karena dahulunya beliau tidak terlalu mementingkan hal dunia”.

            “Inggih Yai.”

            Sudah penuh bangga saat Romo Yai mendongeng kepada ku, semua motivasi untukku dapat masuk seleksi ke Akademi Militer terasa semakin sangat terkontrol.

            Pagi demi pagi sampai berhari-hari bahkan bertahun-tahun aku dapat menjalani di Pesantren dengan Tabah dan Sabar. Dan tidak pernah lupa akan posisiku sebagai Santri pegabdi di Sawah dan Kandang. Semua kegiatan kosong yang aku tidak ikuti bukan suatu masalah besar, karena aku dapat menggantinya walau tidak dengan Ustadz yang mengajariku diwaktu pagi dan sore melainkan dengan temanku sendiri diwaktu 10 malam yang sunyi.

            8 tahun berlalu ku jalani di Pesantren dengan beberapa Ilmu agama yang kutujukan hanya untuk mencapai Iman tauhid sebagai modal saat ku Mati nantinya. Dari sekian tahun itu akhirnya Romo Yai meridhoi semuanya untuk aku menjadi seorang Perwira di Akademi Militer yang hanya dari sebatas Santri Pengabdi.

Dengan keyakinan teguh dan semangat ku dari wejangan yang semua diberikan oleh beliau. Berangkatlah pada hari itu juga aku mengikuti seleksi tes masuk Akademi Militer di Surabaya. Do’a, Niat, dan Usaha menyertai keberangkatanku yang hanya dengan diantar pickup si Pemilik Warpon (warung pondok) Pesantren waktu itu.

“Sudah sampai kang!.” ucap sopir pickup sambil membangunkan ku.”Oooo, Iya Terima kasih Pak, telah mengantarkan ku sampai kesini”. jawabku

“Ayo masuk,!!!! Ayo masuk !!!! Tes segera dimulai.”. suruhnya salah seorang Panitia di Akademi itu kepada ku. Selangkah pertama aku masuk pada aula yang mewah diiringi dengan keyakinan serta do’a dari Romo Yai.

Goresan Pena ku seakan bukan aku yang menggerakkan, Semua tak sadar bisa sampai seperti ini. Setelah menunggu 6 jam pengumuman kelulusan disampaikan. “Oke teman-teman Peserta tes, silahkan kalian lihat di Mading sebelah Kantor Unit Akademi dan lihat sekitar 4.700 kita terima disini.” Kata yang kudengar dari salah satu Panitia tes.

“Haaa,, itu namaku?.” Ucapku tak menyangka. Namaku tercantum dari 10.200 peserta yang hadir dan aku berada pada nomor 50 besar. Hanya perasaan bahagia menyertai air mata yang menetes sepercik didepan Kantor Unit itu.

“Aku ingin telepon Romo Yai,pak!.” suruhku kepada sopir pickup. Beliau menjawab dengan air mata.”Maaf kang, Romo Yai sudah pergi jauh disana selamanya  dihadapan Allah SWT tadi sore”. “Apaaa???”. “Pergi gimana ?”, “Iyaa pergi kang, sudah pergi disana”. “Sudah meninggal maksutnya??”. kata ku sambil tak percaya.”Iyaa Kang, dengan penyakit yang sudah lama beliau alami semasa ini, Allah lebih suka kalau Romo Yai melihat kesuksesanmu disana”.

Ini bukan mimpi semenjak beliau meninggalkan ku disaat kesuksesan datang menghampiri ku dengan semua do’a yang beliau panjatkan kepadaku.

Setiap 2 bulan sekali aku selalu datang ke Pesantren dan tak lupa dengan makam beliau disebelah barat masjid pesantren.

Kini aku bisa merasakan dari harapan yang kelam dan mustahil berubah menjadi realita yang tak kunjung usai dari sebuah awal nilai ke-tawadlu’an kepada Sang Guru. Terima Kasih Guruku.

Penulis: Ali Khozim
(Siswa MAN 2 Nganjuk, Juara 1 MAPK Fair 2019 se-Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *