Syekh Sulukhi dan Asal Nama Wilangan

 Syekh Sulukhi dan Asal Nama Wilangan

Syekh Sulukhi yang bernama asli Dewo Agung Pranoto Kusumo adalah ulama pribumi dari keturunan dari kerajaan Majapahit. Beliau seorang putra dari Raja Brawijaya V yaitu Dyah Ranawijaya (berkuasa 1478-1527). Syekh sulukhi mempunyai nama kecil Suryo Kusumo ini, masih saudara dengan Raden Patah (Sultan Demak). Dewo Agung Pranoto Kusumo atau yang dikenal dengan nama Syekh Sulukhi pernah menjabat sebagai Bupati Mbarat, yang sekarang bernama kecamatan purwodadi salah satu kecamatan di Magetan.

Ketika pembangunan masjid Agung Demak yang merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut Walisongo akan dimulai, beliau diberi tugas khusus bersama Temenggung Singo Lawean, Demang Sukaten , Abdul Sa’i, Yusak dan Jalal Abdulsari untuk mencari perbekalan (material) guna mendukung kegiatan pembangunan Masjid Agung tersebut sekaligus untuk berdakwah agama islam.

Dalam melaksanakan pengabdiannya menyuplai perbekalan untuk pembangunan Masjid yang dibangun Kerajaan Demak tersebut, Syekh Sulukhi menjalaninya dengan lampah sulukh yang merupakan makna dari menempuh jalan untuk menuju Allah, maka dari itu wajar saja apabila penderek (pengikut/santrinya) sering menyebut beliau dengan Syekh Sulukhi.

Di sisi lain disebelah sungai yang berada persis di sebelah barat makam Syekh Sulukhi inilah yang konon dipergunakan oleh Syekh Sulukhi sebagai media dan sarana untuk mengirimkan perbekalan-perbekalan yang telah beliau dapatkan untuk dikirim ke Raja Demak. Perbekalan yang beliau kirim untuk pembangunan Masjid Demak itu tak terbatas jumlahnya, hingga berlipat-lipat. Dalam bahasa jawa disebut ”Wilangan” (tiada batas jumlah bilangannya). Maka tak ayal dikemudian hari, jadilah desa ini menjadi desa Wilangan.

Ada versi lain yang menyebut bahwa saat Syekh Sulukhi mencari bambu di daerah itu ada banyak sekali jumlahnya, yang dalam bahasa jawa , jumlah artinya “Wilangan”, lalu daerah itu dinamakan Wilangan. Setelah lama mengabdi, disaat Syekh Sulukhi mendekati usia lanjut, beliau berwasiat “Bila saatnya kelak aku memenuhi panggilan Allahu Robbi, maka kebumikanlah diriku di timur sungai pintanya.

Tak lama berselang, beliau memenuhi panggilan-Nya. Rupanya, keluarga dan para santri beliau tidak bisa melaksanakan wasiat Syekh Sulukhi yang minta dikubur di timurnya sungai. Dikarenakan mereka semua bermukim di sebelah barat sungai.Kemudian dikebumikanlah Syekh Sulukhi ini oleh kerabat dan pendereknya di sebelah barat sungai tersebut. 

Beberapa hari setelah penguburan itu, suatu karomah yang luar biasa ditampakkan oleh Allah kepada masyarakat saat itu. Sungai yang sebelumnya mengalir di timur makam tersebut akhirnya melintas di sebelah baratnya makam Syekh Sulukhi, maka dengan sendirinya makam Syekh Sulukhi pun berada di timur sungai sesuai dengan wasiat yang telah beliau pesankan.

Dengan begitu, makam tersebut ke Wilayah desa Wilangan, Kecamatan Wilangan, Kab. Nganjuk bukan berada di wilayah desa Caruban Kab. Madiun karena sungai tersebut merupakan pembatas dua wilayah tersebut. Sekarang kita bisa mengunjungi Makam Syekh Sulukhi yang berada di sebelah timur aliran sungai yang menjadi batas antara Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Madiun.

Oleh: Merdian Yozima Sugeng Abrianto

Digiqole ad

admin

Related post