Songsong HSN 2019, Pendekar NU Nganjuk gelar Pencak Dor

Ratusan pendekar dari berbagai penjuru di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Minggu (06/10) hadir untuk menyaksikan Pencak Dor yang diselenggarakan di padepokan Pimpinan Ranting (PR) Pagar Nusa tepatnya Dukuh Ngrandu Desa Putren, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk.

Selain agenda rutin setiap triwulan sekali, kegiatan tersebut juga dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2019.

Acara tersebut diprakarsai oleh Kang Bambang berserta para pendekar Pagar Nusa di wilayah Sukomoro.

Untuk diketahui, Pencak Dor adalah seni pertandingan beladiri yang lahir dilingkungan pesantren dan digagas oleh KH Maksum Jauhari (Gus Maksum), pendiri GASMI dan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa. Ajang sejenis tarung bebas ini diinisiasi dari keresahan Gus Maksum atas fenomena tawuran.

Meski tarung bebas, namu keselamatan tetap diutamakan. Untuk menjaga keselamatan para peserta, setiap pertandingan dikawal empat orang wasit yang ditunjuk oleh Pimpinan Cabang Pagar Nusa. Tugas mereka adalah melerai mereka yang bertanding jika kondisi tak memungkinkan untuk dilanjutkan pertarungan.

Para wasit yang ditunjuk benar-benar terlatih dan mempunyai kemampuan lebih, sebab yang mereka wasiti bertarung bebas mengeluarkan jurus yang dimiliki, mulai dari pencak, tinju , karate hingga judo. Para pendekar menggunakan keahlian bela diri masing-masing untuk menjatuhkan lawan.

Sementara itu, Wakil Ketua Pagar Nusa Cabang Nganjuk menjelaskan bahwa tujuan dilaksanakan acara tersebut adalah untuk melestarikan budaya yang dibawa oleh para Ulama NU.

“Agenda ini sebagai wadah untuk memupuk generasi muda NU khususnya yang bergerak dibidang pencak silat untuk merawat budaya turun-temurun yang dikaryakan oleh ulama kita,” ungkap Kang Udin saat ditemui di sela-sela acara.

Lebih lanjut, Kang Udin berharap kepasa Pemerintah Daerah untuk lebih memperhatikan kegiatan seperti Pencak Dor.

“Dengan event seperti ini semoga pemerintah daerah lebih memandang dan peduli kepada kami, karena ini adalah aset bangsa, budaya bangsa yang harus dijaga dan darawat agar tidak tergerus oleh budaya luar. Mudah-mudahan karya bakti dari anak muda ini bisa menjadi amal bakti untuk bangsa dan negeri ini,” tandasnya.

Kontributor : Zainul
Editor : Haafidh Yusuf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *