Cancel Preloader

Seruak Catatan Hari Santri Nasional

Oleh: Ali Anwar Mhd
27 Oktober 2020

Hari ini, angka tanggal sudah berposisi di deretan minggu terakhir di bulan Oktober. Gegap gempita perayaan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di berbagai tempat sudah mulai terasa usai.

Sebelumnya, mulai terasa menggeliat bangkit semangat di awal bulan Oktober, yang sakralnya di tanggal 22 Oktober sebagai tanggal hari H nya peringatan berdasarkan keputusan pemerintah terkait HSN.

Saya sendiri terlibat sebagai koordinator pelaksanaan HSN di kabupaten Nganjuk bersama teman-teman di tahun ini.

Di tahun sebelumnya, di dua peringatan HSN, saya sebagai sub koordinator kegiatan seminar kebangsaan santri. Sub kegiatan tersebut saya jalani dengan ukuran menurut saya berhasil. Sekitar 150-200 peserta yang hadir dari berbagai kalangan saat acara. Terbanyak anak-anak muda NU dari kalangan mahasiswa.

Kegiatan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Karena tahun ini bersamaan dengan masa pandemi Covid 19.

Untuk itu langkah yang diambil saat rapat panitia bersama dengan pemerintah daerah kabupaten Nganjuk melalui Kesra memutuskan mengadakan lomba diawali melalui virtual.

Ada 6 yang dilombakan, yaitu pidato untuk SDI/MI, Tahlil untuk SMP/MTs, LKTI untuk SMA sederajat dan Pesantren/PT, rebana/Hadrah dan meme hari santri untuk umum, membaca kitab kuning untuk santri pesantren.

Kegiatan perlombaan berjalan dengan waktu yang tidak panjang. Mulai pengumuman, sosialisasi, proses, penjurian, dan final semua lomba membutuhkan waktu selama tiga Minggu.

Lomba dilakukan dengan pengiriman video sesuai jenis lomba yang diikuti. Baru saat proses final dengan cara peserta 3 besar hadir dengan tatap muka.

Lomba model ini sangat efektif. Peserta tidak terlalu ribet harus hadir di suatu lokasi sejak awal. Tapi cukup melakukan perekaman video yang akan dikirim, dan baru datang saat memasuki babak final.

Peserta yang datang ke babak final semua adalah peserta yang sudah dipastikan menjadi juara. Hanya posisi juara 1, 2, 3 saja yang harus dicari. Sehingga yang hadir untuk mengikuti babak final mereka pasti sudah ada rasa bangga sebagai calon juara. Semangat kedatanganya sudah membawa aura juara.

Luar biasa menurut saya, karena peserta yang berpartisipasi jika dihitung secara individu mencapai ribuan. Lomba membaca kitab kuning berdasarkan laporan panitia mencapai 200 peserta. Group rebana/hadrah mencapai hampir 80 group yang mendaftar (setiap group terdiri dari 15 orang), lomba tahlil perkelompok terdiri 5 siswa/santri, juga lomba lainnya yang sampai sekitar hampir ratusan peserta.

Di samping kegiatan lomba-lomba, ada acara inti pemerintah yaitu upacara bendera pada tanggal 22 Oktober, tanggal penetapan hari santri. Dalam upacara diikuti berbagai elemen santri, terutama sebagai motor penggeraknya adalah Nahdhatul Ulama Nganjuk.

Inspektur upacara langsung Bupati Nganjuk sendiri, yang juga diikuti Forpimkab, OPD, tokoh ulama, kiai, para santri dan lainnya sebagai peserta upacara. Semua bersarung. Sedang yang menjadi petugas adalah Banser.

Juga yang tidak kalah serunya adalah kegiatan malam puncak tasyakuran HSN di Pendopo Kabupaten, yang mendatangkan Dai Nusantara, yaitu Gus Muwaffiq dari Jogjakarta.

Yang dalam rangkai acara ada pengumuman dan pembagian hadiah lomba-lomba HSN, drama laskar santri, pembacaan ayat suci Alquran, tahlil, lagu Indonesia raya, lagu hari santri, subbanul Wathon, pemotongan tumpeng, sambutan tokoh santri, dan pengajian malam puncak tasyakuran, dan doa.

Acara dihadiri Forpimda, para tokoh ulama, kyai, santri, dan para juara lomba. Dan acara disiarkan secara online yang diikuti oleh seluruh kecamatan yang diselenggarakan di pendopo yang diikuti Forpincam bersama para pengurus NU di tingkat kecamatan.

Kegiatan hari santri bukan hanya itu saja, hal yang saya jalani adalah mengkoordinir yang ada ditingkat kabupaten, yang terformalkan melalui pemerintah, dan masih banyak lagi kegiatan yang di luar formal pemerintah.

Kegiatan di luar pemerintah dilaksanakan oleh seluruh MWC NU se kabupaten Nganjuk, bahkan sampai ranting-ranting NU. Kegiatan mulai dari perlombaan sampai acara tasyakuran di MWC NU masing-masing, dan dilakukan secara mandiri.

Kegiatan peringatan hari santri nampaknya semakin tahun semakin semarak. Melihat perkembangan awal di kabupaten Nganjuk. Setelah di sahkan tanggal 22 Oktober 2015 sebagai hari santri nasional, tahun berikut baru menyelenggarakan peringatan masih dengan cara mandiri dan terbatas. Di tahun berikutnya sudah mulai banyak terlibat terutama pemerintah daerah melalui anggaran negara dan pemerintah yang menjalankan peringatan hari santri tersebut.

Hal demikian terus berjalan sampai sekarang.

Peringatan di masa pandemi ini tentu membawa berkah tersendiri, karena akhirnya menemukan pola dan metode baru untuk melakukan kegiatan, yaitu kegiatan berbasis IT. Hal inilah sesungguhnya sebagai ciri masyarakat modern. Artinya hari ini para santri sudah sampai pada titik perjalanan dengan pola baru tersebut. Walaupun kegiatan yang dilakukan adalah lomba membaca kitab kuning, yang identik dengan kegiatan identitas tradisional. Justru ini yang mampu melahirkan pola kolaborasi antara nilai tradisional dan pola metode modern.

Hari santri 2020 saya menyebutnya alhamdulillah sukses. Bukan karena saya sebagai koordinator. Tapi berkat kerjasama seluruh panitia kegiatan dan semua pihak tersebut mampu menggerakkan banyak orang yang terlibat sampai ribuan orang. Mulai dari peserta lomba disemua tingkatan, saat upacara, malam tasyakuran, baik langsung maupun tidak langsung ditengah kondisi pandemi. Dengan pendekatan pola virtual yang digunakan. Sehingga dengan melibatkan ribuan orang, namun tetap terjaga sesuai protokol Covid 19.

Yang terakhir, diperingatan HSN tahun ini, saya mengambil pola tidak ada istilah ketua panitia, tapi saya memilih dengan istilah koordinator panitia.

Di bawah koordinator utama (saya) ada 8 koordinator. 6 orang sebagai koordinator  lomba masing-masing, 1 orang menjadi koordinator upacara, dan 1 orang me jadi koordinator malam tasyakuran. Dibawah koordinator lomba, upacara, dan malam tasyakuran, ada sekitar 4-6 orang pembantu.

Dengan pola istilah tidak ketua panitia, tapi dengan istilah koordinator panitia, saya merasa lebih pada tataran dan tanggungjawab yang sederajat. Lebih mudah membangun partisipatif dan menggerakkan bersama. Dan saya berposisi hanya mengkomunikasi dan memfasilitasi semuanya.

Salam hari santri. Sampai berjumpa di tahun yang akan datang. Terimakasih kepada seluruh yang terlibat, baik panitia terutama semua koordinator, pengurus NU, para santri dan semuanya. Jika ada hal kurang kepada semuanya, kami beserta panitia mohon dimaafkan.

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *