Selain Beristighosah Dengan Khusyuk, Motivasi Sejarah Ulama’ NU di Berbek Juga Menarik

Berbek, 22 Oktober 2019

Khusyuk do’a istighosah malam Hari Santri Nasional (HSN) 2019 kian terasa di kantor MWC NU Berbek. Hadirnya Kyai Sony Sudiro mewakili sambutan dari PCNU Nganjuk kisahkan sejarah ulama’ NU di Berbek. Dalam kisahnya pada acara istighosah dan sholawat ISHARI hari Senin (21/10), mengungkap sejarah sejak era Kanjeng Djimat, pondok Poleng dan kisah Masjid Al-Mubarok yang digunakan untuk musyawarah para Kyai.

Kyai Sony Sudiro menyampaikan kisah perjuangan NU di Nganjuk, khususnya di Kecamatan Berbek. Bermula pada kisah Kanjeng Djimat dan para masyayikh dari luar Kabupaten Nganjuk yang menjadi pejuang keagamaan.

“Era penjajahan di Berbek ada Kanjeng Djimat, Bupati Nganjuk sekaligus besannya para kyai, masyayikh Cepoko dan Bendungan. Kemudian era pondok Poleng dan Mojoduwur, disana adalah masyayikh kita dari luar Nganjuk yang mendirikan kegiatan keagamaan di Nganjuk.”, jelasnya.

Lanjut kisah pria yang kini menjadi Sekcam Berbek, bergeser pada periode Mbah Hasyim yang juga masih pada masa penjajahan. Berlanjut pada kisah pondok poleng dan sekarputih yang menjadi tempat persembunyian ulama’ dari kejaran penjajah Belanda.

“Poleng dan Sekarputih adalah tempat persembunyian ayahanda Gus Dur. Pernah dicari Belanda bersembunyi di poleng, dicari lagi bersembunyi di Sekarputih. makanya saya sering ke poleng itu ingin menggugah ghiroh semangat perjuangan NU Nganjuk terutama di Berbek ”, tuturnya.

Sebagaimana gaya khas kyai NU dalam mengisi ceramah, Kyai Sony juga kerap mewarnai pesan moral pada ceramahnya dengan candaan-candaan renyah.

“Santri memperjuangkan kemerdekaan RI benar-benar ada. Di Nganjuk juga luar biasa. Mereka adalah perintis masa keemasan NU di Nganjuk, namun pada masa santri belum main HP.”, candanya.

Beralih masa Gus Dur berteman dengan Kyai Nganjuk, menurutnya telah banyak melakukan gerakan. Tidak ketinggalan pula ceritanya pada masa syuriah PCNU Nganjuk dahulu.

“Pada periode syuriah Mbah Yai Dalhar dan Mbah Yai Bahrudin itu sangat lurus memegang NU. Saya tau sendiri, luar biasa para kyai untuk mempertahankan Nganjuk dari dinamika kenegaraan.”.tegasnya.

Selain candaan renyah, tentu khas kyai NU tidak lupa melempar gojlokan pada sesama Kyai. Sembari menjelaskan kisah Masjid Al-Mubarok Berbek pada masa KH Qomaruddin dari Pondok Mangunsari, kali ini salah satu Mustasyar MWC NU yang digojlok.

“Kemudian di Al-Mubarok itu dulu tempat Mbah Yai Qomar Mangunsari adakan musyawaroh kyai setiap malam jum’at. Jadi dari sejarah NU Berbek kualitasnya luar biasa, apalagi saat zaman ayahnya Mbah Makki (Mbah Yai Toyib,red), dulu itu saat mbah Makki masih kondang main bolanya.”, candanya hangat pada K. Makki Musyafa.

Kyai Sony Sudiro menutup ceramahnya dengan mengajak untuk meningkatkan semangat keagamaan, baik di masyarakat maupun lembaga keagamaan.

Gelaran Istighosah dan sholawat hadrah ISHARI diikuti oleh segenap warga Nahdliyin Kecamatan Berbek. Hadir dalam acara tersebut musytasyar MWCNU Berbek KH. Dalhar Effendi dan K. Moh. Djamzuri Hadits. Hadir pula syuriah MWC NU Berbek K. Makki Musyafa’. Kantor MWC NU berbek pun penuh oleh jajaran Pengurus NU, Muslimat, Fatayat IPNU, IPPNU, Ansor dan Banser.

Sementara itu H. Moh. Rochani mewakili ketua Tanfidziyah KH Abbas Arfiyah yang berhalangan hadir. H. Rochani menyampaikan harapannya untuk meneruskan kekompakan antara pengurus NU dengan jajaran forpimcam Berbek.

“Menjadi kebanggaan karena forpimcam hadir semua. Maka dari itu semoga menjadi kekompakan yang baik dari pengurus NU dan pemerintah kecamatan. semoga terus terjaga kekompakan seperti ini. ”, ungkapnya.

Nurbinti Camat Berbek menyampaikan terimakasih pada panitia HSN 2019 di Kecamatan Berbek, karena panitia telah mengadakan berbagai kegiatan positif, mulai dari ziarah kubur ke makam pendiri NU di Jombang, pawai ta’aruf santri, Istighosah dan Sholawat ISHARI, serta apresiasi seni yang rencananya akan dilaksanakan di Pendopo Kecamatan Berbek. Selain itu, Camat Nurbinti juga menyatakan perkembangan positif pendidikan pesantren yang menurutnya semakin ngetren.

“Dulu kalau tidak sekolah di umum takut hidup tidak layak, takut tidak bisa mendapat pekerjaan. Namun sekarang justru banyak masyarakat bahkan para pegawai yang menaruh anaknya di pondok pesantren. Minat mondok masyarakat semakin ngetren dan Insyallah tidak rugi.”, tegasnya.

Pembacaan do’a istighosah berjalan khusyuk. Musytasyar MWCNU Berbek K. Moh Djamzuri memimpin pembacaan istighosah, lalu ditutup dengan do’a oleh KH. Dalhar Efendi.(tuh)

Redaktur/Editor: Moh. Maftuhul Khoir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *