Cancel Preloader

Satu Paket Perjuangan

Aktualisasi Pemuda Menjaga Kemerdekaan Bangsa

Penulis : Dwiana Nurfitrianingrum, S.Pd (Sekretaris PC IPPNU Nganjuk)

Bulan Oktober tampaknya menjadi bulan istimewa bagi bangsa Indonesia, khususnya kaum ‘Indonesia Muda’ yaitu pemuda, pelajar dan santri. Di penghujung bulan Oktober ini, dalam kurun waktu seminggu terdapat dua peristiwa besar dan bersejarah yang menjadi tonggak perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dua peristiwa itu adalah Hari Santri Nasional (22 Oktober) dan Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober), dimana dalam peristiwa ini pelajar, santri, dan kaum muda telah teraktualisasi diri menjadi aktor penggeraknya.

HARI SANTRI NASIONAL
Hari Santri Nasional yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh pahlawan nasional KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945. Seruan ini atau biasa disebut deklarasi maklumat Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU) berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca Proklamasi kemerdekaan. Sekutu ini maksudnya adalah Inggris sebagai pemenang perang dunia ke-II untuk mengambil alih tanah jajahan Jepang. Inilah resolusi yang sangat berpengaruh besar menuju kemerdekaan bangsa Indonesia pada waktu itu, terutama karena gerakan pemuda, khususnya kalangan para santri yang tersengat semangat nasionalisme mereka tanpa ragu turun untuk berjihad ikut melawan penjajahan Belanda.

SUMPAH PEMUDA
Merupakan salah satu momen penting dalam perjuangan Bangsa Indonesia menuju kemerdekaannya. Sumpah Pemuda bukanlah usaha pertama kali Bangsa Indonesia untuk mempersatukan keanekaragamannya, namun Sumpah Pemuda menjadi salah satu langkah penting Bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Salah satu momen pergerakan pemersatu bangsa Indonesia ini lahir tepat pada tanggal 28 Oktober 1928, yang berarti kini 92 tahun usianya. Proses terjadinya Sumpah Pemuda tidaklah mudah dengan proses sekali langsung jadi. Sumpah Pemuda adalah hasil dari dua kali pertemuan para pemuda Indonesia pada masa itu yang terlibat dalam Kongres Pemuda I (30 April 1926 – 2 Mei 1926, di Jakarta) dan Kongres Pemuda II (27 – 28 Oktober 1928, di Jakarta). Pada akhirnya dalam Kongres Pemuda II terciptalah Sumpah Pemuda. Dengan usia yang bukan lagi muda, semangat membara para pemuda Indonesia dalam Kongres Sumpah Pemuda I dan II pada masa itu juga ikut menua seiring perkembangan zaman, sehingga semangat persatuan pemuda-pemudi Indonesia yang bergelora pada masa itu tidak sampai kepada generasi berikutnya, terutama generasi milenial dimasa kini.

FLASH BACK PERJUANGAN SUMPAH PEMUDA
Proses terciptanya Sumpah Pemuda terjadi sangat panjang dengan mengerahkan tenaga, pikiran serta waktu yang tak cukup singkat, semua ini jerihpayah pemuda-pemuda Indonesia yang waktu itu berkeyakinan untuk bersatu dalam kebhinnekaan Indonesia. Akibat dari kesadaran akan sebangsa setanah-air serta mulai mengenal paham nasionalisme. Perkumpulan pemuda-pemuda yang paling terkenal dan sering diajarkan dalam buku Sejarah di sekolah adalah Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, dan Jong Ambon. Dalam buku-buku pelajaran Sejarah di sekolah lebih sering menyebutkan perkumpulan-perkumpulan atau organisasi pemuda yang berlatar belakang pada suku. Namun, faktanya ada juga perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi pemuda yang berlatar belakang pada agama/religius yang hadir dalam Kongres Pemuda I maupun II, seperti Jong Islamieten Bond juga perkumpulan pemuda-pemuda Katholik.

Kongres Pemuda I dilaksanakan di Jakarta pada 30 April 1926 – 2 Mei 1926. Kongres Pemuda I diketuai oleh Mohammad Tabrani, yang dihadiri oleh wakil-wakil dari perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun (perkumpulan pemuda-pemuda yang satu asal dari Tanah Sunda), Jong Islamieten Bond, Studerende Minahassers, Jong Bataks Bond dan Pemuda Kaum Theosofi. Tujuan utama kongres ini merupakan untuk membentuk dan membina perkumpulan-perkumpulan pemuda dalam ‘satu komando’, dengan maksud memajukan paham persatuan dan kebangsaan serta mempererat hubungan antar sesama perkumpulan pemuda kebangsaan.

Kongres Pemuda II dilaksanakan juga di Jakarta pada 27 – 28 Oktober 1928. Kongres Pemuda II diketuai oleh Sugondo Joyopuspito dan dihadiri sekitar 750 orang lebih. Kongres Pemuda II inilah yang melahirkan sumpah dikenal sebagai Sumpah Pemuda, dan dalam kongres ini terjadi sebuah peristiwa memorabilia, yaitu untuk pertama kalinya lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ dikumandangkan di depan khalayak umum, melalui alunan biola oleh sang pencipta lagu yaitu Wage Rudolf Supratman. Peristiwa pengumandangan lagu ‘Indonesia Raya’ pada masa itu sebenarnya cukup beresiko dan berbahaya, karena Kongres Pemuda II dijaga ketat oleh aparatur keamanan Pemerintahan Belanda yang sewaktu-waktu dapat membubarkan kongres. Namun dengan semangat persatuan dan kebangsaan yang begitu membara dikalangan pemuda-pemuda, mereka tidak kehabisan akal untuk tetap mengumandangkan ‘Indonesia Raya’ dalam Kongres Pemuda II dengan alunan biola tanpa menyanyikan syairnya, karena mereka menganggap menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’ adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap Pemerintahan Belanda. Dalam lirik dan alunan lagu ‘Indonesia Raya’ memiliki energi ajaib, yang mampu membangkitkan semangat persatuan dan kebangsaan. Sehingga mampu meleburkan perbedaan suku, ras dan agama untuk menjandi satu menuju Kejayaan Indonesia pada Kongres Pemuda II.

Hal yang menarik mengenai imbas dari lahirnya Sumpah Pemuda adalah lahirnya Kongres Perempuan Indonesia pada 22 – 25 Desember 1928, di Jogjakarta. Tujuan kongres ini lahir bukan untuk menyaingi kongres para pemuda yang sudah menghasilkan Sumpah Pemuda, justru untuk semakin menguatkan kekuatan dari Sumpah Pemuda yang diciptakan dan dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh para pemuda dalam Kongres Pemuda II. Kongres Perempuan Indonesia menyuarakan tentang kesetaraan serta kesejahteraan wanita muda dan kaumnya pada waktu itu. Akhirnya peristiwa ini dikenang setiap pada tanggal 22 Desember, sebagai Hari Ibu.

REFLEKSI PEMUDA YANG BERJIWA SANTRI MENJAGA NKRI
Sejarah telah mencatat, peran pemuda dan pelajar serta santri di masa penjajahan sangatlah besar untuk tercapainya kemerdekaan. Keinginan mencapai persatuan dan kesatuan telah mengubah model perlawanan terhadap penjajahan, jika sebelumnya perlawanan terhadap penjajahan harus dilakukan dengan mengangkat senjata dan menaruhkan darah dan nyawa yang terbilang banyak. Begitu juga dengan santri, meski sebelumnya, diakhir abad ke-19 kelompok santri lebih banyak mengangkat senjata untuk melawan imperialisme seperti yang dilakukan oleh kaum Paderi di Minang yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol atau Pangeran Diponegoro di Surakarta, perlahan mulai mengubah strategi perlawanannya. Mereka (para pemuda, pelajar dan juga santri) telah mengubahnya menggunakan gaya diplomasi dan kooperatif dengan tidak meninggalkan akhlak mulia dan semangat nasionalismenya.

Dewasa ini kondisi Indonesia yang ‘katanya’ telah Merdeka mulai patut dikhawatirkan. Konsistensi serta keberhasilan para pemuda milenial atau ‘Indonesia Muda’ masa kini dirasa meragukan untuk tetap menyalakan obor semangat persatuan dan kebangsaan para pemuda dalam hasil Kongres Pemuda II dan jiwa nasionalisme santri. Kita akan secara mudah berkata bahwa “Semua ini akibat perkembangan zaman, digitalisasi, modernisasi, dsb yang terus menerus menggerus identitas sebuah bangsa, utamanya Bangsa Indonesia.” Tetapi semua itu pasti ada banyak faktor yang menyebabkan semangat ‘Indonesia Muda’ menjadi redup.

Kekhawatirannya sekarang adalah “Apakah semangat Hari Santri dan Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak sejarah persatuan Bangsa Indonesia akan tetap menggelora atau punah di kemudian hari dan hanya akan menjadi dongeng bagi generasi Bangsa Indonesia dimasa depan?” Kita kadang secara ‘serampangan’ mengatakan, masa modernis/ millennial adalah faktor utama dari meredupnya semangat para pemuda, pelajar hingga santri. Tetapi tidak seharusnya menyalahkan secara penuh masa ini sebagai penyebab meredupnya semangat Hari Santri dan Sumpah Pemuda. Ada banyak faktor yang saling berkaitan dan saling memengaruhi satu sama lain sehingga membuat pemuda, pelajar dan santri menjadi redup diakhir-akhir ini:

  1. Pertama, hilangnya minat para ‘Indonesia Muda’ akan pelajaran Sejarah. Belajar sejarah berarti belajar tentang segala hal dari masa lalu, salah satunya adalah peristiwa. Dari peristiwa masa lalu itu, akan mulai terbentuk sebuah identitas suatu objek (dalam hal ini adalah Indonesia sebagai sebuah Bangsa). Jika kita sebagai ‘Indonesia Muda’ dan generasi milineal tidak dapat mengilhami Sejarah, terutama Sejarah Bangsa Indonesia. Bagaimana kita bisa tahu sejarah dan identitas bangsa kita?
  2. Kedua, tidak adanya kemauan untuk mencari atau menggali lantas merefleksikan semangat dari suatu peristiwa sejarah. Hal ini biasanya berawal dari kurangnya minat untuk belajar serta mencari tahu. Sebagai contoh adalah ketika kita memperingati Hari-Hari Besar Nasional (HBN), kita akan mengikuti suatu kegiatan yang berhubungan dengan HBN sebagai wujud rasa hormat, apresiasi, terimakasih, dll untuk perjuangan para Ulama’ atau Pahlawan Nasional masa terdahulu. Terkadang orang-orang banyak yang mengikuti kegiatan HBN hanya sebuah ‘aktivitas formal’ saja, tanpa memaknai semangat yang terkandung dalam peristiwa yang sedang diperingati tersebut. Yang terjadi adalah hanya akan sebatas tahu dan paham sebuah kisah dari peringatan dan peristiwa sebuah HBN.
  3. Ketiga, berkurangnya tekad dan semangat para ‘Indonesia Muda’ untuk sebangsa, setanah air dan sebahasa satu. Ini muncul seiring dengan hilangnya keinginan untuk belajar serta memaknai semangat suatu peristiwa sejarah. “Tidak tahu sejarah, mau diapakan Bangsa ini terserah mereka yang saat ini duduk dikursi penentu kebijakan” pemikiran pendek dan apatis semacam inilah yang mulai menggerus semangat perjuangan dan kesatuan Bangsa kita sendiri. Di samping itu hal ini juga muncul karena sikap apatis para ‘Indonesia Muda’ terhadap kondisi bangsanya sendiri.

Saat ini, kita sudah melewati puluhan tahun hidup MERDEKA. Era digital yang lebih modern serta banyaknya generasi milenial yang juga dikenal sebagai Generasi Y, Gen Y atau Generasi Langgas, telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Jika dahulu para pemuda dan santri berperang melawan kolonialisme dan imperialisme, pemuda dan santri masa kini harus berhadapan dengan liberalism dan kemajuan teknologi. Musuh kaum muda dan santri saat ini adalah mental yang miskin dan pemikiran yang apatis. Namun, kita juga tidak bisa menggeneralisir bahwa semua pemuda, pelajar dan santri Indonesia tidak memiliki semangat Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia. Pribadi saya yakin, bahwa setidaknya sedikit anak-anak muda Indonesia memiliki semangat itu. Sehingga sejarah Hari Santri dan Sumpah Pemuda akhirnya tidak hanya menjadi sebuah dongeng ‘menyenyakkan’ bagi generasi penerus Bangsa Indonesia dimasa depan.

Kini saatnya Pemuda Indonesia, sebagai generasi penerus Bangsa harus saling peduli terutama dalam dunia pendidikan. Bersumber dari dunia pendidikanlah generasi-generasi penerus bangsa terus dicetak, terus dibentuk dan dididik. Dengan Merdeka Belajar adalah program kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Anwar Makarim. Esensi kemerdekaan berpikir menurut Nadiem, harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Nadiem menyebut, “Dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi.” Namun, yang terpenting adalah pengembangan pola berpikir haruslah diiringi dengan akhlak yang terdidik.

“Ilmu pengetahuan yang kita kuasai tanpa akhlak dan adab sebagai penuntunnya, akan membawa pada kesombongan, dan ilmu tanpa agama akan membawa pada kehancuran dan murka Allah di dunia dan akhirat” (Gus Baha)

Kompleks dan sulit memang apabila kita berbicara tentang kepedulian dan aktualisasi diri dalam konteks berbangsa. Karena banyak faktor dan hal-hal yang saling berkaitan, membutuhkan pemikiran dan pertimbangan yang benar-benar matang untuk menciptakan suatu kebijakan yang akan dilaksanakan seluruh masyarakat. Utamanya kebijakan untuk menggugah lunturnya semangat Sumpah Pemuda dan nasionalisme para ‘Indonesia Muda’. Tetapi masih ada sedikit solusi, dengan lebih peduli pada pendidikan di Indonesia. Meskipun hal ini juga tidak cukup untuk mengatasi permasalahan lunturnya semangat para ‘Indonesia Muda’ milenial ini dalam kehidupan berbangsa Indonesia. Pendidikan adalah dasar pembentukan individu, kelompok, bahkan peradaban.

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *