Santri Millenial dan Tantangan Baru Nahdlatul Ulama

Oleh : Hafidz Yusuf

Hampir satu abad, tepatnya 94 Tahun (dalam Penanggalan Masehi) silam Nahdlatul Ulama berdiri. Organisasi yang memiliki symbol bintang, tali dan jagat ini didirikan pada 31 Januari 1926 Masehi tepatnya. Nama Nahdlatul Ulama berarti Kebangkitan Ulama.

Menurut Choirul Anam pada buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, paling tidak, kebangkitan ulama NU merupakan kelanjutan dari gerakan Wali Songo dan ulama penyebar Islam lainnya. Selama ratusan tahun, sambung-menyambung, para ulama bergerak mempertahankan Islam di Nusantara. 

Kondisi zaman terus berubah, tantangannya pun demikian, cara dan pola para Kiai dalam mendakwahkan  Islam Ahlussunnah wal Jamaah ikut berubah. Bila sebelumnya hanya melalui Pondok Pesantren dan bergerak sendiri-sendiri, para Kiai pun mencoba dengan mendirikan wadah. Hal tersebut merupakan langkah para Kiai untuk mempertahankan Islam itu sendiri. Buktinya, Pondok Pesantren dipertahankan, organisasi dijalankan.

Kini, Nahdlatul Ulama hampir berumur se-abad.  Seratus tahun Nahdlatul Ulama, bagi generasi santri milenial, memiliki arti penting untuk memandang wajah organisasi ini pada masa kini dan mendatang. Dengan munculnya lapisan santri milenial, penyebutan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi tradisional, tidak lagi relevan.

Tradisionalisme dalam menjaga sub-kultur pesantren, merupakan khazanah penting yang menjadi ciri khas. Maka, bisa kita saksikan, bagaimana santri-santri milenial yang kuliah di beberapa kampus internasional, maupun yang sudah berkarir profesional, merasa perlu dengan shalawatan, pengajian maupun rangkaian tradisi lain.

Pada ranah tantangan ekonomi kerakyatan, pola santri milenial untuk membangun arus baru ekonomi, berlangsung dengan cara yang berbeda. Beberapa santri menginisiasi start-up pada pelayanan publik, media dan social bussines, dengan dukungan perusahan finansial internasional.

Munculnya beragam ventura yang berani mendanai eksekusi ide-ide bisnis berbasis digital, menjadi peluang berharga. Meski belum berkembang massif, gerakan santri-santri milenial sudah terasa. Perlu ada dorongan intensif, agar lapisan santri milenial ini melangsungkan penetrasi pada wilayah profesional baru.

Saya teringat kata-kata Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.” Merujuk klasifikasi Howe dan Strauss, millennial saeculum terbagi empat generasi, yaitu generasi baby boom (terlahir antara 1943-1960), generasi X (1961-1981), generasi Y atau milenial (1982–2004) dan generasi Z atau homelanders (sejak 2005). Dari sini, tampak jelas, generasi milenial memasuki usia paling produktif.

Pakar pendidikan Diana G. Oblinger and James L. Oblinger dalam Educating the Net Generation (Educause, 2005) mengamini itu. Bagi keduanya, penting untuk menerapkan strategi pembelajaran sesuai generasinya. Dalam konteks dakwah, tentu penting pula menyesuaikan metode dan konten dakwah agar kekinian. Agar mudah dinikmati anak muda via media sosial (medsos).

Pengaruh medsos tak bisa dipandang remeh. Pada 2010, pemuda Tunisia mengoordinir massa dengan facebook dan twitter melawan rezim Presiden Zine El Abidine Ben Ali. Di Mesir pada 2011, dengan tagar #Jan25 via twitter dan video-video youtube para aktivis menentang rezim Hosni Mubarak. Pada 2014, revolusi payung di Hongkong juga diorganisir lewat medsos. Tahun lalu di negara ini, medsos pula yang menjadi alat penggerak aksi fenomenal 1410, 411, dan 212.

Jika medsos bisa menggalang kekuatan massa, tentunya medsos juga bisa menjadi instrumen gerakan dakwah, sosial dan kemanusiaan. Terlebih, konten dakwah pencerahan amat diperlukan, lantaran dewasa ini, sumber narasi kebencian seringkali bermula dari konten-konten medsos yang viral berupa meme-meme, tagar, maupun pesan-pesan instan di grup-grup aplikasi messenger.

Sebagai bagian santri milenial, saya merasa betapa inovasi teknologi digital dan media sosial berpengaruh pada transformasi harakah (gerakan) santri zaman now. Santri milenial memiliki strategi yang berbeda dalam merespons tanggungjawab keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Seratus tahun Nahdlatul Ulama membuka ruang bagi santri milenial untuk membuktikan kontribusi strategisnya kepada organisasi ini.

Hafidz Yusuf, Ketua GP Ansor Kecamatan Ngluyu, Santri Design Community, Penyuluh Kementrian Agama Kabupaten Nganjuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *