Rakor SDI Network Via Meeting Zoom

Penulis : Dr. M. Ali Anwar
(Koord Jaringan SDI Network Kab. Nganjuk)

Masa pandemi melahirkan pola dan tradisi baru. Pertemuan atau rakor yang biasanya dilakukan secara langsung dan bertatap muka, sekarang beralih dengan cara melalui media online dengan memanfaatkan media IT yang tersedia. Hal demikian yang dilakukan bersama para pengelola SDI yang tergabung dalam jaringan SDI Network Kabupaten Nganjuk.

SDI Network adalah jaringan kumpulan SDI-SDI yang ber-mainstream ahlusunah wal jamaah an nahdliyah, atau berafiliasi kepada Nahdlatul Ulama (NU). Kumpulan tersebut berjumlah 14 lembaga SDI yang ada di Kabupaten Nganjuk.

Rakor rutin yang dilakukan setiap sekitar dua atau tiga bulan sekali, dengan cara berkeliling ke lembaga anggota jaringan, bertatap muka dan berdiskusi secara langsung. Sabtu (06/06/2020) lalu, telah dilaksanakan rakor perdana di musim pandemi melalui meeting zoom.

Rakor dilaksanakan sebagaimana yang dijalankan seperti sebelumnya, yaitu diskusi evaluasi perjalanan pengelolaan lembaga dan strategi pengembangan lembaga masing-masing. Antar lembaga satu dan yang lain diharap untuk bisa saling memotivasi dan menginspirasi atas kemajuan antar lembaga yang telah diraih.

Teknik yang dilaksanakan dengan cara setiap perwakilan lembaga menyampaikan satu persatu dari perkembangan dan kendala yang dihadapi. Selanjutnya ada motivasi atau pencerahan terhadap problematika yang sedang dihadapi. Antar satu dan yang lain saling memberikan wacana solusi pengembangan berdasarkan pengalaman pengelolaan lembaganya.

Dalam pertemuan kemarin, antara lain berkonsentrasi pengembangan lembaga terutama terkait PPDB. Dari lembaga pendidikan dibawah jaringan SDI Network walau dalam kondisi pandemi, semua sampai hari ini alhamdulillah minimal sudah mendapat satu kelas penuh. Beberapa lembaga sudah penuh sesuai target sejak beberapa minggu atau bulan yang lalu. Target ada yang mencapai tiga kelas dan sudah tercapai. Bahkan ada yang harus tidak menerima para pendaftar karena terbatasnya kuota yang tersedia. Ada yang menggunakan pola indent dua tahun sebelumnya, sehingga sudah tidak membuka PPDB.

Selanjutnya bagi lembaga yang baru mendapatkan siswa satu kelas, sementara targetnya lebih, maka harus terus-menerus tetap berpacu diri untuk berikhtiar. Bisa melalui promosi ke berbagai pihak dengan berbagai cara. Baik melalui dunia nyata maupun dunia maya. Tentu promosi ada hal yang harus ditawarkan sesuai dengan unggulan riel yang sudah dijalankan. Unggulan harus didasarkan pada kebutuhan kekinian dan berjangka panjang.

Di samping itu, dalam koordinasi juga mendiskusikan terkait dengan persiapan menjelang masuk di saat pandemi. Lambaga harus mengikuti protokol yang diatur oleh kementerian pendidikan nasional. Untuk itu lembaga harus menyiapkan mulai sekarang. Lembaga harus memformulasikan sesuai kebutuhan dan kondisi lokal lembaga. Yang paling tahu kondisi adalah para pengelola masing-masing.

Pola pertemuan seperti ini saya merasakan lebih efektif dan efisien, karena bisa dilakukan di lokasi masing-masing dan tidak harus datang ke lembaga sebagaimana saat masih bersifat pertemuan langsung. Untuk itu pola ini akan menjadi salah satu pilihan yang akan digunakan di SDI Network walaupun misal pandemi sudah berakhir. Bisa di pola dengan berbanding 30 persen pertemuan langsung 70 persen via online saat melaksanakan rakor.

Gerakan meeting via media lebih efektif dan efisien dibanding dengan pertemuan manual. Model ini adalah salah satu ciri dari peradaban modern baru di era industri 4.0. Jika ada hal lebih mudah maka harus diambil untuk mendukung proses efektifitas kerja-kerja di bidang pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *