Pondok Salaf: Dari Tradisional Menuju Serba Digital

 Pondok Salaf: Dari Tradisional Menuju Serba Digital

Pondok salaf, yang melekat adalah coraknya yang tradisional. Ciri khas tradisional dari pondok pesantren ini adalah dari segi sistem pengajaranya dan peraturan pondok yang mengambil jarak terhadap produk-produk teknologi. Tipe pesantren ini merupakan model pesantren yang muncul pertama kali sebagai respon atas ke-jahiliyah-an masyarakat pedesaan waktu itu. Adapun tujuan pertama kali didirikannya pondok pesantren yang berbasis salaf ini adalah untuk mencetak generasi penerus kyai dan ulama. Selain itu, juga sebagai tempat pembentukan moral, akidah dan menyiapkan santri untuk hidup tawadu’ dan qanaah.

Dalam penelitian Clifforz Gert yang dibukukan dalam Agama Jawa : Abangan, Santri dan Priyayi pendidikan pesantren sebagai subkultur masyarakat Indonesia merupakan lembaga pendidikan yang unik karena memiliki pengalaman luar biasa dalam membina dan mengembangkan masayarakat disekitarnya. Sebagai bagian subkultur dalam masyarakat, pondok salaf ini mempunyai tiga komponen penting yaitu kiai yang kharismatik, tidak terikat dengan kurikulum pemerintah serta rujukan pengetahuan keislaman dari kitab-kitab klasik. Komponen tersebut bergerak hingga membentuk budaya sendiri.

Seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat disertai perkembangan zaman yang serba digital,  mudahnya akses informasi dan pengetahuan, masih banyak pondok salaf yang tetap eksis dengan sistem tradisionalnya. Bukan berarti pondok salaf yang anti terhadap kemunculan dan perkembangan produk digital. Alasannya, membatasi akses terhadap teknologi informasi guna meminamilisir dan menyelamatkan generasi dari dampak negatif menjamurnya produk-produk teknologi.

Ditemukan dalam banyak riset, hampir keseluruhan menyebutkan bahwa sistem tradisional yang diusung pondok salaf dianggap ketinggalan zaman. Dari sisi pembelajaran misalnya, di pondok salaf hanya terbatas pada pembelajaran keagamaan. Sedangkan pembelajaran diluar keagamaan agak dikecualikan. Dalam beberapa riset, kebanyakan peneliti mengemukakan dan mendesak rekonstruksi sistem pendidikan dengan merubah sistem pendidikan tradisonal ataupun dikombinasikan dengan keilmuan sesuai dengan tuntutan zaman.

Karel Steenaubrink, dalam bukunya Pesantren, Madrasah, Sekolah, Pendidikan Islam kurun Modern 1999, pesantren yang tidak mau beranjak ke modernitas dan kekeuh mempertahankan sistem pengajarannya yang tradisional dengan kitab-kitab klasiknya tanpa ada pembaharuan sistematis, mau tidak mau harus siap ditinggalkan oleh masyarakat.

Dalam artiker jurnal Wahyu Iryana, Tantangan Pesantren Salaf di Era Modern, pesantren harus berbasis keseimbangan degan memadukan akar tradisi dan modernitas. Apabila mampu dilaksanakan, hubungan keduanya akan baik dan seimbang. Tetapi jika tidak, maka pesantren akan mati dengan sendirinya karena tergilas oleh laju arus perubahan dan modernisasi. Oleh karena itu rekonstruksi pesantren salaf sangat dibutuhkan demi eksistensi dunia pesatren yang menjadi cika bakal pendidikan Islam di masa sekarang dan masa depan.

Kritik-kritik yang dikemukakan di atas seolah hanya melihat dari satu sisi dari kelebihan kemajuan teknologi. Jika ditelisik lebih mendalam, dampak negatif kemajuan teknologi ini juga tak kalah menarik untuk dibahas dibanding kemajuannya. Yang paling nampak, dampak negatif di zaman serba digital adalah dalam bab perilaku. Secara tidak langsung digital mempengaruhi etika pergaulan, yang cenderung itba’ dengan apa yang dilihat meskipun kurang cocok dengan budaya setempat sehingga zaman digital ini membuat kebudayaan asli masyarakat luntur karena telah mengenal budaya dan menjadikan tren baru.

Mencermati pembahasan diatas, digital adalah adalah sebuah zaman yang hampir seluruh tatanan kehidupannya telah dibantu dengan teknologi digital sebagai penggeser zaman tradisional. Zaman digital ini telah mengubah banyak hal, mulai dari cara interaksi, cara komunikasi dan ekonomi. Diakui atau tidak, tranformasi tradisional ke dalam teknologi digital mampu memberikan beberapa kemajuan dari segi kehidupan. Kelemahannya, banyak masyarakat yang belum bisa menyikapi dan menerima teknologi ini dengan baik.

Ditengah gempuran zaman digital yang terus menggerus moral dan ketergantungan generasi bangsa terhadap produk teknologi, dengan sistem tradisionalnya pesantren adalah tempat untuk mengembalikan kodrat generasi (bermoral dan kudu mandiri). Oleh karena itu, ke-kudet-an orangtua terhadap produk teknologi dan kurangnya self control terhadap anaknya, pesantren adalah pilihan yang tepat.

Di sisi lain, kelebihan dari sistem pendidikan tradisional pada pondok salaf yang masih dipertahankan di era digital, yaitu budaya literasi. Tidak ada cara lain untuk akses mencari pengetahuan baru selain dari membaca kitab-kitab yang dipelajari, tidak ada internet tidak ada google untuk menjelajah. Pesantren salaf masih menjunjung tinggi sistem sanad, khususnya dalam pengetahuan keilmuan.

Lantas, mengapa pondok salaf masih sanggup bertahan ditengah tuntutan zaman digital?

Alasan pertama, kiai karismatik. Tidak bisa dipungkiri, eksistensi pondok salaf ini tidak bisa terlepas dari Kiainya yang memegang peranan penting dalam menjalankan kepemimpinannya. Segala permasalahan yang ada di pondok salaf, kiai adalah tempat penyelesainnya.

Alasan kedua, pendidikan karakter yang diterapkan di dalam pondok salaf. Dampak yang paling nyata dari fenomena era digital adalah degradasi moral. Jika dibandingkan dengan sistem pendidikan lain, pendidikan pondok salaf yang menerapkan “nderek dawuh yai” adalah pendidikan karakter yang lebih unggul. Dalam sejarah Islam, Rasulullah menegaskan bahwa misi utamanya adalah mendidik manusia dengan mengutamakan pembentukan  good chaaracter, akhlak yang baik.

Alasan ketiga, sanad keilmuan jelas. Mudahnya akses informasi di era digital ini, memungkinkan terjadinya taqlid, itba’ pendapat tanpa mengetahui sumber pasti dan alasannya. Di pondok salaf, akses informasi hanya berdasar apa yang dijelaskan oleh guru. Sehingga kemungkinan taqlid sangat kecil.

Jurus terakhir, kuatnya keyakinan dengan potongan ayat Al Qur’an surat at Thalaq: 2-3.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

 Adanya tuntutan untuk memeliki kemampuan bertahan hidup ditengah perubahan dan persaingan yang bergulir dengan pesatnya kemajuan teknologi dalam hal ekonomi, pondok salaf menanamkan jiwa “nrimo ing pandum” dengan pedoman potongan ayat tersebut.

Oleh: Musbatul Mardiyah

Digiqole ad

admin

Related post