Polemik Pandemi, Insting Manusia Tergerak

Penulis:
Dwiana Nur Fitrianingrum
Sekretaris PC IPPNU Nganjuk

Sampai detik ini kita terus melihat update data yang di share oleh BNPB maupun oleh WHO tentang perkembangan virus covid-19 yang tengah bergrilya ditengah-tengah masyarakat ini. Ada 3000 lebih pasien yang dinyatakan positif virus covid-19 di Indoneisa. Jika dibandingkan dengan 250 juta penduduk Indonesia, angka 3000 tidaklah berarti. Demikian kecilnya sehingga sulit untuk kita merasakannya.

Saat ini kita masih bisa merasa santuy, tidak merasakan apa-apa. Baru saja kita dihimbau untuk tetap tinggal dirumah sekitar 3 minggu yang lalu oleh Pemerintah. Namun, boleh dikatakan tidak membuat kemajuan apapun.

Angka pertumbuhan kasus positif virus covid-19 terus bertambah secara eksponensial. Efect kebijakan Pemerintah tentang tetap tinggal dirumah, nyaris tak ada perubahan untuk mencegah pertambahan jumlah kasus covid-19. Kenapa? Apa Pemerintah salah?

Tidak ada yang benar maupun salah dalam hal ini, dikutip dari keterangan www.bnpb.go.id

“Pada UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang dimaksud bencana terdiri dari bencana alam, nonalam dan sosial. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Dalam hal ini penyakit coronavirus (covid-19) termasuk bencana nonalam yang sudah ditingkat pandemi sesuai dengan pernyataan WHO.”

Dari keterangan tersebut dapat kita ketahui bahwa penyakit corona virus atau covid-19 ini merupakan bencana nonalam, Pemerintah sudah berupaya dan bekerja sangat keras untuk menanggulangi bencana ini, demi menyelamatkan banyak jiwa. Terus bertambahnya jumlah kasus positif virus karena memang hanya sedikit yang benar-benar tinggal di rumah.

Entah memang mereka tidak mengindahkan himbauan dari pemerintah, atau memang karena banyak alasan yang membuat beberapa masyarakat tidak mengerjakan himbauan dari Pemerintah ini.

Beberapa hari yang lalu saya mendengarkan pemaparan dari seorang yang sangat ingin mudik kembali ke tanah kelahirannya, karena ia merasa takut ditengah mewabahnya virus ini dan ling-lung ngapain disini? Karena disalah satu kota besar di jawa timur tersebut, ia juga dirumahkan karena efek covid-19.

Sedangkan ia harus tetap bertahan hidup ditengah kota, dengan 80% orang bisa terpapar oleh virus yang mewabah ini. Akhirnya ia memutuskan ingin mudik sebelum keadaan ini semakin parah, yang bahkan bisa saja ia terjangkit oleh penyakit kelaparan. Karena mulai diberlakukannya beberapa toko ditutup dan keuangannya pun semakin menipis.

Baginya, mudik merupakan ritual rutin setiap tahun yang dilaksanakan oleh sebagian orang muslim serta orang-orang yang melalang buana bekerja atau mencari ilmu dikota-kota besar, seperti surabaya, jakarta, bandung, dsb. Demi mengobati rasa rindunya dengan sanak saudara di kampung halaman, mudik merupakan hal rutin yang harus selalu dilakukan setiap tahunnya.

Ritual rutin semacam ini berbeda dilaksanakan ditengah wabah saat ini, kepulangannya ke kampung halaman bukan hanya karena rindu kebersamaan sanak saudara. Namun, ada alasan lain yang lebih utama yaitu keselamatan jiwa dan ekonomi.

Ketika orang berbondong-bondong mudik berakibat negara harus bekerja keras untuk mengatur arus lalu lintas, moda transportasi umum, dan keselamatan supaya pemudik nyaman dan selamat. Hal itu terjadi dikala situasi normal, tanpa ada krisis seperti saat ini pemerintah selalu menghadapi banyak persoalan, apalagi saat ini ketika wabah covid-19 sedang menuju puncak serangannya di indonesia, khususnya kota dengan padat penduduk yang menjadi salah satu episentrum penyebarannya.

Dalam situasi seperti ini Pemerintah telah bersiap dalam menghadapi para pemudik ditengah ledakan covid-19 di kota-kota tujuan pemudik. Salah satunya Pemerintah mengeluarkan Permenkes No. 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka Percepatan Penanganan Covid-19.

Apa itu PSBB?? Dalam Permenkes tersebut, dijelaskan bahwa PSBB adalah pembatasan kegiatan tertentu bagi penduduk dalam satu wilayah yang diduga terinfeksi virus corona. Tujuannya, untuk mencegah adanya penyebaran virus corona yang lebih besar lagi. Pelaksanaan PSBB meliputi hal-hal:

  1. Peliburan sekolah dan tempat kerja
  2. Pembatasan kegiatan keagamaan
  3. Pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum
  4. Pembatasan kegiatan sosial dan budaya
  5. Pembatasan moda transportasi
  6. Pembatasan kegiatan lainnya khusus terkait aspek pertahanan dan keamanan (dikutip dari www.kompastv.com)

Terbitnya Permenkes tersebut belum juga menjamin akan berkurang atau bertambahnya jumlah kasus covid-19 di negara ini. Ada pula langkah pemerintah untuk menghentikan rantai penyebaran virus covid-19 ini yaitu dengan menghimbau seluruh masyarakat indonesia untuk wajib menggunakan masker yang terbuat dari bahan kain ketika keluar rumah.

Jalur alternatif lainnya juga dipaparkan oleh Presiden Joko Widodo pada siaran telekonference di istana bogor, jawa barat bersama menko PMK (mentri koordinator bidang pembangunan manusia dan kebudayaan) Muhadjir Efendy “saya melihat untuk ini dalam rangka menennangkan masyarakat, mungkin alternatif mengganti hari libur nasioanl di lain hari untuk hari raya. Ini mungkin bisa dibicarakan.” ungkapnya pada saat pembukaan rapat terbatas ‘arus mudik’ pada 2 april 2020 lalu.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Muhadjir Effendy selaku Menko PMK bahwa dia menuturkan cuti bersama idul fitri di bulan mei itu diubah pada bulan desember. “sudah ada hasilnya, libur cuti bersama hari raya idul fitri digeser pada bulan desember.” ungkapnya pada hari kamis, 9 april 2020 (sumber www.liputan6.com)

Saat ini kita sedang berpacu dengan waktu untuk dapat memperkecil dampak yang ditimbulkan oleh virus corona. Waktu akan bergerak cepat, sehingga Pemerintah tidak punya banyak waktu lagi, sementara krisis wabah ini masih terus meningkat tanpa kita tahu kapan reda dan menghilang.

Perlu kita sadari bersama, saat ini adalah saat genting. Gentingnya itu sekarang!
Kalau tidak bertindak sekarang, yang akan kita hadapi bukan lagi suasana genting, bisa saja lebih buruk dari saat ini. Oleh karena itu, peran Pemerintah sejauh ini sudah diupayakan maksimal dalam rangka Penanganan Covid-19 dengan berbagai birokrasi peraturan yang diterbitkan dan dihimbaukan kepada seluruh masyarakat dan berbagai langkah yang tengah Pemerintah wacanakan harap segera di realisasikan kepada masyarakat.

Sedangkan peran kita, para masyarakat yang sedang diperjuangkan keselamatannya. Wajibnya sadar dan mengerti dengan situasi disaat ini. Tidak akan pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan tanpa alasan yang mendasar serta urgent, apabila kita mau berperan untuk menanggulangi wabah ini.

Bila ada sederet dokter dan pegawai kesehatan yang tengah menjadi garda terdepan untuk menghadapi wabah virus covid-19 ini, maka kita perlu menjadi garda terdepan untuk diri sendiri. Ditengah polemik pandemi ini jangan menjadi individu yang egois, borong semua stock bahan kebutuhan sehari-hari, borong semua masker, antiseptik, dsb hanya untuk keperluan pribadi. Pun pula bagi para pemudik yang tetap ngeyel.

Akhir-akhir ini pemerintah daerah yang memiliki sense of crisis membuat kanal-kanal informasi untuk publik. Ini merupakan langkah yang baik karena warga dimasing-masing daerah dapat memperkirakan dan mengukur persebaran birus ini. Melalui kanal-kanal informasi itu, kita berharap semua pihak bisa mendapatkan ritme yang sama dalam menghadapi virus covid-19 ini.

Jangan sampai tenaga medis sudah sekuat tenaga berjuang, tapi pihak-pihak yang lain masih santuy untuk menunda bertindak. Dalam kondisi yang genting ini, insting manusia untuk bertahan hidup bisa muncul. Momen genting itu perlu kita dorong menjadi laku produktif untuk membendung persebaran virus covid-19 dan mengalahkannya.

Kamis, 09/04/20 (21:30)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *