Peran Ulama dan Santri dalam Membumikan Deradikalisasi Agama di Indonesia

 Peran Ulama dan Santri dalam Membumikan Deradikalisasi Agama di Indonesia

Maraknya aksi terorisme dan radikalisme di era globalisasi semakin memojokkan umat Islam sebagai dalang dibaliknya. Khususnya masyarakat dengan tingkat pendidikan dan perekonomian yang rendah yang banyak dijumpai di daerah pinggiran kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan destinasi pariwisata seperti Jogjakarta dan Bali. Kadangkala mereka melakukannya sendiri karena keadaan yang memaksa misal dengan mencopet, merampok, serta memalak orang-orang yang dianggap lemah. Selain masyarakat awam, kaum terpelajar dari generasi muda yang masih mencari jati diri mereka seperti siswa dan juga mahasiswa yang tidak mempunyai prinsip yang kuat juga bisa terpengaruh dengan aliran-aliran radikal yang pada akhirnya akan menjerumuskan mereka ke dalam aksi terorisme karena ajakan dan ideologi yang mereka dapatkan dari rekan-rekan di sekolah, perguruan tinggi, ataupun organisasi yang mereka ikuti. Artikel berjudul “Melindungi Kampus” tulisan Prof. Azyumardi Azra, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, secara lugas memperlihatkan bahwa nilai-nilai radikalisme agama telah berkembang di dalam tubuh kampus-kampus negeri nasional, dan fakta ini tidak dapat diremehkan. Mayoritas dari mereka terpengaruh karena imbalan surga yang akan mereka dapatkan kelak di akhirat dan mati syahid karena aksi terorisme. Padahal realitanya sama sekali tidak, karena mereka belum paham sepenuhnya akan hakikat jihad dalam Islam dan akibat dari apa yang mereka lakukan.

Radikalisme itu satu paham yang ingin mengganti dasar dan ideologi negara dengan cara melawan aturan, kemudian merusak cara berpikir generasi baru. Orang Islam ataupun non muslim jika sudah melakukan itu, maka disebut radikal (Mahfud M.D, 2010). Paham radikalisme ini timbul karena adanya golongan yang terlalu fanatik dengan aliran mereka, sehingga mereka selalu menganggap golongan di luar mereka salah dan ingin menjadi pemimpin yang mengendalikan semua golongan dan menyamakan paham yang dianut semua golongan. Pada akhirnya mereka akan melakukan aksi-aksi radikal untuk mencapai tujuan mereka tersebut, bahkan ada juga yang menghasut masyarakat agar timbul kebencian pada pemerintah yang berdaulat. Adapun ciri-ciri kelompok radikal menurut Masduqi (2013:3) antara lain pertama, sering mengklaim kebenaran tunggal dan manyesatkan kelompok lain yang tak sependapat. Kedua, radikalisme mempersulit agama Islam yang sejatinya samhah (ringan) dengan menganggap ibadah sunnah seakan-akan wajib dan makruh seakan-akan haram. Ketiga, kelompok radikal kebanyakan berlebihan dalam beragama yang tidak pada tempatnya. Keempat, kasar dalam berinteraksi, keras dalam berbicara dan emosional dalam berdakwah. Kelima, kelompok radikal mudah berburuk sangka kepada orang lain di luar golongannya. Dan keenam, mudah mengkafirkan orang lain yang berbeda pendapat.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pelaku aksi terorisme dan radikalisme sendiri  mayoritas adalah seorang muslim dan rata-rata mereka adalah kaum terpelajar yang sudah dididik sejak kecil untuk memahami Islam, atau juga dari kalangan umum yang sudah terpengaruh paham-paham radikal dan tergiur dengan balasan dari apa yang mereka lakukan. Namun disini Islam tidak bisa sepenuhnya disalahkan seperti yang terjadi di Amerika Serikat pada saat terjadi peristiwa pengeboman World Trade Center (2001) yang selanjutnya menimbulkan deskriminasi kepada umat muslim di sana karena di luar hal itu masih banyak umat muslim lain yang menjalani hidupnya dengan tenang, damai, dan tidak melakukan aksi radikalisme serta terorisme yang sering disebut sebagai jihad, masih banyak muslim yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi antar golongan dan umat beragama dengan tingkat kepedulian sosial yang tinggi. Hal ini bisa dibuktikan dengan aksi seorang anggota dari badan otonom di bawah naungan organisasi Nahdlatul Ulama yakni Banser yang rela mengorbankan nyawa demi keselamatan jemaat gereja dari ledakan bom beberapa tahun yang lalu. Namun itu semua seakan tertutup dengan mindset masyarakat yang terlanjur menjudge bahwa radikalisme dan terorisme selau identik dengan Islam.

Untuk menghilangkan mindset masyarakat bahwa Islam radikal tentunya diperlukan seseorang yang mampu membuktikan kepada khalayak bahwa sebenarnya Islam adalah agama Rahmatan Lil Alamin. Hal ini dapat dilihat dari sifat Allah yang Maha Pengasih bagi semua hambanya baik muslim maupun non muslim. Perbuatan-perbuatan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW pun  juga demikian. Misalnya mengenai sikap beliau kepada seorang Yahudi yang salalu menjelek-jelekkan beliau namun tetap dirawat dengan baik, sikap beliau kepada penduduk Makkah yang belum mau memeluk Islam pada saat peristiwa Fathul Makkah yang tidak menyiksa selagi mereka tidak melakukan perlawanan, dan juga keputusan beliau yang memperbolehkan orang kafir hidup berdampingan dengan umat Islam selagi mereka mau membayar pajak serta tidak membuat masalah di daerah tersebut.

Deradikalisasi agama sudah sepatutnya dilakukan oleh para ulama yang menjadi panutan bagi masyarakat awam khususnya umat muslim yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia.  Media dakwah merupakan cara yang tepat untuk mengajarkan dan memberi teladan yang baik kepada masyarakat agar selalu hidup damai dan tidak fanatik kepada agama ataupun aliran yang mereka ikuti sehingga tidak akan mudah memandang remeh dan menyalahkan seseorang dari golongan yang berbeda dari mereka. Selain itu mereka juga seharusnya memberikan pemahaman yang benar mengenai jihad dalam Islam. Jihad yang dimaksudkan bukanlah memerangi orang kafir secara umum, namun harus tetap memperhatikan syarat-syarat yang harus ada. KH Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya “Islam antara Perang dan Damai” menyebutkan bahwa umat Muslim memang mendapat perintah untuk menghadapi peperangan dengan non-Muslim. Namun, perintah tersebut tidak secara mutlak dan serampangan. Hanya non-Muslim yang telah nyata memerangi Muslim saja yang boleh diperangi.

Ulama yang terlalu tertutup dan tidak mau menerima perbedaan pendapat terkait permasalahan agama dan konflik yang ada di masyarakat akan sulit melakukan deradikalisasi agama di Indonesia. Negara ini terbentuk sebab adanya persatuan berbagai macam jenis karakter yang berbeda beda atas dasar persamaan nasib dan tidak akan mungkin jika tidak ada perbedaan baik itu berupa kebiasaan, kepercayaan, serta pendapat antar perorangan maupun golongan. Maka dari itu, seorang ulama harus bersikap terbuka terhadap masyarakat sekitarnya agar mereka  bisa dengan lebih mudah mengetahui dan bisa memahami solusi untuk setiap permasalahan yang ada. Karena perbedaan pendapat atau apapun itu adalah keniscayaan yang dikehendaki oleh Allah SWT yang mengharuskan kita bijaksana dalam menyikapinya.

Selain ulama, santri juga berperan penting dalam proses deradikalisasi agama masyarakat Indonesia. Santri adalah generasi penerus para ulama yang sudah menerima pengajaran di lingkungan pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, santri disiapkan untuk memperbaiki umat atau masyarakat di sekitarnya yang tentunya bisa terwujud jika mereka mampu memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Banyak yang beranggapan pesantren menjadi cikal bakal teroris dengan ideologi radikal yang diajarkan pendidik kepada para santrinya. Sudah seharusnya kita menghapuskan opini tersebut karena hakikatnya pesantren adalah tempat terbaik untuk membentuk karakter generasi penerus  bangsa yang sesuai dengan Al Quran , Al hadits,  serta ajaran Salafus Saalih.

Santri, terutama dari kalangan ahlus sunnah wal jama’ah telah dibekali Ilmu-ilmu bermasyarakat yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW yang sudah pasti  harus diterapkan dalam keseharian mereka. Sikap-sikap terpuji yang sudah dipelajari oleh santri ketika di pesantren seharusnya direalisasikan ketika hidup di masyarakat yang secara tidak langsung jika dilakukan akan membatu membumikan deradikalisasi agama di Indonesia. Selain itu, seorang santri harus mempunyai prinsip yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh aliran-aliran radikal yang pada saat ini sedang gencar-gencarnya merekrut anggota dan melakukan kaderisasi untuk melakukan misi-misi  radikal mereka terhadap non muslim seperti aksi terorisme di daerah-daerah dengan jumlah penduduk non muslim yang mendominasi, tempat-tempat ibadah, serta tempat-tempat hiburan dan destinasi pariwisata.

Berdasarkan wawancara penulis dengan Tamziyz Hidayatullah, S. Pd salah satu santri Pondok Pesantren Anwarul Huda Malang dan alumni Universitas Negeri Malang yang sekarang mengajar sebagai guru sosiologi di Madrasah Aliyah Al-Karim Gondang Nganjuk peran santri dalam membumikan deradikalisasi agama di Indonesia menurut perspektifnya adalah melalui tindakan preventif atau pencegahan. Caranya yakni dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi yang sekarang ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia seperti aplikasi WhatsApp, Facebook, Instragram, YouTube untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya generasi muda yang masih dalam proses pencarian jati diri agar tidak terjerumus kepada paham-paham radikal yang akan merugikan pribadi mereka, masyarakat sekitar, bahkan penduduk Indonesia. Selain itu bisa juga melalui buletin-buletin di media massa dan sharing melalui zoom meeting atau live streaming di youtube yang semuanya bertujuan menjelaskan bahaya radikalisme kepada khalayak dan ajakan untuk sama sama membumikan deradikalisasi di bumi pertiwi yang pada hakikatnya adalah negara yang aman,

Di samping tindakan preventif ini, santri juga berperan dalam menghentikan individu maupun kelompok yang sudah terlanjur melakukan aksi radikal atau masih sebatas mengikuti paham-paham radikal. Caranya yakni dengan melakukan dialog dengan mereka untuk melakukan tabayyun atau mencari kejelasan akan alasan dan motif mereka melakukan aksi tersebut dan juga memberikan pemahaman akan dampak negatif yang dominan dari aksi radikal yang mereka lakukan, kemudian pada tahapan selanjutnya yakni melakukan negosiasi dengan mencari jalan keluar agar mereka tidak mengulangi tindakan-tindakan yang dapat menyebabkan kerusuhan atau bahkan memakan korban. Jika langkah-langkah tersebut sudah dilakukan namun mereka tetap pada pendiriannya maka yang harus dilakukan adalah mempertemukan mereka dengan ulama sebagi mediator yang lebih paham akan Islam Rahmatan Lil Alamin dan  hakikat jihad dalam Islam  yang sangat berbeda dengan apa yang mereka pahami, agar mereka tidak tergiur dengan janji mati syahid dan surga karena melakukan aksi radikal seperti teror terhadap kaum non muslim yang sama sekali tidak bersalah.

Dengan demikian dapat penulis simpulkan bahwa peran ulama dan santri sebagai tokoh pesantren yang dipersiapkan untuk memperbaiki kondisi umat dalam membumikan deradikalisasi agama di Indonesia pada intinya adalah melalui media dakwah dengan mengajak masyarakat untuk bersama-sama menghindari aksi-aksi radikal dan selalu mengedepankan nilai-nilai toleransi yang menjadikan bangsa kita yang majemuk ini akan tetap berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana yang diharapkan oleh para pendiri bangsa. Selain dakwah, memberikan teladan yang sesuai dengan tuntutan Al Quran, Hadits Rasulullah, dan fatwa ulama kepada masyarakat juga tidak kalah penting karena pada dasarnya apa yang di lakukan ulama dan santri sebagai tokoh pesantren dalam kehidupan sehari-hari itulah yang akan diikuti oleh masyarakat, khususnya yang masih awam akan pengetahuan agama.

Oleh : Wafiq Kamilatul Lailiyah

Digiqole ad

admin

Related post