Pemuda Pendobrak; Ansor

 Pemuda Pendobrak; Ansor

“Pemuda adalah aktor utama pergerakan perubahan arus sosial kemasyarakatan.”

Awalnya

“Pemuda Ansor adalah harapan NU di masa depan,” kata KH. Bisri (ketua Tanfidliyah NU kabupaten Nganjuk) dihadapan peserta Konferensi beberapa hari yang lalu. Oleh karenanya, wajah Ansor hari ini adalah wajah NU masa depan. Jika hari ini kader Ansor serius mengurus organisasi, maka NU tidak usah risau menghadapi masa depan. 

Menjadi Pemuda Ansor itu, kita mengalami sebegitu banyak kemudahan semerta sebegitu rumit dalam menjalaninya. Mengalami kemudahan, salah satunya karena kita secara ideologi sudah jelas: menginduk kepada NU selaku “orang tua” dan induk jiwa-rohani kita adalah Ahlusunnah wal Jama’ah an – Nahdliyah. Tak ayal, ada semacam jaminan di hari akhir tatkala kita mengikuti jejak-langkah para pendahulu kita: para Kyai, Alim-ulama yang sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad Saw. Selain dari pada itu, menjadi Pemuda Ansor maka kita harus siap menjadi penerus para Ulama kita yang sudah menapakkan jejak organisasi NU secara kokoh baik secara struktural maupun kultural.

Selain sebegitu banyak kemudahan, tak ayal juga banyak kerumitan tatkala kita menjadi Ansor. Kerumitan ini bejibun kita jumpai ketika kita hadir di arus Bawah. Ternyata, ada disparitas yang  menganga antara konsepsi dan realitas. Dalam artian, secara konsepsi, Ansor atau Banom NU yang merupakan organisasi kepemudaan di tubuh Nahdlatul Ulama ini sudah sebegitu kompleks dalam membaca masa depan Nusantara, Indonesia maupun secara global. Dan secara konsepsi ideologi, sosial dan pergerakan Ansor sudah mampu mempelopori sebegitu banyak hal. Yaitu, menjadi pelopor utama arus pergerakan Islam Nusantara yang damai dan penggebuk arus radikal-fundamental.

Dan hal sedemikian ini, diamini oleh ketua Umum kita: Gus Yaqut, dalam sambutan virtual Ketua Umum PP GP Ansor dalam pelantikan PC GP Ansor Kencong, “Sahabat-sahabat semua saya ingin menyampaikan, yang pertama adalah kita tidak pernah bergeser dari isu-isu terkait dengan radikalisme. Nah, dalam menghadapi radikalisme ini komitmen Ansor dan Banser saya kira tidak perlu lagi diragukan termasuk komitmen kita kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjaga ideologi negara Pancasila. Ini adalah disiplin sekaligus koridor yang sudah digariskan oleh induk organisasi kita Nahdlatul Ulama. Yang kedua saya ingin katakan bahwa, radikalisme sebagai isu itu bisa dijadikan juga sebagai komoditas politik, kita harus hati-hati, sekali lagi radikalisme sebagai isu bisa dijadikan sebagai komoditas politik.”

Pada titik ini, Ansor bisa kita nyatakan menjadi perwujudan eksistensi simbol baru perlawanan terhadap mereka yang tidak mencintai kedamaian, toleran dan saling – kasih. Hal ini, menjadi tantangan yang tak pernah mudah.

Adapun pada konteks realitas, masih terlalu banyak anggota Ansor, mungkin juga di Banser, masih sebegitu banyak yang belum mampu mengimbangi konsepsi adi luhung yang penulis jelaskan di atas. Penulis bisa menulis seperti ini, karena melihat, mengamati dan membersamai sahabat – sahabat Ansor maupun banser di kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk.  Hal semacam ini bisa terjadi tentu saja banyak faktor. Mulai dari latar belakang pendidikan yang bervariasi, ekonomi yang masih di bawah cukup. Dan aktif tidak didasari kesadaran berorganisasi akan tetapi lebih condong kepada hal – hal yang bernuansa rohani: “nderek dawuh”.  Tentu istilah nderek dawuh ini bisa bermakna ganda. Namun, sering disalah – pahami bahkan mungkin, istilah tersebut diselewengkan menjadi makna yang hanya sesuai kehendak “pengucap”.

Meski demikian, kita tak boleh melemah, patah semangat atau loyo. Ansor ini adalah rumah kita. Rumah yang sudah terlanjur baik, elok dan seksi ini mari kita beri masa depan dengan kaderisasinya. Melalui kaderisasi kita penuh harap memangkas disparitas latar belakang pendidikan, sosial dan ekonomi agar makin menipis. Tentu perlu waktu.

Sudah menjadi maklum, Ansor, banser dan Rijalul Ansor ini memiliki basis Massa yang jelas. Gemuk. Tidak sedikit. Maka tak ayal, bahwa organisasi Ansor ini menjadi perebutan dari berbagai pihak. Agar organisasi Ansor ini tidak dijadikan objek dan “diperjual-belikan”, peningkatan kualitas kader adalah keputusan yang patut dilaksanakan secara berjeng-jang dan berkelanjutan. Kaderasi Berjen-jang dan  berkelanjutan, hal ini dapat kita amati, banyak sekali kader Ansor yang tidak mengikuti kualifikasi kaderisasi Ansor secara menyeluruh dan tuntas sesuai peraturan Organisasi, maupun AD – ART. Kembali di PAC Ansor Loceret saja, peserta Diklatsar, DTD maupun PKD masih bisa kita sebut banyak. Namun tatkala kita himbau, ajak dan instruksikan untuk ikut kaderisasi di tahap berikutnya, sedikit sekali yang bersedia. Padahal, menjadi kader Ansor yang tuntas itu, menjadi pemuda pendobrak yang mengaplikasikan nilai – nilai Ansor kepada masyarakat.

Pemuda Pendobrak

Pemuda pendobrak itu adalah Ansor. Hal ini sudah menjadi realitas yang dapat kita amati, rasakan dan mungkin sekali ada sebagian kita menjadi kebanggaan. Berdedikasi melalui Ansor tentu saja pahalanya selevel dengan menjaga negara dan kebhinekaan Indonesia. Sesuai fakta, Ansor selama ini merupakan organisasi garda terdepan dalam “menggebuk” segala bentuk apapun yang merong-rong keutuhan NKRI dan mengcounter isu – isu ideologi negara yang tidak Pancasila.

Pada konteks kekinian, Ansor secara ideologi organisasi maupun strukturnya sudah sampai pada akar rumput, alias arus bawah. Dalam hal bentuk maupun wadah. Namun pada tataran kualitas tentu masih terjadi di sisi kanan maupun kiri lapisan organisasi yang perlu ada pembenahan. Dan pada konteks ini kaderisasi bisa jadi wadah untuk pembenahan tersebut.

Pada lapisan organisasi secara yang melebur kepada masyarakat, para anggota Ansor dapat kita bilang gerbong utama arus pergerakan menuju perubahan sosial kemasyarakatan. Kita cantumkan sedemikian ini, berkah dari semangat “nderek kyai ini” organisasi Ansor dalam menggerakkan organisasinya hadir – memendar ditengah – tengah masyarakat maupun kepemerintahan dalam kualifikasi yang tak pernah dapat diduga – duga. Keberanian banser dalam menggebuk HTI maupun organisasi radikal lainnya sudah menjadi bukti konkrit. Dan ini modal utama yang tak dimiliki oleh organisasi kepemudaan selain Ansor. Bahkan kemitraan Ansor, maupun Banser bersama aparat keamanan sebegitu lengket dalam konteks keamanan, ketertiban masyarakat. Melalui slogan “nderek kyai” ini, senyatanya pekikan revolusi akhlak menjadi hambar tatkala kita sandikan secara sunyata dan bersama. Karena “nderek kyai”- nya pemuda Ansor ini meluruh kepada jiwa sampai raga sedangkan pekikan revolusi akhlak yang lagi ngetrend belakangan ini, lebih sarat ambisi politis – oportunistiknya.

Semangat Kunci Utama

Tak terlalu pongah sekiranya kita ucapkan: “ dedikasi kepada Ansor, Banser dan Rijalul Ansor pahalanya selevel dengan menjaga Negara dan kebhinekaan Indonesia.”

Akhirnya, upaya untuk menjaga gairah, semangat dan gerak nostalgia atas makna Ansor secara organisasi, baik struktural maupun kultural,  tak boleh berhenti hanya karena tak terjadi kejadian-kejadian aktual, rutinitas maupun luar biasa saja. Suasana dan situasi itu harus selalu kita jaga sebagai sebentuk pergerakan arus sosial kemasyarakatan yang membuat hidup kita— di sebuah tempat, suatu waktu dan bersama yang lain— tak sia-sia. Oleh karena itu, sebegitu perlu kita jadikan anggota Ansor yang militan dari aksi yang terbatas. Kesetiaan terhadap hal itu, mampu melampaui dan menjaga makna, simbol dan stigma  agar tak mudah terpeleset kepada kedurjanaan.

Terakhir, sepakat dengan Gus Yaqut, mari kita tetap semangat dalam menjalankan amanah yang tidak mudah, semerta kita beritakan yang terbaik untuk jam’iyyah. Sebegitu juga, saya seleras pendapat dengan Alan Bodiou, kita semua tahu dunia tak akan jadi surga; hanya di surga kita bisa tahu apa yang akan kita capai. Tapi sebab itu kita tak bisa berhenti. Semangat.

Oleh: Ronny Giat Brahmanto (Ketua PAC GP Ansor Loceret)

Digiqole ad

admin

Related post