NU Miliki Banyak Stok

 NU Miliki Banyak Stok

Di tulisan saya sebelumya, yang berjudul NU Itu; Ya Modern, Ya Tradisional, ada pernyataan yang menjelaskan bahwa di NU, ada dinamika kelahiran tokoh yang terus menerus hadir dari masa ke masa.

Mulai generasi awal, sampai generasi yang hadir sangat muda.

Kehadiran mereka memberikan dakwah solusi ditengah kehidupan masyarakat. Intinya banyak stok. Semisal Gus Baha’, Gus Reza, yang paling muda Gus Kautsar.

Sedang di Muhammadiyah, mulai generasi awal sampai pasca para tokoh tokoh besar, seperti Prof Din, Prof. Haidar, generasi dibawahnya (generasi muda), saya hari ini belum melihat generasi kuat yang eksis untuk menyampaikan solusi kekinian melalui pendekatan dakwah atau lontaran wacana untuk merespon kondisi kekinian.

Hal ini yang ingin saya sampaikan bahwa, generasi muda Muhammadiyah tidak banyak ambil peran. Lebih banyak sebagai penonton daripada sebagai aktor pencerah pemberi solusi problem ditengah masyarakat melalui dakwah atau lontaran wacana solutif yang menyejukkan.

Hal ini pula yang saya maksud adalah dalam perspektif kehidupan dakwah agama. Pencerah dalam berbagai momentum, terutama pada perebutan wacana keagamaan pada era digitalisasi.

Para Gus muda NU mampu menggeser para penceramah dai muda dengan isi konten cenderung keras. Mereka mampu menjawab problem-problem kehidupan yang bisa diletakkan sebagaimana porsi agama sesungguhnya. Tentu dengan bekal kemampuan argumentatif reprentif yang di dasarkan keluasan ilmu.

Sedang di Muhammadiyah saya belum menemukan generasi muda yang tampil terutama di media teknologi IT, dan mampu menggeser para generasi pendakwah luar yang cenderung keras dan radikal.

Bahkan yang saya tahu, beberapa kali kampus Muhammadiyah menghadirkan generasi NU untuk mengisi semacam kajian tausiyah. Diminta memberikan pencerahan terkait problem yang terus berkembang.

Bahkan kecenderungan ditingkat perebutan wacana keagamaan NU lebih dominan dalam perkembangan dialektika pensuguhan tawaran solutif dalam beragama di tengah problem hidup bermasyarakat.

Di saat Muktamar NU mengangkat tema Islam Nusantara. Muhammadiyah mengangkat tema Islam berkemajuan. Jika diukur mana yang menjadi perbincangan panjang dan keras, yang semacam menjadi perebutan wacana, adalah Islam Nusantara yang paling menjadi perbincangan panjang. Ini yang saya katakan dominan dalam rebutan wacana atau isu  keber-agamaan dan ke-islaman.

Jika yang dibicarakan adalah dinamika kaderisasi generasi muda, maka stok hari ini yang menguasai penyampaian dakwah keagamaan dari sisi subtantif adalah, para generasi muda NU yang sedang berkibar. Sedang generasi Muhammadiyah belum atau tidak muncul dalam supoting menghadirkan agama damai terutama dalam penguatan Kebangsaan.

Sekali lagi, yang saya maksud adalah bukan tokoh sepuh, tapi stok para generasi muda, para generasi millinial kekinian, yang mampu mengambil peran penyampaian dakwah keagamaan, dan mampu merebut wacana solutif ditengah problem kehidupan masyarakat, sekaligus penguatan terhadap tatanan hidup berbangsa.*

Oleh Ali Anwar Mhd

Digiqole ad

admin

Related post