NU itu; Ya Moderat, Ya Tradisional

 NU itu; Ya Moderat, Ya Tradisional

Menarik. Nahdlatul Ulama (NU), di Harlah ke 95 versi tahun Masehi, dan ke 98
versi tahun Hijriah, memiliki daya magnet luar biasa.

Bagaimana tidak?

NU menjadi primadona dalam gerakan membumikan Islam rahmatan lil alamin
(Islam Nusantara) dan mengkokohkan eksistensi Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI).

Gus AMI, Abdul Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB dalam sambutannya
diperingatan Harlah NU yang diselenggarakan DPP PKB, bahwa NU lagi menjadi
primadona. Dengan gaya khas humornya menggojlok Kyai Said, Said Agil Siradj,
ketua umum PBNU, “Apakah ini sebab Ketua Umumnya atau karena faktor
lain?”.

PDIP yang seumur-umur juga belum pernah memperingati Harlah NU, juga
ikut-ikitan memperingati.

Berbagai ucapan mengalir dari berbagai komponen. Dari PP Muhammadiyah tidak
ketinggalan. Di daerah dari institusi Kepolisian (Polres) juga mengucapkan.
Tidak lupa Presiden RI, para menteri sampai dari para kepala daerah. Juga para
budayawan. Tentu semua menggambarkan betapa penting keberadaan NU.

NU keberadaannya bukan hanya di Indonesia. Di Indonesia jelas secara
struktural organisasi komplit. Mulai dari PB, PW, PC, MWC, Ranting, bahkan Anak
Rating. Lembaga, Banom yang jumlahnya sangat banyak. Di luar negeri,
berdasarkan data Home PCI NU ada 194 cabang istimewa ( negara) yang tersebar di
dunia yang sudah berdiri secara resmi.

“NU memang tidak bisa dilepaskan dengan Indonesia. Indonesia tanpa NU
juga tidak akan bisa berdiri kokoh”.

Pernyataan ini saya ambil dari pidato dalam peringatan harlah yang
diselenggarakan PDIP. Bahwa dalam proses kemerdekaan keterlibatan para tokoh NU
sangat besar.

Bung Karno saat menyatakan kemerdekaan tidak lepas dari sosok Hadratusy
Syekh KH. Hasyim Asy’ari. Keputusan diambil dari peta arah petunjuk para kyai
NU.

Begitu pula kontribusi para tokoh NU dengan sila ke satu. Ketuhanan Yang
Maha Esa. Yang asalnya menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Disinilah NU tidak bisa dipisahkan dengan NKRI. Memang sejak berdirinya
negara sudah ikut andil terlibat.

Juga terjadi saat itu, untuk menguatkan dan mengkokohkan NKRI, untuk
melegitimasi kepemimpinan Indonesia, memberikan gelar kepada Bung Karno sebagai
Waliyul Amri Dharuri Bissyaukah (pemegang kekuasaan negara darurat).

Apa yang dilakukan para ulama terdahulu selalu memberikan legitimasi yang
berorientasi mengedepankan keutuhan kehidupan bersama dan berbangsa.
Mengedepankan politik kebangsaan.

Potensi NU.

Potensi NU bukan hanya bersifat nasional. Jika menilik sudah berdiri cabang
istimewa sebanyak 194, tentu NU akan memberikan pengaruh dan warna ditingkat
internasional (dunia).

Kalau selama ini ajaran Islam ahlusunah Wal jamaah ala NU, yaitu menebarkan
Islam yang rahmah memberikan pengaruh besar di dalam negeri, maka jika terus
dikembangkam akan mempengaruhi pola berislam rahmah di seluruh antero dunia.

Di Indonesia, NU telah mampu memberikan warna isian yang mengakulturasikan
dengan budaya Indonesia, meneruskan metode dakwah para wali, yang melahirkan
Islam Nusantara. Maka sangat mungkin atau akan memiliki peluang untuk mewarnai
peradaban dunia. Melahirkan budaya baru, hasil akulturasi budaya modern yang
positif. Akulturasi antara budaya modern dunia dengan nilai keislaman. Saya
yakin NU mampu. Dan hanya dengan pola ini kebutuhan solusi problem peradaban
dunia terjawab.

Di NU, selalu ada dinamika dari waktu ke waktu. Dinamika tokoh selalu lahir.
Masa pendirian, Mbah Yai Hasyim dsb. Dilanjut generasi Mbah Wahid, Gus Dur.
Pasca Gus Dur lahir generasi Kyai Hasyim Muzadi. Lahir tokoh intelektual yang
terkolaborasi keilmuanya semacam Kyai Said Agil Sirojd, Kyai Ulil Abshar
Abdalla, Gus Muwafiq, Gus Miftah, Kyai Marzuki.

Begitu era medsos atau digital lahir dan naik, di luar NU muncul tokoh
semacam Ustad Abdus Shomad dan kawan-kawan, yang selalu trending, karena banyak
pengikutnya. Maka di NU muncul Gus Baha’ (Bahaudin Salim), Gus Kautsar, Gus
Reza. Begitu para tokoh muda NU ini muncul, maka menenggelamkan para ustadz
yang lebih dahulu muncul yang tidak pro dakwah ala NU. Dakwah yang rahmah dan
menyejukkan.

DI NU selalu ada dinamika dan selalu mampu menjawab kebutuhan yang ada.
Terutama menyangkut kebutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara. NU selalu
memiliki stok yang “ndilalah” selalu lahir dan ada.

Justru di Muhammadiyah saya mengamati, pasca lahir tokoh Prof Amin Rais,
Prof. Din Syamsuddin, dan dilanjut Prof Haidar, sampai hari ini saya belum
melihat tokoh muda yang bisa tampil memberikan solusi-solusi ditengah problematika
kehidupan, terutama kebangsaan.

Para tokoh muda Muhammadiyah, saya melihat lebih sebagai penonton, tidak
menjadi aktor pelaku. Padahal gambaran hari ini pemudanya adalah gambaran masa
depan. Muhammadiyah yang dikenal dengan organisasi modern.

Melihat fakta demikian, jika kita bicara masa depan, baik tentang keislaman
maupun kebangsaan- keindonesiaan, maka NU akan selalu menjadi yang terdepan.
Wajar jika hari ini NU menjadi primadona. Karena selalu mampu menghadirkan
penyegaran-penyegaran dalam kehidupan beragama maupun berbangsa. NU yang selalu
berpikir moderat. Bukan tradisional.

Sudah berpikir moderat dan jauh lebih maju, tapi entah mengapa selalu
dilabeli organisasi tradisional. Atau mungkin NU itu “tam”, holistik,
utuh. Ya tradisional ya moderat. Atau mungkin pengaruh kaidah yang selama ini
digunakan. Mempertahankan tradisi lama yang baik, dan menerima tradisi baru
yang lebih baik.

Sehingga sudah melompat menghadirkan hal modern, masih terus diberi label
tradisional. Namun memang faktanya mayoritas warga NU yang mustad’afin atau
masih lemah dan jumlahnya banyak masih berpola tradisional.

Tulisan persembahan di Harlah NU
oleh Dr. M. Ali Anwar (Ketua PC ISNU Nganjuk)

 

Digiqole ad

admin

Related post