Napak Kilas dan Tilas Tradisi Keilmuan Nahdlatul Ulama’

Penulis: Achmad Fauzi Nasyiruddin

Saduran Tausiyah Gus Baha’

Dewasa ini dalam kultur dan tradisi masyarakat Nahdlatul ‘Ulama (NU) sudah terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab kuning) perlahan-lahan mulai terkikis, pudar, dan hampir hilang. Hal ini tentunya sebagai alarm bahaya, belum lagi ditambah dengan adanya fenomena populer seperti kaum borjuis yang terkesan suka mengatur kiai. Maunya mereka hanya mengatur-atur kiai, tapi tidak mau diatur oleh kiai. Bagi Gus Baha’, fenomena semacam itu hanya akan membawa ribetnya proses mengaji.

Memang bagi mereka, yakni kaum borjuis, walau biaya operasionalnya mengaji itu habis 50 juta, 100 juta, bahkan hampir mencapai separuh milyar pun bukanlah suatu permasalahan. Akan tetapi, silabus dan konstruksi mengaji haruslah sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, yaitu yang datang jamaahnya banyak untuk turut—alih-alih memakai diksi “kampanye”—menyosialisasikan doktrin nilai politiknya (baca: kepentingannya). Jadi yang oleh kaum borjuis obesesikan adalah popularitas dan eksistensi dirinya sendiri, bukan hal-hal yang menyangkut esensi mengaji untuk kemaslahatan jama’ah. Coba andaikata kalau menuruti ajaruannya kiai, ngajinya menganalisa teks-teks kitab kuning, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau. Jadi yang diinginkan oleh Gus Baha’ adalah fitrahnya kyai itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan malah sebaliknya seperti sekarang, diatur orang kaya.

Banyak yang datang minta pengajian umum, bawa mobil Alphard, saya (Gus Baha’) jawab kalau mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, itu ribet. Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah berlebihan. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan. Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur. Saya (Gus Baha’) keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Oleh Gus Baha’ langsung dijawab dengan nada menyindir, “tidak”. Sebab beliaunya kiai dari Jawa Tengah.

Sebab itulah ketika Gus Baha’ diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas, mau berangkat niat mengaji dengan lillah tanpa tendensi dengan catatan syarat di sana haruslah tersediakan naskah originalnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas. Karena nantinya kita ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.

Bukankah ini musibah? Sebab selama ini para dzurriyah, para ana-cucu cenderung ‘kurang simpati dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Di sisi lain, naskahnya para masyayikh pribumi ada banyak di luar negeri, justru anak-cucunya tidak punya. Saya (Gus Baha’) punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas, pemberian dari almaghfurllah KH. Maimoen Zubair. Akhirnya, para anak-cucu ngajinya ke sini. Coba, Sirojut Tholibin dicetak di mana-mana, termasuk di negara Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes, Kediri, seperti apa.

Kiai-kiai NU itu sudah alim. Paham hukum secara tafsil, kok malah diajak berhobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, terus disuruh goblok lagi. Seharusnya para santri zaman millenial ini ngajinya diorientasikan, bahkan sampai buka kamus-kamus seperti al-Munawwir, supaya tetap alim dan tahu problematika objek dakwah. Bukan seperti kiai yang sehari manggung tiga kali yang sama sekali belum paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?

Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik. Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak. Apakah tidak terkesan klise jika pondok NU mengundang Abdus Shomad dan Adi Hidayat? Kemungkinan besar hal itu terjadi karena ikut-ikutan trend.

Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari. Saya (Gus Baha’) hanya ingin tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika hal ini tidak segara dilaksankan, NU bisa habis (orang alimnya). Saya (Gus Baha’) di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya (Gus Baha’) di Lirboyo bilang, “Gus Kafa, saya lebih senang disambut empat santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas.“

Kemudian, setiap kali saya (Gus Baha’) ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu untuk melaksanakan ngaji bareng. Jika hal serupa digalakkan di mana-mana, 5 tahun saja memulai, NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai allamah, bukan kiai mubaligh seperti sekarang. Dan saya (Gus Baha’) melihat fenomena-fenomena semacam ini sudah di ambang bahaya Padahal di zaman kakek saya (Gus Baha’), bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya (Gus Baha’) punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek menggunakan bahasa Arab. Keilmuan dan kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah-naskah keilmuan yang sanggup menembus zaman. Jika kita masih seperti ini, keilmuan seperti itu akan terkikis habis.[]

Sumber: video yang diunggah oleh channel Youtube GMNU TV pada tanggal 4 Februari 2020 dengan judul “Curhat Gus Baha’, NU & Indonesia Saat Ini Menjadi Kiblat Dunia Islam”
Link video: https://www.youtube.com/watch?v=XtRmHXeptwY&feature=youtu.be

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *