Merawat Tradisi, Menggerus Radikalisme

Radikalisme telah mencoreng Agama Islam sebagai agama kasih sayang dimana telah dibuktikan oleh praktek hidup Rasulullah dan para sahabatnya. Nabi Muhammad SAW tidak pernah menyakiti orang lain dalam praktik dakwahnya. Karena pada dasarnya Islam sebagai agama santun tidak pernah memaksa orang lain apalagi menguasai. Nabi Muhammad SAW hanya melaksanakan tugasnya menyampaikan risalah “Ilahiyah”.

Seorang orientalis, Armstrong sendirinya membantu persepsi kebanyakan orang-orang barat menyatakan bahwa Islam adalah agama yang identik dengan pedang dan perang. (Nasaruddin Umar, 2009:148)

Disisi lain, istilah radikalisme sebenarnya bukan hal baru di kehidupan bermasyarakat, sikap individual maupun kelompok ini terus muncul dengan beragam varian. Dewasa ini, gelombang pemikiran radikalis mulai masuk secara massive di media sosial sehingga menimbulkan dampak sikap masyarakat yang cenderung terarah kesana.

Sikap radikal ini muncul karena banyak faktor, antara lain : 1) Pemahaman yang salah terhadap suatu nilai yang bisa disebabkan cara belajar yang parsial atau karena penerimaan informasi yang salah, 2) Keterpurukan ekonomi. Keterpurukan ekonomi bisa menjadi pemicu dan pemacu seseorang tidak bisa berpikir secara rasional dan mendalam sehingga tanpa disadari memicu seseorang untuk berbuat ekstrim karena berharap hasil yang drastis dan cepat, 3) Kesenjangan sosial. Kesenjangan ini bisa muncul karena sikap ekslusif, dan sikap ekslusif bisa muncul antara lain dikarenakan rasa minder, merasa paling baik dan paling benar.

Dari uraian di atas terkait dengan penyebab radikalisme bisa ditarik kesimpulan bahwa kesenjangan sosial adalah faktor utama yang harus diurai sehingga secara otomatis juga akan meminimalisir munculnya sikap radikalisme. Dalam kehidupan sosial di masyarakat Indonesia kita melihat banyak kebiasaan-kebiasaan yang itu perlu terus dijaga agar kesenjangan sosial ini tidak semakin runcing.

Tradisi yang muncul dari berbagai sumber kehidupan bermasyarakat semisal tradisi kenduren, yasinan, kerja bakti, ronda, beranjangsana ke sahabat kerabat, adalah beberapa kegiatan masyarakat yang secara pelan tapi pasti akan menggerus kesenjangan sosial karena dalam berbagai tradisi itu masyarakat akan terbiasa berinteraksi, berkomunikasi, berbagi tanpa membeda-bedakan kelas sosial. Disamping itu, secara tidak langsung melalui tradisi-tradisi tersebut masyarakat akan saling berbagi cerita tentang problem dan berusaha mencari solusi bersama.

Maka dari itu, until kita ketahui sebagai generasi muda Indonesia mari kita berusaha melestarikan tradisi tradisi positif di lingkungan agar keakraban dan keramahan dalam bermasyarakat senantiasa terjaga karena itu adalah bagian dari kunci mengurai kesenjangan sosial. Menjaga tradisi kebersamaan dan kegotongroyongan ini tentu bukan hal yang mudah tetapi harus senantiasa diperjuangkan apalagi di era teknologi ini. Anak-anak kecil yang dulu sering bermain bersama sekarang lebih cenderung menghabiskan waktu dengan gadget sehingga secara pelan turut membentuk pribadi yang individualis.

Oleh M. Mashuri (Sekretaris LAZIZNU Nganjuk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *