Menyongsong Konfercab PCNU Nganjuk, Bangkitkan Gerakan Pendidikan dan Perekonomian Melalui Kajian

 Menyongsong Konfercab PCNU Nganjuk, Bangkitkan Gerakan Pendidikan dan Perekonomian Melalui Kajian

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Nganjuk, Jatim, berencana akan menggelar Konferensi Cabang (Konfercab).

Konfercab adalah proses re-organisasi atau pembaharuan pengurus (Rais Syuriah, Ketua Tanfidziah beserta jajarannya) di tingkat Kabupaten. Sebab masa jabatan 5 tahun dalam satu periode yang sudah habis.

Kalau di Pengurus Besar (pusat) kegiatan tersebut disebut Muktamar. Di Provinsi di sebut Konferensi Wilayah (Konferwil).

Untuk Muktamar PBNU seharusnya dilaksanakan Desember 2020. Karena masih ada wabah Covid-19, maka harus diundur. Maklum, harus melibatkan banyak orang. Perwakilan seluruh Indonesia dan atau cabang-cabang istimewa dari berbagai negara.

Berdasarkan data Home PCI NU, ada 194 cabang (negara) yang tersebar di dunia yang sudah berdiri NU secara resmi.

Sedang Konferwil PWNU Jatim terakhir dilaksanakan tahun 2018 di Lirboyo Kediri, berarti akan dilaksanakan konferwil tahun 2023.

Konfercab PCNU Nganjuk, dirancang akan dilaksanakan sekitar bulan Mei 2021 ini. Tentu juga menanti perkembangan wabah yang masih berlangsung.

Untuk menyongsong Konfercab, saya bersama TIM di pasrahi untuk meng-“atak-atek” (mencari formulasi) konsep rancangan program untuk perjalanan 5 tahun ke depan.

Kemarin Sabtu, 23 Januari 2021, saya berserta TIM menggelar kajian pertama dan akan berlanjut setiap Sabtu dengan volume sekitar 4 kali. Sebab kegiatan formal Pra Konferensi akan digelar akhir bulan Februari.

Kegiatan formal tersebut menyusun dan memformulasikan rancangan program yang menindaklanjuti hasil-hasil diskusi yang sedang saya jalankan saat ini. Selanjutnya akan ditetapkan saat konferensi sebagai program PCNU untuk dijalankan 5 tahun ke depan.

Dalam kajian Perdana kemarin, mengangkat isu terkait dengan rencana pengembangan program Pendidikan, Ekonomi, dan Pertanian.

Menghadirkan pemantik Mas Irfan Tanwifi Dosen UIN Sunan Ampel dan Pendiri  Boarding School Darush Sholihin Tanjunganom Nganjuk, dan Bapak Darul Farokhi Ketua LPNU dan Direktur PT Persada Nawa Kartika.

Dalam kajian dihadiri lembaga dan Banom terkait dengan tema tersebut, antara lain LP Ma’arif, Pergunu, LPTNU, LPNU, LPPNU, Lakpesdam, Aswaja Center, Muslimat, Fatayat, Ansor, ISNU.

Dalam kajian mencari formulasi rancangan program terkait pendidikan, sebagaimana yang ditawarkan oleh nara sumber, bagaimana LP Ma’arif yang fokus menangani bidang pendidikan, yang bernaung di bawah NU, bisa menjadi pusat ide/penelitian/think thank, pusat data/informasi, pusat gerakan, pusat pelatihan, asistensi, advokasi, dan publikasi. LP. Ma’arif harus memerankan diri sebagai fasilitator, komunikator, katalisator terhadap lembaga yang bernaung di NU. Baik pendidikan formal maupun non formal.

Sedang untuk rekomendasi program yang dijalankan adalah harus dilaksanakan sharing data, sharing mata pelajaran, penguatan (capacity building), training-training, pendampingan, dan advokasi. Jika ini dijalankan, maka gerakan maju bersama sekolah/madrasah NU dari semua tingkatan dan jenis yang ada, akan bisa dicapai.

Perlu diketahui lembaga pendidikan formal yang dimiliki NU adalah PAUD, TK Khadijah, SDI, MI, MTs, MA, SMK, PTAI. Baik kepemilikan secara kelompok warga NU maupun yang di miliki oleh lembaga struktur NU.

PAUD dan TK sejak pendiri bernaung di bawah Muslimat NU. Tingkat dasar sampai menengah di bawah naungan LP Ma’arif. PTAI bernaung di bawah LPTNU.

LP Ma’arif juga menaungi lembaga non formal, yaitu TPQ dan Madin. Sedang untuk pondok pesantren bernaung di bawah Rabithah Ma’hadil Islami (RMI).

Tentu untuk mengelola secara maksimal diperlukan program perencanaan yang baik. Paling tidak harus segera meningkatkan, yaitu NU harus memiliki beberapa lembaga pendidikan unggul yang diperuntukkan kelas tertentu. Dan mempertahankan sekolah yang berbasis sosial. Sehingga NU bisa melayani kebutuhan semua lapisan.

Selama ini untuk lapisan kelas menengah ke bawah sudah banyak lembaga yang dimiliki, sedang yang untuk pelayanan kelas menengah ke atas belum banyak yang bisa melayani. Biar warga NU -yang sejarang tidak sedikit beranjak ke kelas menengah ke atas- bisa terlayani. Tidak lari ditempat lain.

Begitu pula dengan program gerakan kemandirian ekonomi. Potensi jumlah warga NU secara kuantitas, jika dikelola dengan pendirian putaran perekonomian akan melahirkannya pemasukan yang besar. Selama ini belum terkelola dengan baik.

Produk-produk pertanian, perkebunan, peternakan, yang mayoritas menjadi pekerjaan para warga NU. Tentu ini menjadi potensi yang memerlukan pendampingan untuk lebih mengoptimalkan untuk menghasilkan produk dan hasil yang optimal.

Peluang pasar yang begitu terbuka, juga bahan yang bisa diputarkan. Dalam kajian kemarin Nara sumber menyampaikan kalau perlunya untuk mengubah manset. Merubah dari sesuatu yang tidak memiliki peluang untuk bisa  menjadi peluang. Para pelaku harus yakin dan percaya diri. Yang tidak kalah penting adalah ada kemauan untuk terus belajar. Dengan demikian akan terus ada dinamika pergerakan dan percepatan dari yang sudah ada.

Tentu langkah cepat tersebut harus diformulasikan dengan baik. Berdasarkan teori manajemen Terry, harus direncanakan, diirganisir, dilaksanakan, dan dievuasi.

Semua baik perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengevaluasian bisa dijalankan dengan melibatkan semua komponen. Pelibatan secara partisipatif. Terutama para ahli yang dimiliki oleh NU.

Untuk Kajian Sabtu berikutnya, 30 Januari 2021, dengan tema “Pengembangan Pemberdayaan Sosial dan Dakwah’.

Dr. M. Ali Anwar (Koordinator Kajian Pra Konfercab PCNU/Ketua PC ISNU Nganjuk)

Digiqole ad

admin

Related post