Mengapa Shalat Tak Mampu Cegah Perbuatan Keji dan Munkar?

Sebagaimana firman Allah Swt dalam al Quran surat Al-Ankabut ayat 45 dikatakan bahwa “Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar”.

Namun sayang, pada kenyataannya banyak orang yang setiap hari melakukan shalat, namun tetap saja mereka tidak berhenti melakukan perbuatan keji, perkara munkar dan tidak melakukan kebaikan.

Akhlak mereka buruk, bicaranya kasar dan tidak sopan. Bahkan mereka kadang juga tidak jujur dalam bermuamalah, hingga berbuat curang terhadap yang lain. Latas mengapa hal ini bisa terjadi?.

Hal ini terjadi tidak lain karena shalat masih dipahami hanya sebatas formalitas untuk menggugurkan kewajiban semata yang tidak memiliki konsekwensi apa-apa terhadap kehidupannya.

Oleh karenanya, sepanjang kita masih berkutat pada pemahaman seperti ini maka jelas shalat yang kita lakukan tidak memiliki nilai dan makna apa-apa, sehingga tidak bisa mencegah perbuatan yang keji dan mungkar.

Ibnu Mas’ud pernah ditanya mengenai seseorang yang biasa memperlama shalatnya. Beliau pun berkata, “Shalat tidaklah bermanfaat kecuali jika shalat tersebut membuat seseorang menjadi taat.” (HR. Ahmad dalam Az Zuhd, hal. 159).

Pada dasarnya kewajiban menjalankan shalat lima waktu itu juga mengandung pengertian sebagai peringatan dari Allah agar manusia selalu mengingat-Nya. Ingatan kepada Allah ini berujung pada ingatan kepada taqwa yaitu menjalankan perintah dan larangan-Nya.

يَظْهَرُ أَنَّ التَّقْوَى مِنْ حِكْمَةِ مَشْرُوعِيَّةِ الصَّلَاةِ لِأَنَّ الْمُكَلَّفَ إِذَا ذَكَرَ أَمْرَ اللهِ وَنَهْيِهِ فَعَلَ مَا أَمَرَهَ وَاجْتَنَبَ مَا نَهَاهُ عَنْهُ (محمد طاهر بن عاشور، التحرير والتنوير، بيروت-مؤسسة التاريخ العربي، الطبعة الأولى، 1420هـ/2000م، ج، 16، ص. 106)

“Nampak jelas bahwa takwa merupakan hikmah dibalik disyariatkannya shalat, karena ketika seorang mukallaf mengingat perintah dan larangan Allah swt maka ia akan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya” (Muhammad Thahir bin ‘Asyur, at-Tahrir wat-Tanwir, Bairut-Mu`assah at-Tarikh al-‘Arabi, cet ke-1, 1420 H/2000 M, juz, 16, h. 106)

Selain itu, memgapa orang yang sudah rajin shalat tapi masih berbuat maksiat bisa jadi juga karena shalat yang dilakukan tidak sesuai dengan cara yang benar seperti yang diajarkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Mereka menjalankan gerakan-gerakan shalat secara zahir saja, hanya asal-asalan, tidak mau belajar ilmu dan tidak bersedia berfikir bagaimana memberbaiki shalatnya.

Suatu hari seorang sahabat memasuki masjid lalu melakukan shalat, sementara Rasulullah SAW melihatnya. Setelah selesai shalat, Rasulullah SAW bersabda: “Kembalilah dan shalatlah (lagi), sesungguhnya kamu tidak shalat”. (HR. Al-Bukhari)

Dalam hadits ini setidaknya menjelaskan, bahwa ada sebagian orang hanya melakukan gerakan-gerakan shalat, namun pada kenyataannya, mereka tidak melakukan shalat.

Hal ini disebabkan ketidakpahaman dan ketidakmauan untuk belajar masalah-masalah agama, hingga syarat sah atau sebagian rukun-rukun shalat ditinggalkan. Shalatnya pun menjadi batal dan seolah-seolah ia tidak melakukan shalat.

Ibnu Ruslan mengatakan:

وكل من بغير علم يعمل # أعماله مردودة لا يقبل
والله أرجو موجب الإخلاص # لكي يكون موجب الخلاص

“Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya ditolak, tidak diterima. Kepada Allah saya mengharap pendorong keikhlasan, supaya menjadi lantaran menuju keselamatan”.

Dengan demikian, berangkat dari semua penjelasan di atas ibadah shalat merupakan komunikasi atau hubungan antara seorang hamba dengan Allah Swt yang sejatinya harus memiliki pengaruh positif terhadap hubungan dengan yang ada di sekitar kita.

Selain itu jika shalat dilakukan dengan benar dengan menghadapkan hati kepada Allah Swt, niscaya Allah akan menciptakan dalam hatinya sebuah rahasia yang menjadikannya mampu melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang.

Allah juga akan menanamkan di hatinya rasa cinta melakukan taat, dan membenci maksiat. Sehingga shalatnya pun mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar, mampu membuatnya berakhlak yang baik dan ikhlas dalam beribadah. Wallahua’lam bisshawab.

Oleh : Arif Rahman Hakim (PWCINU dan LAZISNU Onikawa – Jepang)

Sumber : https://pecihitam.org/shalat-cegah-perbuatan-keji-dan-munkar/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *