Menasehati Diri dengan Dawuh Gus Baha’

KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha’) sosok yang sedang digandrungi sebab kealiman dan sanad keilmuan yang teruji dan mendalam. Banyak pengajian beliau yang dipublikasikan di media sosial, lalu mendapatkan respon luar biasa dari kaum muslimin, utamanya nahdliyyin. Saya dengan kedangkalan ilmu, berusaha mengambil lautan ilmu dan hikmah, juga bertabarruk kepada beliau, termasuk ketika Gus Baha’ dawuh di acara haul Mbah Kiai Abdul Wahab Hasbullah, Kamis malam (2/7).

Sebelum memulai tabarruk tulisan ini, perlu diingat bahwa tulisan jenis opini subyektivitasnya kental, apalagi sumbernya primer dan tunggal. Tidak tepat jika disamakan dengan karya ilmiah atau hasil penelitian ilmiah yang harus mengikuti aturan-aturan tertentu. Opini tetaplah opini, dapat dibantah dengan opini lain, dengan tulisan lain. Tidak perlu dibantah dengan caci maki atau kemarahan, sebab opini adalah pendapat pribadi dan bukan standar kebenaran. Meskipun begitu, tentu opini yang didukung beragam sudut pandang dan banyak fakta lebih berbobot. Sedikit yang bisa saya ambil dari dawuh Gus Baha’ di acara haul tersebut dan dapat saya jadikan nasehat untuk diri sendiri sebagai berikut:

Umat Islam Jangan Hanya Menjadi Objek

Gus Baha’ menyitir dawuh Sayyidina Ali yang mengingatkan agar umat Islam jangan hanya menjadi sasaran tembak (objek/konsumen), hal ini juga diteladankan oleh Mbah Wahab. Dicontohkan pula dengan teladan Mbah Wahab melakukan impor kain kafan, agar terbentuk kemandirian umat Islam dalam meningkatkan kecakapan, produktivitas dan sebagai pelaku, bukan penonton. Kita sudah lama memiliki budaya konsumtif, sehingga kreativitas untuk produktif, bahkan untuk memenuhi kebutuhan warga kita sendiri masih kesulitan. Bidang ekonomi masih dikuasai segelintir elite yang juga bukan warga nahdliyyin. Sehingga kemampuan awal untuk mencukupi kebutuhan sendiri perlu digenjot, begitu pula di bidang pendidikan atau lainnya. Kita perlu menjadi tuan di jam’iyyahnya sendiri, bukan hanya target pasar dan konsumen.

Solusi Kondisi Krisis Tidak Memaksakan Pemenuhan Kebutuhan Normal

Gus Baha’ menceritakan kisah Syaikh Abul Qosim Al-Junaidi dengan santri beliau ketika uang yang dimiliki tidak cukup untuk membeli ikan. Solusi tersebut dengan menghindari keinginan memaksa bahwa harus makan ikan, cari alternatif makanan lain. Di masa pandemi, kebutuhan primer harus menjadi prioritas, meskipun dalam keadaan normal sebelumnya, kebutuhan sekunder dan tersier tercukupi. Misalnya di kondisi sebelum krisis, kita bisa melakukan perjalanan wisata sebulan sekali, namun di masa pandemi hal tersebut tidak perlu dipaksakan terlaksana. Ketika ada yang memaksakan berwisata sebulan sekali di masa pandemi -padahal bukan kebutuhan primer- tentu menjadi beban, bukan hanya bagi diri sendiri, namun juga untuk orang lain dan negara. Memenuhi keinginan seperti masa normal harus dihindari untuk dipaksakan, sehingga tidak meresahkan hati dan merugikan orang lain. Kita perlu mengendalikan diri memaksakan hal-hal yang sifatnya bukan kebutuhan primer.

Karakter Patriotik dan Heroik, Salah Satunya dengan Selalu Memberi

Gus Baha’ mengisahkan Perang Tabuk (Dzatil Usroh), di mana umat Islam dengan berbagai kondisi ekonominya memberi atau menyumbang kebutuhan persiapan perang, baik dengan banyak emas, maupun sekilo bahan pokok. Keinginan untuk terus berkontribusi dan memberi kepada negara -dan sesama- sesuai kemampuan masing-masing akan membangun mental patriotik dan heroik, sehingga watak tersebut menjadi kebiasaan selalu ingin memberi, bukan selalu ingin menerima (menuntut hak). Inspirasi Perang Tabuk harusnya menjadi kebiasan dan karekater bangsa. Para pendahulu sudah mencontohkan ketika berjuang melawan penjajah. Kita perlu membangun karakter selalu memberi, selalu berkontribusi, sesuai kemampuan masing-masing, bukan malah sebaliknya, hanya menuntut.

Konsensus Ilmu dan Sanad

Gus Baha’ mengisahkan guyonan santri yang kurang beruntung sebab salah memberikan titik, kelebihan titik dari kata habbatun sauda’ (jinten hitam) menjadi hayatun sauda’ (ular hitam) sebagai obat segala penyakit. Di era banjir informasi, baik online maupun offline, kita perlu hati-hati menyaring informasi dan ilmu, apalagi buru-buru menyebarkan kepada orang lain, padahal belum kita teliti keabsahan atau kebenarannya. Keilmuan dan informasi perlu rujukan terpercaya dan sanad jelas yang suah disepakati konsensus, baik keilmuan agama maupun lainnya. Fikih disandarkan ke ahli fikih, kesehatan disandarkan ke ahli kesehatan -bukan ahli upload status-, pertanian ke ahli pertanian dan seterusnya. Kita perlu terus mengkualitaskan diri dengan update keilmuan dari sumber dan sanad yang jelas, tidak stagnan, tidak pasif atau bahkan malah menjadi pelopor penyebaran hoaks.

Perlunya Ilmu Ushul/Pokok dan Saling Menghormati

Gus Baha’ menjelaskan bahwa teks dari literatur produk fikih bisa habis seiring berjalannya waktu, sehingga untuk menyesuaikan dengan kondisi zaman, pakem-pakem dasar (ushul) harus tetap dilestarikan. Banyak ilmu –atau karakter- pokok yang mulai terabaikan, tergelincir dengan ilmu-ilmu cabang, bahkan ranting. Misalnya karakter rela menolong tergelincirkan dengan kekhawatiran bahwa yang ditolong adalah penjahat (atas nama kewaspadaan). Karakter saling menghormati (Gus Baha’ mengisahkan dengan teladan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Faqih Maskumambang) juga mulai pudar, digelincirkan oleh karakter lain yang sebenarnya tidak tepat (dipas-paskan), misalnya dengan alasan menyelamatkan umat dari kesesatan, padahal saling menghormati itu karakter pokok dan tepat berlaku di semua tempat, hanya saja dengan cara yang berbeda. Karakter-karakter pokok luhur bangsa mulai digelincirkan dengan keabu-abuan, ketidaktepatan yang dibungkus kebaikan, padahal karakter pokok tersebut primer dan menjadi asasi manusia sebenarnya.


Terakhir, “tidak perlu tersinggung jika tidak terdata BLT (bantuan sosial)” begitu salah satu dawuh Gus Baha’ .

Oleh : Wahyu Irvana
(Wakil Ketua PC Mahasiswa Ahlit Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah Nganjuk, Santri Kiai Budairi dan Muhibbin Gus Baha’, semoga terus diakui)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *