Membangun Spiritualisme Mahasiswa Dengan Matan

Maulana Al Habib Luthfi Bin Yahya, Rais Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah beberapa tahun lalu “dawuh” untuk membumikan jiwa spiritual tasawuf di kalangan mahasiswa, kemudian dibentuklah sayap dari JATMAN yang disebut dengan MATAN (Mahasiswa Ahlit Thoriqoh Al Mu’tabarroh An Nahdliyyah).

MATAN menjadi salah satu alternatif di balik mulai gersangnya jiwa spiritualisme mahasiswa yang banyak tertumpu melulu dalam idealisme intelektual dan empirisme. Secara psikologis, usia pemuda dan mahasiswa adalah usia yang belum mencapai kemapanan prinsip hidup, tahap pencarian jati diri dan pegangan hidup. Dalam tahapan ini, penjaminan sumber ilmu dan sanad yang benar menjadi salah satu aspek penting dalam pembentukan persepsi dan prinsip hidup yang kemudian akan dipakai di masa depan.


Sayyidina Ali pernah mengatakan: “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”. Di zaman yang menerapkan pendidikan modern atau kadang dikenal dengan zaman revolusi industri 4.0, kegiatan-kegiatan spiritual untuk pemuda seperti masa lampau, dengan beruzlah di gunung-gunung, menyepi di hutan-hutan, tidak keluar dari rumah atau pesantren sudah sangat sulit untuk dilakukan. Sehingga spiritualisme yang bercorak tasawuf perlu masuk ke berbagai lini, termasuk dunia kampus. Lima asas pokok (Asasul Khomsah) dari MATAN dapat diimplementasikan secara mudah oleh mahasiswa yang menghendakinya.


Pertama Tafaqquh Fiddin yakni dengan mengasah kemampuan di berbagai cabang keilmuan yang kesemua itu tentu sumbernya adalah dari Dzat Yang Maha Mengetahui (Al ‘Alim).

Kedua Ilzamut Tho’ah yaitu dengan semangat melaksanakan ketaan kepada Allah, Nabi Muhammad dan juga yang diperintah oleh risalah, seperti taat kepada ulil amri.

Ketiga Tazkiyatun Nafsi yakni dengan pembersihan jiwa, baik fisik (dari hal haram, najis dan sebagainya) maupun hati.

Keempat Hifdzul Aurad Wal Adzkar dengan mengupayakan semua waktu untuk hanya beribadah kepada Allah, baik ibadah ritual maupun sosial. Kelima adalah Khidmah Lil Ummah dengan mendarma baktikan diri untuk melayani dan bermanfaat bagi orang banyak.


Kelima asas di atas, pada dasarnya sesuai dengan tri darma perguruan tinggi dan tri identitas mahasiswa (agent of change, agent of intelectual dan agent of social control).

Sehingga dengan mahasiswa melaksanakan lima asas tersebut, secara langsung sudah melaksanakan hakikat sejatinya sebagai manusia untuk berhubungan baik dengan Allah (hablun minallah) dan hubungan baik dengan makhluk (hablun minannaas/ hablun minal alam).

Sebagai penutup, MATAN hadir bukan untuk membelenggu jiwa muda para mahasiswa dengan ritual-ritual yang menyita waktu, namun lebih ke membangun spiritualisme mahasiswa di wadah yang baik dan sanad yang jelas, sehingga ke depannya mahasiswa akan menjadi sosok yang melaksanakan segala hal dengan terukur, bijak dan mendasarkan keputusannya dengan berbagai ilmu dan spiritual yang terarah.

Penulis : Wahyu Irvana (Wakil Ketua PC Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah Nganjuk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *