Melek Literasi ditengah Kebebasan Informasi

Tentu bukan tanpa kesengajaan dan makna, ketika Allah swt memberikan perintah pertama kepada Muhammad Rasulullah saw berupa Iqra’, yaitu perintah untuk “membaca”.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita sudah menjalankan perintah membaca tersebut? Kapankah kita melaksanakan perintah membaca itu? Apa alasan kita untuk tidak melaksanakan perintah membaca? Apakah kita menanggap perintah ini tidak lagi penting, atau perintah ini tidak lagi berlaku untuk kita, dan hanya berlaku kepada Rasulullah saw saja?

Di era digital seperti sekarang ini banyak dari kita seakan-akan di “ninabobok” kan oleh zaman sehingga kita lupa dan lebih memilih membaca Chat, Pesan dari Grup Sekolah di gadget kita atau kemudian lebih sering membaca hal-hal yang bersifat sesaat daripada hal-hal yang bersifat langgeng seperti membaca Al-Qur’an, buku-buku, informasi dan artikel yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Kita tanyakan kepada diri kita sendiri apakah betul demikian?

Gadget disamping sebagai alat komunikasi juga dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mengakses segala informasi yang tentunya bermanfaat. Gadget juga dapat berubah menjadi sebuah buku elektronik yang dimanfaatkan oleh pemiliknya suatu misal “E-book”. Gadget pula yang dapat memperlancar hubungan kita dengan kerabat, teman dan keluarga yang jauh.

Untuk diketahui, hari ini Media semakin bebas berteriak, pasca kebebasan pers ditahun 1998 lalu. Belum lagi munculnya media sosial yang semua orang bebas berpendapat. Buktinya, dalam beberapa tahun terakhir industri pers bermunculan, terutama media audio visual seperti mereka yang menggunakan YouTube sebagai sarana untuk berbagi informasi baik berita, entertainment dan dakwah Islam.

Habib Umar pernah mengatakan, mengapa banyak para dai lebih sering berdakwah di media sosial bukan di masjid, karena pengunjung masjid sekarang sepi, mereka lebih banyak beralih ke gadget, ke Internet. Akhirnya ladang dakwahnya disitu.

Secara sederhana, kita terutama warga Nahdliyyin diharuskan untuk ikut dan berperan aktif dalam mengawal arus informasi global. Dengan memanfaatkan teknologi digital, informasi apapun dapat kita jadikan makanan kita sehari-hari namun dengan cara selektif pula dalam memilih tulisan mana yang dapat kita baca. Dengan Media, kita juga dapat membagikan tulisan kita kepada orang lain yang bersifat mengajak kepada kebaikan atau informasi yang bermanfaat bagi aktivitas sehari-hari semisal “Cara Memasak Sayur Asem yang Sehat”.

Sebagai penutup, saya mengutip sebuah tulisan dari Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj (Ketua PBNU dan Pengasuh Pesantren Al-Tsaqofah, Jakarta), beliau mengatakan bahwa kita perlu melahirkan “Jihadis Literasi” yang punya militansi tinggi, bekerja tanpa iming-iming, serta ditempa kegigihan, ketelatenan. Radikalisme yang akarnya juga bersumber dari kurang baca sudah seharusnya ditandingi dengan menggalakkan gerakan literasi untuk modernisasi dan membentengi masyarakat dari pengaruh radikalisme. Kita yakin, literasi bisa mengikis Radikalisasi.

Penulis :
Haafidh Yusuf
(Redaktur Situs www.nunganjuk.or.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *