Kyai Manan, Sosok Humanis dan Peduli

 Kyai Manan, Sosok Humanis dan Peduli

“Kyai Manan”. Saya biasa memanggilnya.

Nama komplitnya Drs. KH. Sumanan Hidayat, MM.

Kyai Manan memiliki multi sketsa dalam hidupnya.

Saya menyebutnya multi sketsa karena memiliki semacam banyak wajah atau gambar yang selalu tiada finisnya.

Cara menjalani hidup, mengalir ke berbagai muara. Namun selalu tidak diberi titik sebagai tanda finis. Bahkan semakin hari terus berkembang.

Bagaimana tidak? Kyai Manan menjadi seorang pendidik di salah satu MA di Ngronggot. Dan Menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi di Nganjuk dan Kediri.

Kyai Manan juga seorang pengasuh pesantren, dimana para santrinya memiliki berbagai latarbelakang yang unik.

Ada yang yatim, piatu, yatim piatu, tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna wisma, mantan preman, mantan pemabuk, korban KDRT, dan sebagainya.

Mereka bukan saja berasal dari Nganjuk dan Jawa saja. Tapi juga dari luar Jawa. Semacam Sumatra dan sebagainya.

Kyai Manan juga seorang penceramah yang laris. Jadwalnya padat. Baik berceramah di pengajian umum, di mantenan, mengisi ceramah di TV, di Radio, bahkan di undangan khusus para pejabat.

Kyai Manan juga seorang aktifis sejak muda. Saat menjalani kuliah, aktif di Senat Mahasiswa dan PMII. Sampai sekarang aktif di organisasi NU. Jabatan di PCNU sebagai A’wan. Juga aktif di MUI Nganjuk. Di partai politik sebagai wakil ketua Dewan Syuro DPC PKB Nganjuk. Partai yang dilahirkan NU.

Kyai Manan, dalam menjalani hidupnya sangat humanis. Dengan siapapun dan di manapun selalu chare. Selalu menyapa dan tersenyum. Meng-orang-kan orang. Ngemong atau memberi arah kepada yang muda. Taat dan mengikuti petuah yang lebih tua.

Humor, guyon gojlokan, menjadi bumbu saat jagongan. Kondisi demikian sering penulis alami saat bertemu dengan Kyai Manan.

Terlihat sangat sabar dan telaten melayani siapapun. Sangat ringan membatu orang yang minta pertolongan. Tidak melihat latar belakangnya apa. Kyai Manan dengan semangat membantunya.

Pernah suatu ketika, saya sedang bertamu ke ndalem beliau.

Seperti biasa. Saya jujuk rumah belakang. Ternyata Kyai Manan tidak ada,. Masih keluar sebentar, kata Bu Nyai Manan. Maka saya dipersilahkan masuk.

Tidak lama, sekitar 10 menit saya menunggu, kyai Manan datang membonceng seseorang yang dalam kondisi (mohon maaf) tidak bisa melihat (tuna netra). Usia sekitar hampir 60 tahunan.

Setelah duduk jagong saya tanya dari mana. Ternyata mengambil orang tersebut dari Barong naik sepeda motor. Yang berjarak sekitar 7 km dari rumah kyai Manan.

Lantas menceritakan kalau orang tersebut yang kondisi sangat kekurangan, tidak bisa melihat (tuna netra), mau ikut dan mondok di pondok yang kyai Manan asuh. Rumahnya Ponorogo.

Dia diambil dari Barong sebab, saat naik kendaraan menuju pondok Kyai Manan diturunkan tidak sampai tempat. Tapi diturunkan di Barong. Lantas Kyai Manan dihubungi dan mengambilnya sendiri dengan naik sepeda motor butut kesayangannya.

Itulah Kyai Manan. Berkali-kali menyampaikan ke saya. Kasihan orang seperti ini. Semua orang belum tentu mau merawatnya. Terkadang anaknya sendiri tidak mau merawat. Sehingga tidak heran santri Kyai Manan ada beberapa yang sudah jompo.

Terhadap santrinya yang kondisi demikian, yang (mohon maaf) kurang sempurna pikirannya, Kyai Manan sendiri yang memandikan pagi dan sore. Pernah suatu ketika, saat saya sowan sedang memandikan para santri yang mengalami keterbatasan tersebut.

Sungguh semua merasakan sangat berat kehilangan njenengan Kyai. Punya panutan, bukan sekedar menyampaikan (oral) tentang humanisme dan kepedulian belaka. Tapi engkau telah memberikan pelajaran dan keteladanan bagi kami semua.

Semoga semua menjadi amal kebaikan Njenengan Kyai, untuk bekal menghadap sang Kholiq. Dan semoga semua kesalahan diampuni-Nya. Allahumma Husnul Khatimah, Al Fatihah.

Ali Anwar Mhd

Digiqole ad

admin

Related post