Konstribusi Pesantren di Tengah Gempuran Modernitas

 Konstribusi Pesantren di Tengah Gempuran Modernitas

Salah satu cara penyebaran dan pengajaran agama Islam di Indonesia dilakukan oleh lembaga pendidikan yang dikenal dengan pesantren. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan terkenal dengan kebudayaannya yang khas, baik dari pola hidup yang bersahaja dan hingga tradisi pendidikan yang berkarakter. Kehadiran pondok pesantren di Jawa tidak lepas dari peran wali songo. Adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) yang dianggap sebagai ulama’ pionir penyebar Islam di Pulau Jawa. Dilanjutkan oleh generasi seterusnya yang merupakan anak atau sahabatnya.

Pondok pesantren disinyalir hasil Islamisasi sistem pendidikan lokal yang berasal dari Masa Hindu-Buddha di Nusantara (Agus Sunyoto : 2018). Dengan memadukan 3 unsur  yaitu  ibadah untuk menanamkan dan memperkuat iman manusia,  tabligh  sebagai sarana dakwah atau syi’ar agama islam, ilmu dan amal sebagai sarana untuk memperdalam ilmu dan sekaligus praktek pengamalannya dalam hidup bermasyarakat. Kiprah pesantren dalam berbagai hal sangat dirasakan oleh masyarakat. Salah satu yang menjadi contoh utama adalah pembentukan kader-kader ulama dan pengembangan keilmuan Islam.

Berbeda dengan kondisi diera modern ini, atau dimasa yang kerap disebut dengan era masyarakat milenial, yaitu  kondisi masyarakat yang terlalu cenderung dan sangat bergantung dengan kecanggihan teknologi. Modernitas membawa pengaruh watak dan karakter anak didik.

Tidak heran jika pengaruh modernitas membawa dilema bagi para orang tua.  Pada hakikatnya kecanggihan teknologi (internet) itu ibarat pisau bermata dua. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tercermin dari pengaruh modernitas, bisa saja menghantam tatanan nilai-nilai moral anak didik yang kurang dibekali dengan pendidikan agama yang kuat. (Ilahi, 2012).

Modernisasi yang terjadi di Indonesia sudah tidak dapat lagi dibendung dan sangat sulit untuk dikendalikan. Budaya yang berasal dari luar, bebas masuk bahkan hampir tanpa hambatan. Ditambah dukungan teknologi yang tersebar ke seluruh pelosok negeri ini. Sadar atau tidak, hal tersebut dapat mengikis nilainilai tradisi lokal bahkan menjadi penyebab merosotnya moralitas generasi muda di kalangan masyarakat Indonesia. Moralitas menjadi sesuatu yang dasar dan sangat penting melekat pada diri seseorang. Moralitas merupakan suatu ciri manusia yang tidak dapat ditemukan pada makhluk selain manusia, hewan tidak memiliki keharusan, sedangkan pada manusia, diharuskannya memiliki moral yang disandarkan pada kesepakatan masyarakat setempat dalam beretika sebagai tatanan nilai berinteraksi.

Disamping itu ada faktor lain yang dapat mempengaruhinya kemoerosotan moralitas seperti faktor sosial maupun faktor keluarga. Lingkungan yang notabene tempat pertama kali kita berinteraksi turut andil dalam pembentukan karakter. Di dalam rumah keluarga merupakan tempat sosial paling kecil seseorang belajar tentang tatakrama. Orang tualah yang membentuk bagaimana karakter anak. Bagaimana anak tersebut diawasi bahkan dilimpahi kasih sayang yang cukup. Hal tersebut nyatanya belum cukup membentuk karakter anak di tengah gempuran modernisasi.

Salah satu upaya pendidikan moral. Pendidikan yang diharapkan bisa menanggulangi atau memperbaiki moral anak bangsa, yang memiliki tujuan yang sangat mulia seperti yang tertuang dalam UU NO 20 TH 2003 PASAL 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.  Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif dan mandiri.   

Tradisi Kesantrian Sebagai Proses Penanaman Moralitas Santri

Sebagai lembaga pendidikan pesantren, pondok pesantren memiliki cara atau tradisi sebagai upaya menanamkan pendidikan moral kepada para santri, salah satunya yakni melalui berbagai tradisi kesantrian yang dijalankan para santri. Tradisi-tradisi tersebut tentunya memiliki nilai-nilai moral yang dapat ambil serta dipahami oleh masyarakat pesantren dalam rangka membentuk kepribadian ataupun memperbaiki moralitas seorang santri.

Wes to leee, samian pokok e mondok o, mboh mengko nang pondok arep turu tok, opo arep polah opo ae gak popo penting awakmu krasan, betah urip nang pondok

Ungkapan ini seolah menggambarkan keputus asaan orang tua dalam mendidik anak sehingga pesantrenlah sebagai tujuan akhir untuk meminimalisir kenakalan anak. Paling tidak senakal nakal nya anak dipondok anak tersebut masih tetap melakukan sholat 5 waktu,sekolah, mengaji ,dan  tadarus al-qur’an.  

Dari sini seolah olah lembaga pendidikan pesantren tidak hanya sebagai sarana menuntut ilmu, ibadah dan dakwah, akan tetapi juga bisa dikatakan sebagai sarana pembentukan karakter atau sarana pembenahan karakter santri.

Di instansi lembaga pesantren di era modern ini seorang santri tidak akan hanya di ajarkan ilmu pengetahuan agama saja akan tetapi seorang santri juga akan di ajarkan ilmu pengetahuan umum  dan mereka juga akan diajarkan tentang pembiasaan hidup bermasyarakat, seperti  gotong royong, disiplin, tanggung jawab, mandiri, toleransi, rendah hati terhadap sesama, musyawarah, saling berbagi, sholat berjamaah, tadarus al-qur’an, dan  mengaji.

Kegiatan kegiatan inilah yang menjadikan pendidikan di pondok pesantren memiliki ciri khas. Dimana kegiatan santri itu bisa lebih terawasi dan terkontrol mulai dari bangun tidur sampai akan tidur lagi. Di sisi lain komunitas lingkungan pesantren juga sangat mempengaruhi terhadap pembentukan  karakter santri atau anak didik. Lingkungan pesantren merupakan komunitas orang orang sholih, orang baik, yang mana waktunya itu lebih banyak di gunakan untuk beribadah, hal ini juga bisa mendorong seorang anak untuk lebih semangat dalam menjalankan kebaikan dan juga bisa menjadi motivasi seorang anak untuk lebih disiplin lagi dalam menjalankan setiap aktivitas nya.

Tegaknya sebuah nilai dijadikan sebagai rujukan utama dalam proses belajar mengajar dipesantren, karena didalamnya telah dibahas bagaimana cara santri menghormati kiyai, guru, ilmu, orang tua dan lain sebagainya. Hanya dengan itulah seorang santri akan memperoleh ilmu manfaat dan barokah, serta mampu mempertahankan nilai-nilai yang sudah menjadi ciri khas pesantren.

Sehingga tidak salah jika pesantren dikatakan sebagai lembaga pendidikan tradisional islam dengan segala tujuan dan harapannya untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran islam dengan menekankan pentingnya moral agama islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari.

Sayangnya hal ini bertentangan dengan pandangan masyarakat yang menganggap lulusan Pondok Pesantren tidak bisa sukses. Padahal banyak lulusan pesantren melahirkan orang-orang hebat yang tak hanya menguasai ilmu dunia tetapi juga berbudi pekerti luhur. Bekal yang ditanamkan pesantren tidak hanya bagaimana seorang manusia hidup tetapi menyiapkan ‘hidup setelah hidup’.

Bekal menjadi sukses dunia akhirat adalah kesiapan fisik lahir dan batin yang sehat, Berakhlak mulia, pengetahuan luas dan semangat menggapai cita-cita. Selain itu ‘tirakat’ adalah keistimewaan santri Pondok Pesantren.

Dalam hal ini santri berupaya meninggalkan hal—hal yang menyenangkan dalam rangka mendapat ilmu bermanfaat. Tirakat tersebut biasanya berupa Puasa Dawud, Puasa Senin Kamis atau Puasa Mutih (Hanya makan nasi putih dan minum air putih). Dengan demikian, Kesuksesan seorang santri tidak bisa dibandang materialisnya saja. Tetapi bagaimana perjuangan mereka menggapai kesuksesan dunia akhirat.

M. Ngainun Na’im (Berbek)

Digiqole ad

admin

Related post