Kitab Kuning dan Kajian Virtual

Oleh : Ali Anwar Mhd

Maraknya kajian kitab kuning (kitab-kitab tradisional) melalui media on line, terjadi baru-baru ini, bebarengan dengan penyebaran wabah Covid 19, dan bertepatan dengan bulan suci ramadhan. Sebelumnya setahun terakhir sudah ada tapi belum se-samarak (ngetrend) seperti saat ini.

Kitab-kitab kuning tersebut, biasanya dikaji di pesantren-pesantren, masjid-masjid, mushalla-mushalla, dan tempat lain secara langsung dan bertatap muka antara santri dan kiai atau ustadz.

Maraknya kajian on line, disebabkan adanya wabah yang menyebar dan membahayakan kehidupan manusia, sehingga pesantren, masjid, mushalla dan tempat lain harus meliburkan kajian dengan cara bertatap muka dan berkumpul. Supaya tetap berjalan kajian kitab kuning tersebut dengan cara kajian melalui media yang ada, yaitu media sosial yang bersifat on line.

Efek positif yang dilahirkan dari kajian model demikian, karena bersifat terbuka (open kajian), tidak lagi santri dan Kiai atau ustadz mengajarnya dengan bertatap muka bagi yang mengikuti kajian seperti selama ini, tapi orang yang di luar komunitas kajian (biasanya) juga bisa mengikuti secara terbuka. Siapapun bisa menyimak melalui media on line berupa You Tube, FB، IG dan media lainnya.

Hal demikian berarti telah terjadi transformasi metode, pola, dan tradisi. Ada perubahan mendasar dalam melaksanakan kajian kitab kuning saat ini selama ramadhan. Dari pola konvensional bandongan menuju pola modern virtual (media sosail). Dengan jarak dan jangkauan yang lebih luas, juga dengan santri atau pengikut kajian yang bebas. Siapa saja bisa mengakses untuk mengikuti kajian.

Lahirnya pola baru kajian ini tentu harus disambut gembira oleh kaum santri, di tengah pandemi Corona ternyata memberikan hikmah tersendiri dalam hal kajian kitab kuning. Yakni melahirkan perlompatan pola kajian.

Pertanyaan kritisnya. Apakah sudah berjalan dengan baik dari kajian yang dijalankan para pembalah kitab melalui via media on line? Tentu belum maksimal, karena semua adalah hal baru, terutama bagi para kyai yang sepuh. Hanya sedikit yang memang sudah terbiasa menggunakan pola tersebut, terutama kiai muda.

Ada yang dalam kajiannya saat kita menyimak suaranya kurang keras. Mungkin faktor peralatan yang masih ala kadarnya. Ada yang berisik, bahkan suara disekelilingnya kedengaran. Mungkin karena lokasi atau tempat yang dipilih belum diantisipasi bahwa suara disekelilingnya bisa mengganggu.

Dan masih banyak hal lain yang belum membuat kajian yang dilaksanakan para pembalah kitab tersebut nyaman bahkan sangat nyaman untuk dinikmati. Kedepan harus menjadi evaluasi secara peralatan maupun tempat harus disempurnakan.

Catatan lain yang saya tangkap, mungkin pola kajian. Tidak sedikit para kiai pembalah kitab lebih banyak membaca memaknai kitab dengan Jawa gandul saja, tapi sedikit memberikan penjelasan. Tentu bagi santri pesantren sudah bisa faham yang dimaksudnya kiai, tapi harus diingat bahwa pengikut kajian sudah terbuka secara luas di media sosial. Siapapun di luar santri bisa mengikutinya.

Untuk itu, maka harus dicari pola yang sedikit simple dalam kajian, dengan cara harus memberikan penjelasan secara gamblang dari maksud yang terkandung dalam kitab yang dikaji.

Sementara saya membagi dua jenis pembaca (pembalah) kitab kuning dengan melalui media sosial. Pertama lebih cenderung teks, dimana kiai atau ustadz lebih mengedepankan makna gandul dan sedikit penjelasan di luar kitab. Apa yang ada di kitab atau teks tersebut yang diambil dan diberikan.

Kedua jenis konteks, dimana kiai atau ustadz sedikit membaca teks makna gandul Jawa, tapi lebih banyak memberikan penjelasan dengan mengaitkan dan merangkai berbagai disiplin ilmu dalam rangka menguatkan isi kajian yang ada di dalam kitab.

Penulis.
Ketua PC ISNU Nganjuk dan Dosen Pascasarjana IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk.

Nganjuk, 5 Mei 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *