Kiai Pendidik dan Pejuang Telah Pergi

Penulis : Ali Anwar Mhd (Santri Kiai Djamal)

Kiai Djamal kini telah pergi selamanya. Iya, KH Djamaluddin Abdullah, BA., salah satu pengasuh Pondok Pesantren Miftahul UIa Nglawak Kertosono Nganjuk.

Kepergian beliau mengagetkan banyak pihak, termasuk saya. Walaupun sudah sejak lama semua tahu beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Usianya memang sudah sangat sepuh, sekitar 94 tahun.

Saya menjadi santri beliau selama tiga tahun. Ketika menyelesaikan studi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) sambil mukim di Pesantren yang beliau asuh.

Waktu belajar di MAN, selama satu tahun diajar oleh beliau, dengan mata pelajaran khat. Khat adalah pelajaran menulis arab dengan pendekatan seni kaligrafi.

Saat itu usia beliau sekitar 65 tahun. Saya masih ingat saat mengajari menulis huruf kaligrafi dasar dengan berbagai model. Jenis khat nasakh, rifki, dewani dan jenis lainnya. Sampai menghasilkan karya kaligrafi.

Di pesantren, setiap pagi sehabis subuh beliau mengaji kitab tafsir jalalain. Sehabis ngaji tafsir, sebelum sekolah formal pagi, saya mengaji Alquran ke beliau di Asrama Al Halim. Masih ingat betul bagaimana cara memberikan contoh membaca Alquran dengan makharijul huruf (tempat keluarnya huruf) dan tajwid (panjang pendek bacaan) dengan fasih (benar). Membutuhkan waktu panjang untuk menguasainya. Waktu itu yang diulang berhari-hari adalah surat Al-Fatihah.

Saat malam hari, sehabis magrib juga ikut mengajar secara langsung di Madrasah Diniyah, beliau mengajar ilmu nahwu sharaf (ilmu tata bahasa/gramatikal untuk membaca kitab kuning). Beliau mengajar ilmu nahwu kitab Jurumiah dan Imriti. Mengajar kitab sharaf Amtsilatu Tasrif.

Setiap malam Jumat setelah Isya’, selain KH Abdul Qodir Al Fattah, tidak jarang beliau menunggui para santri yang sedang melaksanakan kegiatan muhadlarah (latihan berpidato). Saat akhir acara beliau memberi sambutan, masukan, motivasi, dan do’a kepada para santri yang sedang berlatih berpidato.

Begitu luar biasanya beliau mendidik para murid di madrasah dan para santri di pesantren. Dengan usia yang tidak muda waktu pagi siang malam dengan penuh tanggungjawab mendedikasikan seluruh hidupnya untuk dunia pendidikan melalui pesantren yang diasuhnya. Dengan telaten mendampingi para murid dan santrinya, sehingga saat ini banyak yang telah sukses dan bertebaran untuk berkontribusi di berbagai profesi dan tempat.

Terakhir, di pesantren yang saya ingat selama hampir dua tahun, setiap merapikan rikma (rambut), beliau selalu meminta saya untuk membantunya, yang sebelumnya dijalani santri senior bernama Kang Samuri. Semenjak Kang Samuri lulus saya yang menggantikan posisi tersebut.

Selanjutnya setelah saya lulus dan keluar dari pesantren, dan lanjut studi, setelah saya selesai kuliah strata satu dan pulang kampung, baru mulai intens kembali bertemu dan bergiat dengan beliau. Saat itu beliau menjadi Ketua Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) Jawa Timur.

Beliau berjuang bersama ketua Umum PP Pergunu Kiai Asep Abdul Chalim pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Umah Pacet Mojokerto, untuk menata organisasi Pergunu supaya lebih mapan dan rapi. Serta memperjuangkan Pergunu untuk bisa diakui sebagai Badan Otonom (Banom) NU oleh PBNU. Akhirnya berhasil menjadi Banom di muktamar NU Makasar tahun 2010.

Tahun itu, di tingkat Pengurus Cabang yang menjadi ketuanya adalah H. Sholihin Nasruddin, M.Hi, menantu beliau. Saya diajak untuk menjadi pengurus Pergunu di Kabupaten Nganjuk.

Selama saya aktif di Pergunu, saya melihat beliau sangat getol untuk menata dan mengelola organisasi yang menaungi guru-guru NU tersebut.

Saat menjadi ketua PW Pergunu Jawa Timur, berbagai acara sukses digelar, termasuk beberapa acara di Nganjuk dan di luar kota Nganjuk di Jawa Timur.

Dalam perjalanan selanjutnya, saya sering sekali menemui beliau hadir dalam forum-forum acara PCNU Nganjuk. Dimana beliau adalah salah satu jajaran mustasyar dikepengurusan PCNU Nganjuk sampai sekarang.

Di usianya yang sudah sepuh, saya melihat selalu energik dan semangat dalam mendedikasikan diri di organisasi. Masih selalu memiliki ide dan gagasan segar dalam pengembangan organisasi.

Kini beliau panjenengan (Mbah Djamal panggilan akrab para santri) sudah menghadap Robb. Saya sowan terakhir di ndalemnya saat pulang dari umroh, sekitar hampir pertengahan 2019. Yang saat umroh saya sempat mencari beliau setelah mendapat kabar dari cucunya sedang melaksanakan umroh saat itu. Namun karena bersisipan waktu dan tempat sehingga tidak bisa bertemu.

Saat beliau di Makkah saya berada di Madinah. Saat saya menuju Makkah selang beberapa hari belum sempat bertemu, beliau sudah berada di Madinah. Padahal saat itu saya sangat berharap bisa bertemu di Makkah dan bisa didoakan beliau, dan saya bisa mengamini doa yang di panjatkan di depan ka’bah.

Beliau dipanggil Rabb di bulan ramadhan, hari ke 3 puasa. Semoga semua khilaf diampuni, dan semua amal baik diterima, serta dijadikan ahlul Jannah.

Giat perjuangan baik di dunia pendidikan maupun organisasi semoga menjadi amal jariah yang akan terus menerus mengalir, dan juga menjadi inspirasi para santri dan generasi setelah beliau. Terutama semangat berkhidmat tanpa lelah untuk mengabdi pada santri, organisasi dan negeri.

Selamat jalan Kiai Djamal, saya salah satu santri yang bersaksi bahwa, panjenengan adalah orang baik, orang baik, dan orang baik. Hanya doa terbaik untuk panjenengan yang insyaallah akan terus saya panjatkan.

Selamat jalan menuju peristirahatan terindah untuk panjenengan.

Penulis adalah santri tahun 1991-994

Nganjuk, 28 April 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *