Kiai Ahmad Badrus Soleh , Teladan Penakluk Hawa Nafsu

 Kiai Ahmad Badrus Soleh , Teladan Penakluk Hawa Nafsu

Al-Huda Bonggah, itulah sebutan pondok pesantren yang diasuh oleh sosok kharismatik yaitu K.H Ahmad Badrus Sholeh yang sering dipanggil dengan sebutan “Mbah Mad”. Pondok pesantren ini berada di dusun Bonggah desa Ploso kabupaten Nganjuk.  Adapun perintis pondok ini adalah ayahanda beliau yaitu kiai Abdulloh Hasyim yang dikenal dengan Mbah Bonggah yang kala itu beliau berprofesi sebagai dukun pijat khususnya anak-anak.Mbah Mad juga pernah menyandang gelar “Santri”  yang menimba ilmu di pondok pesantren Mojosari yang kala itu diasuh oleh Kiai Mansyur Sholeh. Dari pondok Mojosari Mbah Mad memperoleh banyak prinsip hidup yang beliau terapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat.

Setiap insan pasti memiliki prinsip atau cara pandang tersendiri dalam menghadapi kehidupan guna mencapai makna kehidupan yang bahagia dan selamat dunia akhirat. Mbah Mad memiliki prinsip yang sangat diprioritaskan sebagaimana dawuh beliau yang sering disampaikan pada santri dan masyarakat yaitu “sopo wonge seng mentingne ajeg ngaji, jama’ah limang waktu lan tahajjudan, insyaallah diparingi selamet dunyo akhirote” (barang siapa yang mementingkan istiqomah ngaji, jama’ah lima waktu dan tahajjudan, insyaallah diberi keselamatan dunia akhirot). Sehingga dawuh ini merupakan salah satu prinsip atau konsep yang telah tertanam mantap pada Mbah Mad. Pertama “Ngaji”, merupakan rutinitas Mbah Mad yang tidak pernah berhenti. Beliau sangat mementingkannya serta senantiasa memotivasi santrinya untuk semangat dan bersungguh-sungguh dalam mengaji (menuntut ilmu, terutama ilmu agama). Tidak hanya santri, namun masyarakat setempat yang sudah berusia tua juga dimotivasi untuk senantiasa mengaji, karena kewajiban mengaji tidak ada batas usianya. Selain itu “ngaji” sangat berperan sebagai peningkatan SDM sehingga mampu mengantarkan pada kehidupan yang baik dan bahagia. Dawuh Kedua “Jama’ah limang waktu” yang memiliki peran sosiologis dalam berinteraksi dengan sesama serta memperkukuh ukhuwah. Seseorang yang rajin dan istiqomah berjama’ah lima waktu berindikasi bahwa dia memiliki kedisiplinan dan jiwa gotong royong yang tinggi. Dan prinsip yang ketiga “thajjudan”, dimana thajjudan merupakan amaliyah istemewa dan waktu yang mustajab untuk berdo’a, sehingga Mbah Mad sangat menjaga keistiqomahannya. Walaupun tergolong amaliyah yang sangat berat untuk dijalankan, namun menurut sudut pandang beliau tahajjudan merupakan bentuk kesungguhan usaha batiniyah atau bisa digolongkan dengan tirakat dan meningkatkan kualitas spiritual seseorang.

Dari ketiga hal yang dikonsepkan Mbah Mad untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat bersesuaian sekali jika kita implementasikan dalam zaman yang penuh dengan kecanggihan ini. Perlu disadari bahwa zaman yang super canggih ini menyuguhkan keserbacepatan dan keserbamudahan, sehingga hawa nafsu juga mendapatkan kemudahan untuk menggiring seseorang dalam hal-hal negative atau maksiat. Dan menurut keterangan belaiu, ketiga konsep diatas sebagai upaya untuk menaklukkan hawa nafsu yang ada pada diri setiap insan. Karena apabila seseorang bisa menaklukkan hafa nafsunya, maka dia akan menggapai kebahagiaan dunia akhirat. Oleh karena itu dibutuhkan upaya-upaya untuk bisa menaklukkan hawa nafsu.

Mbah Mad adalah sosok kiai kharismatik yang sangat mewanti-wanti pada santri dan masyarakat bahwa betapa dahsyatnya hegemoni hawa nafsu yang berpotensi memporak porandakan kehidupan seseorang. Dan hawa nafsu menyuguhkan kesenangan dunia  untuk mengelabuhi jiwa seseorang yang kemudian ia akan mudah diarahkan pada hal-hal yang negatif atau ma’siat. Maka tidak heran jika dalam hadits menjelaskan bahwa perang yang paling besar adalah perang terhadap hawa nafsu diri sendiri. Mbah Madmengilustrasikan hawa nafsu seperti sepeda motor, apabila kita tidak bisa menaiki dan mengendalikan sepeda motor maka kitalah yang akan dinaiki dan dikendalikan motor, bisa kita bayangkan betapa remuk dan sakitnya kita jika dinaikkemudikan hawa nafsu. Selain itu beliau juga sering mengutip mutiara pesan dari guru beliau Kiai Mansyur Sholeh Mojosari tentang hawa nafsu yang beliau ibaratkan seperti anjing galak yang menghadang jalan, sedangkan kita orang yang akan melewati jalan tersebut. Maka salah satu jalannya adalah memanggil atau meminta tolong pada orang yang memiliki anjing tersebut untuk mengendalikannya karena segalak apapun anjing akan menurut dan patuh pada tuannya, sehingga kita bisa melewati jalan dengan aman. Terinspirasi hal ini, Mbah Mad menyeru santri dan masyarakat untuk senantiasa meminta tolong pada yang menciptakan hawa nafsu yaitu Allah S.W.T dengan memperbanyak pendekatan dan memohon do’a agar diberi keselamatan dunia akhirat.

Adapun pendekatan diri pada Allah yang sering dicontohkan dan dimotivasikan Mbah Mad sebagai upaya penaklukkan hawa nafsu yaitu sebagaimana dawuh beliau “sopo wonge seng ajeg tahajjudan, insyaallah ora gampang nuruti howo nafsu” (barang siapa yang istiqomah tahajjudan, insyaallah tidak mudah menuruti hawa nafsu)dan dawuh beliau “poko’e ojo sampek nganggur” (pokoknya jangan sampai menganggur). Kedua mutiara pesan ini beliau contohkan dengan keteladanan beliau dalam menerapkannya secara totalitas.

Kutipan dawuh “Sopo wonge seng ajeg tahajjudan, insyaallah ora gampang nuruti howo nafsu” menjadi alasan dari Mbah Mad sebagai penaklukan hawa nafsu adalah dikarenakan  shalat tahajjud merupakan amaliyah yang baik, dan sifat mendasar hawa nafsu adalah selalu mengajak pada keburukan, maka shalat tahjjud bisa menjadi media pengendali dan penakluk hawa nafsu. Tak hanya demikian, dalam sholat tahjjud merupakan waktu dimana sangat baik untuk berkeluh-kesah, mengadu dan memohon do’a pada Allah, karena waktu demikian adalah waktu istijabah. Mbah Mad dan pengurus pondok pesantren biasanya membangunkan santri pada dini hari jam 3 lebih 5 menit atau jam 3 lebih 10 menit. Sembari menunggu shubuh tiba, Mbah Mad melanjutkan dengan berdzikir, sedangkan para santri dihimbau untuk tidak tidur kembali dan mengisi waktu dengan membaca al-qur’an atau belajar.

Berlanjut dengan dawuh Mbah Mad “poko’e ojo sampek nganggur”  yang juga menunjukkan sebuah upaya untuk mencegah timbulnya inisiatif buruk yang dirangsangkan oleh hawa nafsu. Mbah Mad memanglah sosok yang giat bekerja, disiplin dan tidak suka terhadap istilah “nganggur”. Sekitar 20 tahun yang lalu santri masih didominasi oleh santri yang hanya mondok tanpa sekolah formal, sehingga banyak santri yang diarahkan untuk mengisi waktu paginya dengan berbagai keterampilan seperti berdagang, bertani dan berternak. Kalaupun dipagi harinya santri tidak memiliki kesibuakan, maka santri diarahkan harus belajar atau ngaji. Tak cukup demikian beliau juga mendirikan sebuah kios bunga, koprasi, dan ternak sapi perah yang dikelola pondok sebagai media pembelajaran keterampilan santri. Hal ini adalah upaya untuk menjauhkan diri dari istilah “nganggur” yang berdampak pada psikologis seseorang, yang kemudian bisa berlanjut pada tumbuhnya inisiatif dan kegiatan nonfaedah bahkan mengarah kepada keburukan atau ma’siat. Perlu diketahui bahwa seseorang yang “nganggur” hawa nafsunya akan semakin tinggi untuk mengarah pada hal-hal yang negatif.

Dari berbagai keteladanan Mbah Mad dalam menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat dengan berbagai prinsip yang beliau terapkan sebagaimana dawuh-dawuh beliau diatas, ternyata berdampak positif dalam kehidupan beliau yang dapat kita lihat dengan nyata. Adapun contoh dampak positif tersebut yaitu diberikannya anugerah keluarga yang harmonis dan religius, terciptanya iklim ekonomi yang kondusif, memiliki kepribadian yang istimewa terutam kesabaran beliau yang sangat terkenal, dan lembaga pendidikan yang beliau asuh (terutama yang paling terkenal adalah lembaga pendidikan TPQ Al-Huda dan MI Al-Huda Bonggah Ploso Nganjuk) mengalami perkembangan yang signifikan baik dari kualitas atau kuantitasnya. Dan perlu diingat bahwa “penaklukan hawa nafsu” adalah kunci dari keberhasilan-keberhasilan beliau yang patut kita teladani bersama untuk menggapai kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat.

Oleh: Indra Prayugo Wachid (Santri PP. Al-Huda Bonggah)

Digiqole ad

admin

Related post