Kesalehan Sosial Atasi Covid-19, Belajar dari Red Zone di Lingkungan Kang Huri

Berbagai upaya pencegahan covid-19 telah dihimbau baik dari umaro maupun ulama, begitupun dengan kalangan Nahdliyin yang langsung sam’an wa thoatan jalankan amanat dan instruksi. Tidak terkecuali pada tingkat PC NU Nganjuk, baik di seluruh banom dan lembaganya sampai tingkat ranting terbawah.

Namun, mengenai himbauan physical distancing tidak dapat berjalan mulus sesuai rencana. Sebab tidak dapat dipungkiri, bahwa masyarakat dibawah begitu beragam baik diferensi sosial maupun ekonominya. Sehingga ketidakmaksimalan upaya physical distancing, tidak dapat serta merta menjadi instruksi yang memaksa.

Baru-baru ini, Kabupaten Nganjuk fix menjadi Redzone dengan total 5 orang positif Covid-19. Sehingga jumlah ODR pun meningkat sejumlah orang yang berinteraksi dengan pasien positif, khususnya dari keluarga dan orang terdekat. Ditambah, arus mudik dari luar kota dengan berbagai zona berbeda.

Salah satunya, pasien positif Covid-19 berasal dari Kecamatan Baron. Wilayah dimana Moch. Masyhuri Direktur NU Online Nganjuk tinggal.

Kang Huri sapaan akrabnya, selanjutnya berbagi pengalaman tentang bagaimana mengatasi Covid-19 agar tidak menyebar, khususnya menerapkan kesalehan sosial di lingkungannya bersama Lazisnu, untuk memaksimalkan himbauan penerapan physical distancing. Tujuannya, untuk mengurangi ODR dan paling parah pasien positif covid19 agar tidak lagi bertambah.

“Belajar dari lingkungan,”, kata Kang Huri mulai bercerita, pada Ahad (05/04) kemarin.

Seiring Warga positif covid-19 di lingkungan Kecamatan Baron, maka ODR dan ODP menjadi banyak. Namun warga yang beragam diferensi sosial ekonomi tidak cukup hanya menerima instruksi, baik physical distancing maupun melengkapi standar minimum alat pelindung diri (APD) ketika keluar rumah, seperti masker, berpakaian lengan panjang, dan sedia hand sanitizer.

Hal penting untuk memutus mata rantai covid adalah mendisiplinkan masyarakat agar diam di rumah, kecuali ada hal penting yang harus dilakukan ketika luar.

“Saya melihat, mengamati dan merasakan bahwa mendisiplinkan itu tidaklah mudah, terutama ODP (orang dalam pemantauan) , ODR (Orang dalam resiko) dan OTG (orang tanpa gejala) masih butuh mencari nafkah harian,”, ungkap kang huri.

“Terutama ketika harus mengisolasi diri di rumah selama 14 hari, namun tidak memiliki stok pangan, sehingga harus tetap bekerja harian.”, lanjutnya.

Di sisi lain, shock psikologis masyarakat justru meningkat, jika terpaksa keluar rumah sehingga membuat keresahan dan kecemasan.

“Ternyata faktor yang bisa mendukung itu (physical distancing), mereka harus punya persediaan pangan, jika tidak ada maka sulit,”, jelas Kang Huri.

“Disinilah kepedulian kita bersama, menerapkan kesalehan sosial, sebagaimana yang kaya bisa mensupport yang tidak mampu, terutama pada orang ODP ODR dan orang-orang tengah berjuang mengisolasi diri, dengan membantu persediaan pangan bagi mereka yang berdiam di rumah.”, tandasnya.

Lanjut Kang Huri menjelaskan kesalehan sosial bukan hal baru dalam ajaran Islam, Kesalehan sosial tersebut dapat berupa penyaluran zakat infaq dan shodaqoh. Apalagi kini dengan adanya LAZISNU, mempermudah penyaluran harta dari yang punya harta lebih kepada orang yang lebih membutuhkan.

Kesalehan sosial ini juga senada dengan himbauan KH. Ma’ruf Amien kepada muslim di Indonesia, untuk mempercepat distribusi harta kepada yang lebih membutuhkan, Ta’jil Zakat Mall, begitu beliau menyebutnya sebagai salah satu solusi menekan angka positif covid-19.

Begitupun Kang Huri yang kini menjadi sekjen LAZISNU Nganjuk, berikan stimulasi percontohan agar kalangan wajib zakat dan orang yang sedang berlebih, untuk segera mengeluarkan hartanya dan mempercepat penyaluran zakatnya. Dimulai dari dirinya sendiri, dimana Kang Huri telah menyalurkan sebagian gajinya tersebut kepada masyarakat.

“Mari kita bersama galakkan gerakan peduli tetangga terutama dalam bentuk kepedulian pangan.”, pungkas Moch. Masyhuri direktur NU Online Nganjuk yang menjadi warga Baron, kecamatan dimana telah ditetapkan sebagai Redzone.

Redaktur/Editor: Moh. Maftuhul Khoir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *