Cancel Preloader

Kerjasama PP Muslimat NU Dengan Kemenkes Dalam Germas Dan Pencegahan Stunting Di Ponpes Mojosari, Nganjuk

Dalam berbagai even, Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU berhasil mengadakan kerja sama dengan Kementerian RI dalam kiprahnya untuk kemaslahatan umat. Setelah beberapa waktu lalu mengadakan MoU dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi atau Menkominfo dalam penanggulangan berita hoaks, kali ini bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam germas dan pencegahan stunting. Sebuah acara yang dikemas dengan tajuk Mobilisasi Germas dan Pencegahan Stunting itu diselenggarakan di Pondok Pesantren Al Mardliyah, Mojosari, Nganjuk pada Kamis (12 – 9 – 2019).

Peserta kegiatan ini adalah Pengurus Muslimat NU Cabang Nganjuk, Ketua PAC Muslimat NU se-Kabupaten Nganjuk, ibu-ibu yang tergabung dalam majelis taklim, para santriwati dari berbagai pondok pesantren di Nganjuk dan beberapa tamu undangan. Peserta lebih mengkhusus pada kaum hawa, karena kegiatan ini bersentuhan langsung dengan dunia kewanitaan.

Germas atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat merupakan sebuah gerakan yang bertujuan untuk memasyarakatkan budaya hidup sehat serta meninggalkan kebiasaan dan perilaku masyarakat yang kurang sehat. Sedangkan stunting adalah permasalahan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam rentang waktu yang cukup lama.

Kabupaten Nganjuk merupakan satu di antara 4 kabupaten di Indonesia, yang mengalami masalah stunting. Tiga kabupaten lainnya adalah Pandeglang Jabar, Banyumas Jateng, dan Hulu Sungai Kalsel. Oleh karena itu, keempat kabupaten tersebut menjadi sasaran kegiatan ini. Di Nganjuk sendiri tercatat ada 12 desa yang mengalami permasalahan gizi buruk. Dengan diadakannya kegiatan semacam ini, diharapkan masalah stunting akan semakin berkurang.

Hal ini senada dengan apa yang telah disampaikan oleh Ibu Hj. Sri Minarni, S.Pd., Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Nganjuk. Dalam sambutannya, Beliau menjelaskan angka stunting di Kabupaten Nganjuk tergolong tinggi.

“Jumlah anak yang mengalami gizi buruk atau dalam bahasa yang sekarang lebih populer disebut dengan stunting, di Kabupaten Nganjuk tergolong tinggi. Dengan diadakannya kegiatan ini, harapan kami akan mengurangi angka tersebut sehingga anak yang mengalami stunting akan semakin teratasi.” jelasnya

Sementara dari Pimpinan Pusat Muslimat NU sendiri, Ibu dr. Hj. Erna Yulia Soefihara mengungkapkan bahwa realisasi dari germas dan pencegahan stunting diwujudkan dengan dibentuknya laskar, yaitu Laskar Muslimat NU dan Laskar Majelis Taklim. Tugas utama laskar ini adalah berpartisipasi aktif ikut menyukseskan germas dan pencegahan stunting.

“Langkah selanjutnya akan diberikan dana stimulan kepada 5 pondok pesantren untuk menanam sayuran yang terefleksi dalam program Kebun Sehat”, paparnya lebih lanjut.

Sedangkan dari Kementerian Kesehatan diwakili oleh Ibu Marlina Ginting, Bidang Promosi Kesehatan memaparkan banyak hal. Dalam sambutannya, Beliau melontarkan statement bahwa sehat itu bisa di mana saja, termasuk di pondok pesantren. Kemitraan antara Kemenkes dengan PP Muslimat NU ini sudah terjalin 9 tahun, yaitu sejak 2010. Masalah kekurangan gizi pada remaja mendapat perhatian utama. Di pondok, di samping mendapat pendidikan agama dan umum juga mendapat edukasi tentang program gizi. Pemerintah Kabupaten Nganjuk bisa melibatkan Laskar Germas dalam berbagai program kesehatan supaya bisa berkomitmen dan ikut ambil bagian dalam menuntaskan masalah kesehatan di Kabupaten Nganjuk.

Untuk lebih menguatkan kegiatan ini, dibacakan pula deklarasi Laskar Muslimat NU Peduli Germas dan Stunting yang dipandu oleh 4 orang pembaca deklarasi dan ditirukan oleh seluruh peserta yang hadir.

Dalam acara ini diadakan pula penandatanganan Komitmen Bersama Penggalangan Kemitraan dan Partisipasi Masyarakat dalam Germas dan Pencegahan Stunting oleh Kemenkes, PP Muslimat NU, Pengurus PC Muslimat NU Nganjuk, dan beberapa elemen masyarakat.

Lomba “Isi Piringku”, sebuah lomba yang menyajikan pola gizi seimbang juga mewarnai kegiatan ini. Acara diakhiri dengan pemberian santunan kepada 50 dhuafa dan 50 anak yatim yang rencananya akan diberikan sendiri oleh Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa, namun Beliau tidak dapat datang, karena harus menghadiri pemakaman almarhum BJ Habibie di Jakarta. Meski demikian, acara santunan tetap berjalan dengan lancar.

Red/ Yayuk Winarti

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *