Kepada Politisi dari NU, Rais Syuriah: Kalau Lupa Pada NU, Kita Tinggalkan Saja

Kyai, kita telah memasuki tahun baru hijriyah, bagaimana pencapaian program-program NU di tutup tahun ini Kyai ?                 

Alhamdulillah, walaupun kita hari ini menghadapi dinamika yang cukup berat salah satunya pandemi Covid 19, PCNU Kabupaten Nganjuk cukup berhasil mewujudkan amanat konferensi di Pondok Pesantren Krempyang lalu, yang selanjutnya ditajamkan pada musyawarah kerja di Pondok Pesantren Gedongsari. Keberhasilan tersebut diantaranya, LDNU dengan pengajian rutin kitab tanbihul ghofilin-nya, NU Care – LAZISNU dengan gerakan kemandirian, LP Ma’arif NU dengan penguatan lembaga pendidikan dan pengajaran aswaja, LPBI dengan tanggap bencananya, LPNU dengan pendirian pabrik NU Cles-nya, Aswaja NU Center dengan penguatan ideologi melalui seminar dan medsosnya, LBM NU dengang kajian dan bahtsul masailnya, semua berjalan on the track sesuai hasil musyker yang di rencanakan.                     

Apa kendala yang selama ini di hadapi dan program apa yang masih menjadi PR bagi PCNU Kabupaten Nganjuk Kyai ?                                

Secara umum sudah berjalan baik karena kita punya pengurus yang militan hasil dari gemblengan Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU). Meski demkian, ada beberapa yang masih menjadi pekerjaan rumah, seperti peningkatan kemampuan literasi bagi kaum muda NU, kecakapan bermedsos bagi kader muda NU, peningkatan manejman pengelolaan lembaga pendidikan di kalangan NU, pendirian badan usaha untuk kemandirian jam’iyyah dan sebagainya ini menjadi agenda yang harus di lakukan secara serius.

Seiring tantangan global yang semakin menguat, hari ini kita ada pada posisi persaingan ideologi modern. Disini ada ideoligi wahabi yang punya dana melimpah, ada ideologi trans nasional Hisbut Tahrir yang merupakan alat proksi dari negara kapitalis, ada syi’ah dengan jaringan dan manajeman modern. Maka dari itu kita Nahdlatul Ulama harus benar-benar berbenah, kalau tidak ingin habis dalam percaturan abad modern.     

Bagaimana untuk gerakan koin dan gerakan kemandirian yang lain Kyai ?                                   

Alhamdulillah pada kwartal satu ini (Januari – Juni 2020) Gerakan Koin NU Peduli bisa mencapai 1,3 Milyar, pabrik NU Cless bisa berdiri dan hasilnya sangat kita rasakan, kita bisa beri beasiswa ratusan pelajar lewat program ABILA (Anak Binaan NU Care-LAZISNU), bangun rumah dhuafa, ribuan sembako dan bantuan uang kepada fakir miskin, hampir semya mwc punya kantor, tiap ada bencana NU bisa hadir dengan bantuan, dan NU Nganjuk cukup bisa mandiri tanpa menunggu bantuan dari yang lain termasuk dari Pemerintah.

Selain itu, ketika virus Covid-19 mulai masuk Kabupaten Nganjuk, melalui NU Care-LAZISNU dan LPBI NU sinergi dengan lembaga dan banom melakukan desinfeksi masal, membagikan masker dan sembako. Bahkan gerakan ini mendahului Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Ini berkat Gerakan Infak, Zakat dan Sedekah dari kita sendiri.

Kyai, didalam peran politik, NU Nganjuk periode ini nampaknya cukup berhasil, hal ini dibuktikan dengan duduknya kader-kader NU yang ada di kursi DPR yang jumlahnya bertambah daripada sebelumnya, memiliki  Bupati dari NU yang selalu viral di media begitu juga Wakil Bupatinya, disusul dengan Sekretaris Daerah (Sekda) yang juga berideologi Nahdlatul Ulama dan beberapa kepala dinasnya. Pertanyaannya, untuk saat ini bagaimana peranan mereka untuk kemajuan Nahdlatul Ulama khususnya di Kabupaten Nganjuk ini Kyai ?                             

Periode ini sebetulnya NU Kabupaten Nganjuk cukup berat menghadapi dinamika politik daerah, karena harus melewati event Pilpres, Pilbub, Pilkada dan Pileg. Apalagi sebelumnya dahului oleh Pilkada Jakarta yang membawa politik agama dan punya pengaruh dahsyat pada moment politik setelahnya.

Walaupun demikian, alhamdulillah berkah bimbingan sesepuh, kekompakan pengurus PCNU Kabupaten Nganjuk, Banom, MWC  dan seluruh elemen, PCNU Kabupaten Nganjuk bisa memiliki 11 kader di DPR Daerah, 9 dari PKB dan 2 dari PPP.

Sementara itu, pasangan Kepala Daerah (Bupati dan Wakil Bupati)  yang diusung bersama bisa menang, yang akhirnya kita juga memiliki beberapa Kepala Dinas yang NU dan Sekda NU.

Namun, kami melihat peran yang dilakukan oleh mereka belum maksikamal untuk program Nahdlatul Ulama, utamanya kebijakan anggaran daerah belum bisa sinergi dengan lembaga dan banom NU dan sampai hari ini PCNU Kabupaten Nganjuk belum begitu banyak menerima manfaat dari kader yang di tempatkan pada pos yang ditempati. Kami berpandangan bahwa memang terdapat kader NU yang benar benar NU dengan yang cuma berkultur NU. Walhasil militansi dan kepeduliannya sangat jauh.

Kita ingin kedepan yang kita dukung kalau bisa kader NU, seandainya tidak ada baru kita pilih secara kultur NU. Tapi masih banyak ruang waktu untuk membuktikan khidmat mereka kepada NU. Jika  mereka peduli ya kita pilih lagi, kalau lupa pada NU, ya kita tinggalkan.

Pentanskrip: Hafidz Yusuf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *