Kemenekraf Kerja Sama dengan Hollywood untuk Meningkatkan Potensi Pasar Indonesia

Jakarta – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) berencana untuk menjalin kolaborasi dengan Hollywood Chamber of Commerce (HCC) dalam upaya memaksimalkan potensi pasar Indonesia. Di tengah rencana tersebut, pengamat film Hikmat Darmawan mengemukakan bahwa terdapat pasar lain yang lebih menjanjikan dibandingkan Hollywood. Nota Kesepahaman (MoU) dengan HCC diharapkan dapat ditandatangani pada pertemuan World Conference on Creative Economy (WCCE) yang akan berlangsung pada tahun 2026. Kerja sama ini ditujukan untuk memperkuat hubungan ekonomi kreatif bilateral melalui sembilan bidang strategis, termasuk industri film, televisi, dan produksi media.
Perluasan Pasar Film Lokal
Hikmat Darmawan menekankan pentingnya memprioritaskan perluasan pasar domestik untuk film lokal. Ia berpendapat bahwa membangun pasar yang beragam bagi film Indonesia dengan memperkuat konsumsi dalam negeri adalah langkah yang lebih krusial. “Kita tidak terlalu memerlukan film asing saat ini,” ungkap Hikmat dalam sebuah wawancara. Ia percaya jika pemerintah ingin menjalin kerja sama internasional, Hollywood bukanlah pilihan utama untuk memperkuat industri perfilman Indonesia di masa depan.
“Kalaupun ada yang kita butuhkan adalah membangun, menjalin kerja sama strategis dengan kekuatan-kekuatan baru yang saat ini, jika dilihat dari tren, bukanlah Hollywood,” tambahnya.
Peluang dari Tiongkok dan Korea Selatan
Menurut Hikmat, Tiongkok merupakan salah satu negara dengan potensi besar untuk diajak bekerja sama dalam industri film. “Negara yang paling kuat di Asia saat ini mungkin adalah Cina,” jelasnya. Selain itu, Korea Selatan juga dianggap sebagai mitra yang realistis dan konkret bagi industri perfilman Indonesia. “Korea Selatan bisa dianggap sebagai proksi untuk Amerika, namun tetap menarik untuk menjalin kerja sama di Asia Tenggara. Ada beberapa investor dari Korea Selatan yang bersedia berinvestasi di film Indonesia,” lanjut Hikmat.
Ia juga menyatakan bahwa pertukaran sumber daya dengan negara-negara berkembang akan lebih strategis daripada bergantung pada Hollywood. “Secara estetika dan budaya, menjalin kerja sama strategis dengan negara-negara Global South dalam sepuluh tahun ke depan mungkin akan lebih menguntungkan ketimbang sekadar berhubungan dengan Hollywood yang sedang berada dalam masa sulit,” ungkap Hikmat.
Tantangan bagi Industri Hollywood
Hikmat mengungkapkan bahwa saat ini Hollywood tengah menghadapi berbagai tantangan yang mengharuskan mereka mencari pasar baru untuk dikuasai. “Meskipun Hollywood masih merupakan raksasa industri film, mereka sedang mengalami kesulitan, sehingga membutuhkan pasar baru untuk dijelajahi,” ujarnya. Dalam konteks ini, ia memperingatkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk-produk film asing tanpa mendapatkan manfaat yang seimbang.
Ia memberikan catatan penting mengenai potensi risiko yang muncul dari kerja sama antara Kemenekraf dan HCC, terutama terkait dengan keberlangsungan film lokal. “Kita perlu waspada terhadap kemungkinan adanya dominasi dan eksploitasi terhadap film-film lokal kita. Apakah perjanjian ini akan membawa dampak negatif bagi pasar yang sudah susah payah kita bangun?” tanyanya.
Urgensi Transparansi dan Proteksi
Hikmat juga menggarisbawahi perlunya transparansi dalam isi perjanjian yang akan dibuat, agar publik dan pelaku industri bisa ikut mengawasi. “Pemerintah harus bersikap terbuka, agar kekhawatiran kita dan banyak pihak lainnya tidak terbukti benar,” tegasnya. Selain itu, ia mengingatkan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah tegas dalam melindungi ekosistem film lokal yang sedang berkembang.
- Menjaga pasar film lokal agar tidak terancam oleh dominasi film asing.
- Memastikan transparansi dalam setiap perjanjian kerja sama internasional.
- Melakukan proteksi terhadap film lokal yang baru tumbuh.
- Mendorong kerjasama dengan negara-negara berkembang lainnya.
- Menilai secara kritis keuntungan dari setiap kolaborasi yang dilakukan.
Komitmen Kemenekraf untuk Kolaborasi Internasional
Di sisi lain, Kemenekraf telah menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama dengan Amerika Serikat dalam kerangka Kemitraan Strategis Komprehensif 2024–2028, khususnya dalam bidang ekonomi kreatif. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa AS merupakan tujuan utama ekspor ekonomi kreatif Indonesia yang mencapai nilai 3,31 miliar dolar AS, didominasi oleh subsektor fesyen dan kriya.
Dalam sebuah pertemuan, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mendiskusikan peluang kolaborasi dalam WCCE 2026 yang akan diselenggarakan di Jakarta. Dalam diskusi tersebut, rencana MoU dengan HCC juga menjadi salah satu agenda untuk memperkuat kerjasama di sembilan bidang strategis.
Langkah-Langkah Kolaborasi Sebelumnya
Kolaborasi sebelumnya telah meliputi berbagai forum bisnis, perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI), hackathon AI, serta dukungan terhadap pengembangan talenta digital dan esports. Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes LBBP) RI untuk Amerika Serikat Dwisuryo Indroyono Soesilo juga menekankan potensi besar subsektor ekonomi kreatif Indonesia. Ia berharap agar kerjasama konkret dapat segera diwujudkan.
Dalam konteks ini, penting bagi Kemenekraf untuk merumuskan strategi yang jelas dan terukur dalam menjalin kerja sama internasional. Hal ini tidak hanya akan memperkuat posisi Indonesia di pasar global, tetapi juga memastikan bahwa industri film lokal tetap mendapatkan ruang untuk tumbuh dan berkembang tanpa tereduksi oleh dominasi produk asing. Dengan demikian, kerja sama yang terbentuk dapat memberikan manfaat yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.
➡️ Baca Juga: Selandia Baru Raih Kemenangan Bersejarah atas Chile Menjelang Piala Dunia
➡️ Baca Juga: DLSS MFG Dapat Diaktifkan pada RTX 2000, 3000, dan 4000 Series Melalui Modifikasi




