Kasih Sayang Allah SWT (Penjagaan Allah kepada manusia dari Sombong dan Syirik serta Kehendak Baik-Nya)

Oleh: Gus Ahmad Shofi B

Allah Menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Segala sesuatu pun yang ada di bumi hanyalah titipan, adapun sang pemiliknya adalah Allah. Oleh karena itu tidak sepantasnya kita sebagai hamba bersikap sombong. Karena yang sepatutnya sombong itu adalah punya Sang Pemilik, bukan seseorang yang diberikan titipan. Tak salah jika manusia dilarang untuk sombong atau membanggakan dirinya, dalam situasi apapun.

Begitupun dengan syirik, unsur luar yang menyusup pada fitrah manusia yang bertauhid kepada Allah. Syirik ini tidak sekedar menyembah Tuhan selain Allah, melain perbuatan syirik lainnya yang masuk dalam kategori syikir Khofi (ringan). Apapun perbuatan yang masuk dalam syirik tentu merupakan perbautan yang merusak rububiyah dan  kelak tidak ada harapan untuk mendapatkan ampunan-Nya. Dua hal tersebut diatas, kesombongan dan kemusyrikan adalah dua hal yang memiliki pengaruh negatif bagi manusia, dan karena itulah Allah melarang keras kita atas perbuatan dua tersebut. Kita berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjauhi keduanya dan terus berdoa untuk diberikan kemampuan dalam menjauhi keduanya.

Usaha dan doa yang terus dijalankan agar tidak berdekatan dengan sombong dan syirik akan berbuah indah pada waktunya, sehingga di waktu yang tepat Allah akan hadirkan ikhlas dalam hati. Sebab bentuk penjagaan Allah untuk manusia yang terhindar dari sombong dan syirik adalah hadirnya ikhlas. Sebagaimana kutipan Fudhail bin Iyadl yang tertulis dalam kitab al Adzkar Imam Nawawi:

Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, beramal karena manusia adalah syirik, dan Allah memelihara kamu dari keduanya, itulah namanya ikhlas”

Sebuah penjelasan yang semakin menjelaskan bahwa orang yang bebas dari sombong dan syirik itu senantiasa bersih dari amaliyah yang ingin mencari perhatian manusia. Sebab seluruh perkataan, perbuatan, dan kebaikannya hanya untuk Allah dan mengharap ridha-Nya. Demikian disebut oleh Sahl bin Abdullah at Tusturi sebagai amalan yang berat, karena dengan demikian nafsu tidak memiliki tempat dan bagian lainnya. Tidak heran Ibnu Qayyim al-Jauziyah memberi perumpamaan:

“Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.”

Tidak mudah memang, namun bukan berarti tidak mungkin ikhlas itu hadir dalam hati kita. yang perlu diingat adalah ikhlas merupakan penjagaan Allah ketika manusia telah bebas dari sombong dan syirik.

Dengan demikian langkah pertama untuk menciptakan ikhlas dalam hati adalah kita berusaha semaksimal mungkin agar diri ini tidak membawa kesombongan dan kesyirikan dalam jiwa. Sebab jika masih terbesit sombong dan syirik, maka ikhlas enggan menetap. Sebab salah satu cara agar kita dapat mencapai rasa ikhlas adalah dengan mengosongkan pikiran disaat kita sedang beribadah kepada Allah. Kita hanya memikirkan Allah, shalat untuk Allah, zikir untuk Allah, semua amal yang kita lakukan hanya untuk Allah, dan semuanya hanya tertuju hanya pada Allah. Adapun sombong dan syirik itu masih menyisakan ruang untuk selain-Nya.

Inna sholati wa nusuki wamahyaya wamamaati lillahi robbil ‘alamin

Oleh karena itu, ketika Allah menjaga manusia dari sombong dan syirik, maka yang ada adalah sebuah keikhlasan yang datang mewarnai, yang mana ikhlas ini tidak akan muncul kala sombong dan syirik masih tertanam dalam jiwa setiap insan yang bernyawa.

Kriteria seorang hamba yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi orang yang baik

Setiap manusia tentu ingin menjadi orang yang baik. Karena sejatinya kehidupan akan membaik ketika manusia pun juga memulai kebaikan dari dirinya sendiri terlebih dahulu.  Kebaikan yang selalu mereka dambakan, bukanlah tak berarti. Melainkan kebaikan itulah yang akan membantu mereka meraih ridho Allah Ta’ala. Karena Allah adalah dzat Yang Maha Baik, maka Allah juga mencintai hamba yang baik.  Dalam kitab Nashoihul Ibad, Karya Syekh Nawawi Al-Bantani yang merupakan syarah atas kitab Syekh Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Asqolani (Ibnu Hajar Al-Asqolani) dijelaskan, terdapat 3 kriteria seorang hamba yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi orang yang baik.

Syekh Nawawi berkata:
اذا أراد الله بعبد خيرا فقهه في الدين  

Ketika Allah menghendaki seorang hamba untuk menjadi orang baik, maka Allah menguatkan agamanya.  Ciri yang pertama adalah agama seorang hamba tersebut dikuatkan oleh Allah. Dikuatkanlah keimanannya. Sehingga hamba tersebut tetap teguh menapaki jalan kebaikan, meskipun godaan malang melintang. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW,

Barang siapa yang dikehendaki menjadi baik maka dikuatkanlah ia dalam perkara agama.

 Lebih lanjut dalam kitab Nashoihul Ibad dikatakan:
و زهده في الدنيا

Dizuhudkanlah hamba tersebut didalam perkara dunia. Hamba yang baik, adalah hamba yang tidak tergiur sedikitpun akan gemerlap dunia (dunia adalah segala sesuatu yang memalingkan kita dari urusan akhirat). Ia berpikir bahwa dunia hanyalah tempat singgah semata. Hanya perkara yang fana. Hamba yang baik hanya mengingat satu perkara, yaitu janji Allah akan kehidupan akhirat yang kekal adanya. Ia ingat betul akan peringatan Rasulullah tentang perkara dunia, bahwa:

حب الدنيا رئس كل خطيأت
Cinta dunia adalah pokok dari segala keburukan.

Imam Nawawi menjelaskan ciri ke tiga dengan kalamnya :
 و بصره بعيوب نفسه 

(Dan diperlihatkanlah aib-aib dalam dirinya sendiri). Hamba yang baik tidak sibuk dengan sesuatu yang tidak berguna. Mencari-cari aib sesamanya, menyematkan predikat buruk dan sesat kepada sesama, Membicarakan keburukan orang lain. Terlebih fenomena hijrah dewasa ini, yakni (beberapa) merasa dirinya lebih baik dan memandang orang lain terlalu buruk. Sungguh, hal tersebut jauh dari diri seorang hamba yang baik. Hamba yang baik adalah hamba yang tidak pernah membicarakan keburukan orang lain.  Ia oleh Allah disibukkan dengan aib-aib pribadinya. Ia disibukkan dengan berintrospeksi diri, Muhasabatun Nafsi. Mencari-cari kekurangan diri sendiri untuk kemudian ia perbaiki agar kelak ia benar-benar menjadi hamba yang baik. Hal ini senada dengan perkataan ulama ahli hikmah:

طوبى لمن شغله عيبه عن عيوب الناس

Beruntunglah bagi orang yang disibukkan dengan aib pribadinya dari pada aib-aib manusia. Terlepas dari itu semua, Ba’dul Hukama’ (sebagian ulama ahli hikmah) juga menerangkan bahwa sesungguhnya manusia sudah bisa meraba-raba nasibnya apakah ia ditakdirkan manjadi orang baik atau sebaliknya yaitu dengan melihat aktifitas sehari-harinya. Apakah ia dimudahkan dalam kebaikkan ataukah tidak. Jika iya, maka ia benar-benar ditakdirkan menjadi orang baik. Karena mereka (ulama ahli hikmah) berkata:

كل ميسر لما خلق له

(Tiap-tiap manusia itu dimudahkan untuk apa ia diciptakan). Jadi, ketika seorang hamba selalu diliputi dengan kebaikan-kebaikan, maka beruntunglah manusia itu. Ia ditakdirkan menjadi orang baik. Jika sebaliknya, na’udzubillah min dzalik.

Segala puji bagi Allah yang menakdirkan kita menjumpai bulan Rojab yang mulia ini. Bulan dimana Allah meletakkan Nur Muhammad dari Sayyid Abdullah bin Abdul Mutholib kepada Sayidah Aminah binti Wahb, bulan diman Allah meng-isra’-mi’rajkan Nabi Muhammad SAW, bulan dimana Nabi Kita hanya berjarak sejengkal dari Allah SWT ketika peristiwa Mi’rajnya, bulan dimana Allah menganugerahkan perintah Sholat kepada kita sebagai sarana mi’raj kita kepada-Nya, bulan dimana Allah menjadikannya sebagai bulan menanam, sedangkan Sya’ban adalah bulan untuk menyirami. Dan Romadlon adalah bulan dimana kelak kita akan memanen (memetik) apa yang telah kita tanam dan sirami tersebut, sementara panennya sendiri adalah ‘itqun minannar (pembebasan dari api neraka), semoga Allah memudahkan kehendak baik kita dan menjadikan kita sebagai golongan yang mencintai kebaikan serta bersama dengan yang baik-baik, Amin.

Wallahu A’lam

*Penulis adalah Pengurus Aswaja NU Center PCNU Nganjuk, Alumni PP Miftahul Huda Gadingkasri Malang dan Pengasuh PP Tarbiyatul Qur’an Al-Faqihiyah Sonopatik Berbek Nganjuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *