Jangan Sampai Pesantren Menjadi Cluster Baru Covid-19

Nganjuk | nunganjuk.or.id – Pembahasan era New Normal dan draft panduan NU New Normal PC NU Nganjuk memiliki dua sisi pandang. Harapan baru dan kekhawatiran suksesi penerapannya, warnai suasana prokontra dalam Talkshow IPNU IPPNU Koalisi satu di Gedung MWCNU Sawahan.

“Jangan sampai pesantren menjadi cluster baru covid-19”, tegas Evi Yulfiana delegasi IPPNU Sawahan sampaikan pendapatnya. Senin (1/06/2020) lalu.

Selain itu Rekanita Evi juga menekankan adanya perhatian lebih dari pemerintah, dalam penyediaan anggaran untuk memenuhi sarana dan prasarana yang memadahi, terutama di Pesantren Salaf. Pernyataan tersebut ia lontarkan saat tanggapi pernyataan Asna Lubab Nufusi delegasi IPNU Berbek, tentang kesiapan pondok pesantren hadapi era new normal dan NU New Normal.

Rekan Lubab yang kini menjadi santri Ponpes Miftahul Ula Nglawak Kertosono mengedepankan pandangan optimisnya, sebab Allah pasti menolong hambanya dalam menghadapi pandemi virus corona, dengan keteguhan niat dan usaha yang maksimal.

“Innamal a’malu binniyat, jadi selain niat kuat santri dan bahkan pengasuh pondok pesantren harus kompak, dalam berusaha menjalankan aktifitas di pondok pesantren sesuai protokol kesehatan.”, jelas Rekan Lubab.

Berikan tanggapan, Alsiam Ary Wibawa yang turut menjadi pemateri berikan saran bahwa khawatir adalah wajar, namun perlu adanya solusi mengingat pandemi ini harus dihadapi dengan imun yang kuat dan berpikir optimis.

“Kekhawatiran boleh, untuk lebih waspada, namun jangan sampai menimbulkan pesimisme,”, kata Rekan Ary.

Delegasi sekaligus Ketua PAC IPNU Wilangan itu juga mengutip dalil kebersihan sebagian dari iman. Sehingga nilai-nilai implementasi saat pandemi virus corona tidak hanya bersih secara pandangan kaca mata fiqh, namun juga steril dari penyakit yang berpotensi menular.

Tak ketinggalan, M. Rizal Alfian delegasi IPNU Ngetos sampaikan pendapatnya, tradisi di Pondok Pesantren saat tidur di asrama tidak mudah dalam penerapan physical distancing. Sehingga new normal dan panduan NU New normal dapat maksimal jika ada yang mengawasi kegiatan para santri.

Rekan Rizal yang dalam sesi pertama menyampaikan diskusi kebangsaan dalam rangka Harlah Pancasila, berpesan kepada hadirin undangan terbatas dan pemirsa Live Streaming via media sosial masing-masing PAC, untuk menguatkan komunikasi virtual.

“Harus tetap semangat, dan komunikasi medsos kita rekatkan lagi.”, ungkap Rekan Rizal.

Kegiatan halal bihalal virtual dan talkshow anggota koalisi satu dengan pemateri kader asli dari PAC IPNU IPPNU Wilangan, Ngetos, Sawahan, dan Berbek berakhir dengan kesatuan visi. Yakni menjadikan IPNU IPPNU sebagai percontohan penerapan protokol kesehatan.

Pentingnya aspirasi kalangan pelajar NU ini, sebab IPNU IPPNU merupakan organisasi dengan anggota para pelajar yang terdiri dari siswa sekolah dan madrasah, mahasiswa, bahkan santri di pondok pesantren.

Akhir sesi Talkshow, Luluk Laila selaku moderator mempersilakan salah satu pemateri berikan closing statement.

“Ini adalah tantangan, sekaligus refleksi kita di Hari Kelahiran Pancasila untuk menerapkan nilai luhurnya. Kita dapat kembali melaksanakan kegiatan Keagamaan meskipun dengan normal yang baru, kita perlu menengok tetangga yang terdampak sosial ekonominya sebagai bentuk kemanusiaan, dan menjaga persatuan terutama menjadi terbiasa komunikasi intens secara virtual, agar tidak mudah dipecah belah media yang tidak bertanggung jawab.”, pungkas isi closing statement Alsiam Ari Wibawa.

Kegiatan berjalan lancar, dengan mewajibkan seluruh delegasi peserta dan pemateri mengenakan masker dan mematuhi protokol kesehatan. Suksesi kegiatan juga tidak lepas dari kordinasi dengan Satgas Covid-19 MWC NU Sawahan.(tuh)

Redaktur/ Editor : Moh. Maftuhul Khoir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *