Ibadah dan Kerja Keras Mereka

 Ibadah dan Kerja Keras Mereka

Rabu, 14 April 2021
Oleh: Ali Anwar Mhd

Hari ini, masuk hari ke-dua dalam menjalani ibadah puasa ramadhan.

Tentu aktifitas peribadatan spiritual telah berjalan, baik secara bersama maupun individu bagi seluruh umat Islam.

Mulai dari sholat maktubah (5 waktu) yang wajib, sholat tarwih (ada yang 11, ada yang 23 rakaat), tadarus Alquran, ngaji kitab-kitab klasik, kajian keagamaan, qiyamul lail (sholat malam) dan sebagainya.

Begitu pula ibadah yang bersifat sosial, juga sudah berjalan. Kondangan bersama saat menyambut datangnya bulan ramadhan, bersedakah, bagi ta’jil untuk jamaah yang sedang bertadarus maupun bagi musyafir yang berbuka puasa, dan bentuk kepedulian sosial lainnya.

Semua kegiatan, dijalankan dengan kerelaan hati. Yang lahir dari kesadaran untuk beramal sholeh. Untuk meraih pahala sebesar-besarnya. Dan akan terus berlangsung selama bulan ramadhan.

Tentu ini sungguh semua yang dijalankan, baik berbentuk spiritual maupun kepedulian sosial, adalah bermuara pada kegiatan amal sholeh kebaikan.

Di dalamnya, ada proses pembelajaran atau pendidikan selama bulan ramadhan. Keyakinan dan kebiasaan ini nanti, yang harus dibawa setelah lulus dalam melaksanakan ibadah selama bulan ramadhan. Dijadikan kebiasaan prilaku selama sebelas bulan berikutnya pasca ramadhan.

Hal demikian tidak menjadi problem bagi masyarakat muslim yang dalam derajat ekonomi berada, di posisi kelas menengah ke atas. Bagaimana dengan umat muslim yang berada pada level kelas menengah ke bawah? Terutama mereka mayoritas yang berada di tempat tinggal perkampungan dan pinggiran.

Mereka ya tetap bekerja, bekerja keras dan berat, untuk memenuhi kebutuhan hidup keseharian. Yang bertani ya tetap ke sawah. Yang berkebun ya tetap berkebun. Yang beternak ya tetap merumput. Yang berdagang ya tetap jualan. Namun nereka tetap berpuasa.

Mereka pada malam hari, ya tetap tarwih, tetap tadarus, tetap qiyamul lail. Tetap melaksanakan aktifitas spiritual. Apakah berat? Tentu berat. Namun mereka tetap mampu menjalaninya.

Mereka mungkin akan memiliki pahala yang lebih besar. Kondisi berat yang tetap puasa. Bukan hanya mendapat pahala ibadah spiritual saja, tapi juga mendapat pahala bekerja mencukupi kebutuhan sosial di keluarga yang sedang menjalani ibadah puasa di bulan ramadhan.

Apakah sama, pahala orang yang tidak begitu berat dengan orang yang sangat berat, karena sambil bekerja keras, selama menjalani ibadah puasa? Tentu tidak perlu dihitung. Yang harus kita apresiasi mereka tetap kuat dalam menjalaninya. Ya ibadah, ya bekerja.

Maka kita harus bersyukur, terutama bagi orang yang telah dalam kecukupan, sehingga sudah tidak terlalu berat untuk menjalankan ibadah selama ramadhan. Mereka yang kondisi demikian, harus menguras tenaga fisik, karena harus masih bekerja keras mencari nafkah saja tetap kuat berpuasa. Maka yang berkecukupan harus lebih kuat, dan harus lebih keras lagi dalam menjalani peribadatan spiritual individu selama ramadhan, dibandingkan dengan mereka.

Peribadatan berbentuk kepedulian sosial, menjadi peluang besar untuk terus dikerjakan. Semua tidak lain untuk mendidik diri seorang muslim. Untuk saling berlomba dalam peningkatan spiritual individu melalui peribadatan, dan untuk melahirkan jiwa yang berkepedulian sosial. Semua akan menjadi bekal dalam menjalani hidup di bulan-bulan berikutnya.

Mari belajar kepada mereka tentang kerja keras sambil beribadah. Belajar tentang keikhlasan dan kesabaran dalam menjalani kewajiban. Belajar tentang kepedulian sosial atas nasib kebutuhan keluarga di tengah tangungjawab tuntutan perintah dari Tuhan-nya yang harus dijalani.

Semoga kita semua selalu dalam keadaan terjaga, dan terus mampu melaksanakan perintah peribadatan selama ramadhan sampai selesai. Serta setelahnya bisa mendapatkan pendidikan sebagaimana tujuan puasa. “La’allakum tattaquun-menjadi orang yang bertaqwa”.

Digiqole ad

admin

Related post