Hukum “Golek Dino” dan Mempercayai Hari Baik dalam Tradisi Hitungan Jawa

Tradisi yang berkembang di masyarakat, bahwa setiap kali akan mengadakan hajatan, baik itu berupa pernikahan, khitanan maupun yang lain, biasanya tak luput dari yang namanya golek dino (memilih penentuan hari pelaksanaan). Karena mereka menganggap bahwa pada setiap bulannya terdapat hari-hari naas dan terdapat hari-hari baik menurut hitungan ilmu kejawen.

Pertanyaan

  1. Bagaimana hukum mencari hari (golek dino apik) untuk melakukan hajatan?
  2. Bagaimana pula hukum mempercayai bahwa pada hari-hari tertentu adalah hari yang baik dan pada hari yang lain merupakan hari sial?

Jawaban

Haram jika ia meyakini bahwa hari yang dipilih tersebut merupakan hari yang dapat mendatangkan keberuntungan atau kebaikan. Apalagi ia juga menjauhi hari-hari tertentu karena yakin bahwa hari tersebut merupakan hari yang dapat mendatangkan nasib sial.

Namun, hukumnya menjadi tidak haram jika ia meyakini bahwa yang mendatangkan kebaikan atau keburukan semata-mata hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan hari-hari baik dan hari-hari sial (dalam pandangan mereka yang meyakini perhitungan tradisi Jawa) dia hanya mempercayai bahwa hal tersebut hanyalah sebatas kebiasaan yang tidak bisa dipastikan dapat mendatangkan keberuntungan maupun kemudhorotan.

Apabila pada kenyataannya terjadi sebuah keberuntungan maupun kemudhorotan maka ia meyakini bahwa hal tersebut murni takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak ada hubungan sama sekali dengan hari-hari tersebut, hanya saja kebetulan bersamaan dengan hari-hari itu.

Ziyadah Al-Bayan :

Terkait dengan keyakinan sebagaimana dalam masalah diatas, terdapat empat golongan orang yang masing-masing karena keyakinannya itu dapat masuk kategori status hukum yang berbeda pula.

  1. Kafir, bila orang tersebut berkeyakinan bahwa yang mendatangkan keberuntungan dan menolak kemudhorotan adakah hari yang ditentukan itu sendiri dengan kemampuannya (tanpa campur tangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala)
  2. Fasiq Mubtadi’, (Fasiq ahli Bid’ah) apabila orang tersebut berkeyakinan bahwa yang mendatangkan keberuntungan dan menolak kemudhorotan adalah hari-hari tersebut perantara kekuatan yang telah dijadikan oleh Allah. (menurut Qaul Ashah)
  3. Jahil, (orang bodoh) kalau berkeyakinan bahwa yang mendatangkan keberuntungan dan menolak kemudhorotan adalah Allah, tapi Allah menjadikan sebab musabbab sebagai hal yang menurut akal tidak akan terjadi musabbab tanpa ada sebab.
  4. Mukmin Naji, (orang mukmin yang selamat), kalau beritikad bahwa hanya semata-mata Allah lah yang mendatangkan keberuntungan dan menolak. Sedangkan hubungan sebab akibat ia meyakini sebagai hak yang tidak mesti terjadi, hanya sebagai kebiasaan saja.
Sumber Hukum Ghayat al Takhlis al Murad (206) & Tuhfah al Muriid (58)

Sumber : Lembaga Bahtsu Masa’il MWC NU Rejoso

Editor : Haafidh Yusuf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *