Himbauan Cegah Pandemi Corona, Bukan Tantangan Uji Nyali

Dingin rintik hujan dan gerimis, temani perjalanan pada penghujung malam (22/03/20), selepas menyelesaikan tugas dapur redaksi.

Saya melihat sepanjang jalan dari Kecamatan Baron Sukomoro Nganjuk Loceret hingga Berbek. Tidak sedikit anak-anak muda yang nongkrong kumpul-kumpul, begitupun dengan parkiran cafe-cafe masih penuh sesak dengan kendaraan.

Apa yang mereka pikirkan, batinku.

Ganasnya Penyebaran Covid-19 kini masuk dalam status “Pandemi”, ditetapkan WHO pada Kamis (12/3) lalu, yang berarti dapat menyerang siapapun di daerah mana saja.

{pan·de·mi /pandémi/ n wabah yg berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yg luas}, KBBI.

Padahal himbauan sudah gencar disosialisasikan.

Himbauan Ulama
Baik secara pribadi, himbauan ajakan untuk mawasdiri dan memperbanyak ikhtiyar bathiniyah oleh para Kyai telah didawuhkan, dengan memperbanyak doa dan sholawat, Ad Dua’ Silahul Muslim.

Begitupun instruksi yang termaktub dalam surat resmi atas nama organisasi, dari PBNU, LKNU, dan anak ragilnya IPNU IPPNU.

Himbauan Pemerintah
juga tengah gencar disosialisasikan. Mulai dari Presiden, Kapolri, Gubernur Jawa Timur, dan Bupati Nganjuk yang mengeluarkan kebijakan menutup sementara waktu di ruang publik seperti taman kota dan tempat wisata.

Himbauan maupun instruksi sudah SANGAT JELAS, lantas  apa lagi yang hendak menjadi acuan, atau sengaja melanggar agar terlihat gagah berani menantang virus.

Saya tidak ingin debat teori konspirasi, sebagai isu yang melatarbelakangi perang dagang maupun perang senjata biologi. Karena dari sisi kemanusiaan, jelas bahaya Corona menyebabkan banyak orang mati. Kini, jalan-jalan tanpa tujuan jelas, berkumpul mengadakan acara besar sama sekali tidak terlihat hebat, justru sebaliknya.

Kenaikan jumlah orang positif Novel Coronavirus untuk wilayah Provinsi Jawa Timur, pada tanggal 20 Maret sebanyak 15 orang, pada 21 Maret Naik menjadi 26 orang, dan pada 23 Maret hari ini total ada 41 orang positif Covid-19. Artinya ini trend kenaikan yang mengerikan, karena dalam 3 hari terakhir terdapat kenaikan 173,3% atau hampir 3 kali lipat.

tren kenaikan positif covid-19
Situasi Kasus Indonesia terkini

Kabar duka, Garda terdepan menangani pasien coronavirus, baru baru ini 6 dokter wafat, berdasarkan Informasi atas nama Daeng Mohammad Faqih ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Semoga beliau semua mendapat ganjaran atas amal mulianya, amiin.

Saya pribadi sempat memandang sebelah mata, hingga sadar bahaya corona dan memutuskan penundaan kegiatan harlah IPNU IPPNU, berdasarkan hasil kesepakatan rapat panitia dan pengurus PAC IPNU IPPNU Berbek, pada Jumat (19/03) lalu.

Saya berharap tidak ada pihak yang dengan sengaja menyebar informasi bohong, apalagi dari sumber yang tidak jelas. Khususnya dari kalangan yang numpang tenar dan numpang viral dari panasnya isu aktual, dengan komentar kontroversialnya.

Ikuti Instruksi serta himbauan Ulama’ dan Umaro’, Insyaallah selamat dunia akhirat. Tunda atau batalkan kegiatan yang mengerahkan massa dalam jumlah banyak, meskipun itu adalah kegiatan positif. Sesuai implementasi Kaidah Fiqh,

Dar’ul Mafasid Muqoddamun ala Jalbil Masholih

Jangan Sampai ada orang MATI LAGI baru sadar corona berbahaya.

Bukan bermaksud menakut-nakuti, namun tulisan ini hanya menyampaikan kembali informasi yang mungkin terlewat. Tetap berpikiran positif, untuk menjaga sistem imun dan kondisi tubuh tetap bugar.

Penulis:
Moh. Maftuhul Khoir, S.E
Wakil Ketua IPNU PAC Berbek

Jurnalis

Refrensi:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *