HARLAH PMII ke-60, Refeleksi Kader PMII Berkhidmat Untuk Negeri

Penulis : Aziz Kabul Budiono
(Ketua PC PMII Nganjuk 2007-2008)

Pada momentum Hari Lahir (Harlah) Ke-60 PMII, saya menyampaikan selamat Harlah ke 60 tahun, Refleksi kader PMII berkhidmat untuk negeri.

Wahana pergerakan merupakan medan utama PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dalam menancapkan api perjuangan. Organisasi mahasiswa yang juga berdimensi kepemudaan ini sudah lama menjadi bagian dari sejarah NKRI. Tepat tanggal 17 April 2020 PMII sudah menginjak usia ke 60, di usia seperti itu PMII praktis menjadi organisasi yang sudah sangat dewasa. Waktunya menjadi pelopor perubahan dan menjadi advokat untuk kaum-kaum mustad’ifin.

Sementara itu, ada yang berbeda dalam perayaan harlah PMII saat ini karena dirayakan ditengah-tengah pandemi covid 19. Tapi hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi kader-kader yang ingin sekedar merefleksi dan mengingat lagi kontribusi para pendahulunya. Seperti halnya Kader-kader PMII Nganjuk yang hari ini nanti memeriahkan dengan agenda doa bersama untuk para muasis dan pendahulu PMII.

Sahabat sahabat mari coba kita muhasabah menyisir dari hilir korps pergerakan kita yang cukup besar ini. Dimana pada setiap tahunnya mampu merekrut puluhan ribu anggota baru disemua titik kampus yang tersebar di Indonesia. Tentu hal tersebut menjadi salah satu modal utama bagi organisasi untuk melakukan perubahan besar. Apalagi kalau kuantitas tersebut dikontrol dengan sistem yang baik, berjenjang dan terukur pasti akan memudahkan bonus demografi Indonesia menyambut indonesia emas tahun 2045 dengan mencetak intelektual-inteltektual handal dan berkualitas.

Tapi justru disinilah masalahnya, harus diakui pergerakan ini belum bisa mewujudkan hal tersebut menjadi sesuatu kenyataan. Semua masih dalam frame yang sama yaitu retorika semata. Pada akhirnya organisasi sebesar PMII ini masih belum bisa dikatakan sepenuhnya berkontribusi untuk Negri.

Saya teringat pada Bapak Mahbub Junaidi, ketua UMUM PB PMII pertama kali yang dijuluki sebagai pendekar pena terkait politik ala PMII. Menurutnya, berpolitik adalah bermasyarakat, mengamati apa yang terjadi disekitar dan memiliki keberanian untuk membela suara yang benar. Tidak harus menjadi anggota partai politik atau bagian dari plat merah Negara.

Tentu saya sangat sepakat dengan apa yang dimaksdukan oleh bapak Mahbub, bukan dengan pemahaman sempit dan pragmatis. Sebab banyak sekali study kasus tentang kader-kader PMII berlomba-lomba berebut jabatan politik dan mengabaikan subsanti pergerakanya. Bahkan, tak jarang mereka saling sikut untuk dapat menduduki kursi yang diinginkanya. Hal ini pasti akan menjdi penyakit yang lama kelamaan akan mengrogoti tubuh pergerakan ini dikemudian hari. Entah diusia yang keberapa, semoga saja tidak akan terjadi.

Saat ini dan kedepanya PMII harus mampu memproteksi dirinya dan memgambil peran secara kolektif dalam masalah ekonomi, budaya, agama, politik, pendidikan, tekonologi dan lain sebagainya. Bukan sebagai penikmat tapi sebagai aktor utama, mengingat hari ini banyak tantangan besar yang harus kita hadapi seperti membantu mempersiapkan Indonesia emas di tahun 2045 dan sebagai anak kandung yang keluar dari rahim NU harus mampu membentengi NU dri gempuran gempuran islam radikal, apalagi hari ini NU sudah menjadi shahibul qarar (Penentu kebijakan) Di Negara Indonesia. Tentu bukan dengan peluru tapi dengan pemikiran.

Kemudian siapkan kritikus-kritikus muda sebanyak mungkin untuk mengisi dunia pendidikan Indonesia. Terutama mempersiapakan ilmu teknologi untuk membekali kader dimasa mendatang. Saya sangat optimis diusia ke 60 ini PMII akan semakin jaya dan mewarnai Negeri.

Selamat Harlah ke 60 Pergerakanku,
Tangan Terkepal dan Maju Kemuka,
Salam Pergerakan!

nunganjuk.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *