HARI GURU NASIONAL

Entah kenapa setelah membaca sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang masih muda itu, saya juga tergerak untuk ikut menggurat tulisan. Sejak kecil kita sudah terus berusaha dididik untuk menjadi lebih baik tentunya dan lebih manusiawi. Dulu ketika tingkat dasar, saya dan kawan-kawan tidak jarang mendapatkan kasih sayang dan “keringanan tangan” para guru, namun kami menyambutnya dengan diam lalu larut dalam instrospeksi.

Begitu pula ketika tingkat menengah pertama, ada kejadian penggaris, kejadian benturan kepala dan lain sebagainya, sebagai wujud kasih dan “keringanan tangan” dari beberapa guru. Kami diam dan lagi-lagi larut dengan introspeksi, ketika keluar dari kelas, canda tawa sudah kembali menghiasi raut wajah kami yang tanpa skincare dan tanpa make up.

Lalu paradigma baru menjadi populer, dilarang menggunakan kekerasan dalam bentuk apapun, dengan harapan pendidikan menjadi dramatis dan keren seperti di film-film. Sebagian berhasil, tidak jarang yang malah menjadi bumerang. Berapa banyak kasus guru yang menjadi sasaran amuk siswanya, ada juga yang sampai meregang nyawa. Salah siapa? tentu bukan salah para pejabat yang terhormat.

Kurikulum terus menerus digodok, diujicobakan, diperdebatkan, dipertontontan, dijadikan peraturan dan dipaksakan, suka atau tidak suka. Jika dampaknya buruk, yang dituding adalah pelaku pendidikan di bawah. Belum pernah saya dengar di media mainstream, satu profesor atau satu doktor pun yang meminta maaf atas kesemrawutan sistem yang mereka godok, atau dipersalahkan atas carut marut kurikulum. Lagi-lagi yang dibawah “katanya” kurang mengikuti pedoman.

Berbagai uji coba aplikasi, sistem dan seabreg program online dijejal-jejalkan seperti makanan pahit yang disumpal ke mulut anak-anak yang sudah kekenyangan. Revisi lagi, godok lagi, ujicoba lagi, revisi lagi, godok lagi, ujicoba lagi dan sayangnya dengan HASIL YANG STAGNAN, bahkan mungkin mengecewakan.

Guru-guru dihabisi waktunya dengan berbagai administrasi yang kadang mereka tidak tahu untuk apa dan berguna di sisi mana. Mereka patuh karena tunjangan akan putus jika memilih menolak. Lalu bagaimana keluarga mereka? Mereka dituntut untuk mencerdaskan dan menyiapkan masa depan, diminta terus mengawal peserta didik dan segudang -katanya- tugas “mulia” lainnya. Kadang tanpa jeda untuk keluarga dan sekedar tegur sapa dengan tetangga.

Apatisme pun menjadi pilihan banyak guru. Lebih baik menuruti permintaan birokrasi daripada membuat kreasi, apalagi melakukan inovasi. “Selama aman di atas, masa bodoh lah siswa mau gimana”. Bahkan banyak guru yang dibayar negara untuk membangun bangsa lebih memilih untuk mencari aman daripada membuat gebrakan, akhirnya stagnan. Pergolakan pendapat di mana-mana dan muncul berbagai opsi, dari opsi membeli sampai demonstrasi. Masa depan macam apa yang dipersiapkan dengan berbagai paradoks ini??

Hari Guru Nasional
Dari waktu ke waktu lebih sering menjadi sekedar seremoni dan ucapan-ucapan puitis eksotis dramatis yang berakhir di esok harinya atau pekan depannya. Apel-apel digelar, seminar-seminar, pidato-pidato membahana di antara mikrofon dan pengeras suara.

Sementara guru-guru sukarelawan, guru-guru di pelosok-pelosok, di pedalaman-pedalaman, di batas-batas negara berjibaku melawan kejamnya jalanan dan deras aliran sungai. Mereka jarang seminar, jarang apel akbar dan jarang mendengarkan pidato membahana sambil mengepalkan tangan.

Maka jangan salahkan siapa-siapa. Lihat kepada diri kita sendiri, entah anda guru, pimpinan lembaga pendidikan, orang tua murid, pengamat, pejabat, birokrat, tokoh atau siapapun itu, betapa berat tugas guru yang sekaligus mulia dan “tidak akan terbanding” dengan hanya beberapa oknum guru yang lebih suka bermalas-malasan dan enggan bersungguh-sungguh, tidak tebanding, tidak terbanding.

Selamat Hari Guru Nasional..!!
Untuk Kiai kami, orang tua kami dan guru-guru kamiā€¦

Kontributor : Kazekage

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *