Gus Nizar : Islam Nusantara Anti Kekerasan

Di hadapan peserta kemah santri yang merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Santri Nasional tahun 2019 di Nganjuk, Aswaja NU Center Nganjuk berkesempatan untuk berbagi wawasan tentang Islam Nusantara pada Ahad (27/10/2019). Hadir mewakili Aswaja Center yakni Gus Bahrun Nizar serta Ustadz Wahyu Irvana. Keduanya memaparkan Islam Nusantara yang kini menjadi pusat perhatian positif untuk corak Islam dari berbagai belahan dunia.


Penjelasan pertama disampaikan oleh Gus Nizar dengan memaparkan latar belakang serta karakteristik Islam Nusantara.


“Islam Nusantara salah satu karakteristiknya adalah anti kekerasan, sehingga jelas menolak radikalisme dan terorisme” papar Gus Nizar di salah satu penjelasannya.


Gus muda yang juga salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoiriyah Baron ini, juga menjelaskan secara garis besar kronologi dakwah Islam di Nusantara, terutama di Jawa.

“Wali Songo dulu menyebarkan Islam dengan berbagai strategi yang tidak satu pun menggunakan jalan pemaksaan dan kekerasan, sehingga Islam yang kita amalkan di Nusantara kini adalah Islam yaang shahih, bersanad sambung hingga sumber Islam, Rasulullah saw.” tambahnya.


Pemaparan kedua disampaikan Ustadz Irvan dengan bahasa khasnya, serius berpadu guyonan. Ustadz Irvan memaparkan dengan analogi sederhana tentang corak kuliner yang beragam namun sebenarnya adalah jenis makanan yang sama.

“Soto Banjar, Soto Tamanan dan Soto Babat memiliki corak masing-masing, namun tetap disebut dengan soto. Tidak kemudian berubah menjadi sate misalnya, sehingga benar dawuh Kiai Said Ketua PBNU kita, bahwa Islam Nusantara itu tetap Islam, bukan aliran baru, bukan agama baru, namun Islam yang memiliki corak, khasais, mumayyizat” tutur wakil ketua Aswaja NU Center ini.

Ustadz Irvan melanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang bagaimana Al Qur’an dalam menerapkan hukum, di antaranya adalah menyedikitkan beban dan menghendaki kemudahan.


“Beragama itu tidak perlu terus-terusan petentengan dan kaku. Kita perlu memiliki sikap tawazun yaitu seimbang untuk kepentingan dunia akhirat, kepentingan pribadi dan orang lain dan sebagainya, seperti di Al Qur’an itu, mencari kebahagiaan akhirat, tetapi tidak meninggalkan bagian kenikmatan di dunia” imbuhnya.


Peserta tampak antusias mengikuti materi yang juga diselingi dengan teriakan jargon santri dan beberapa macam shalawat Nabi. Sesi materi kemudian ditutup moderator dari panitia, Rekan Nafhan.(kaz)

Kontributor : Kazekage

Editor : Haafidh Yusuf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *