Dugong: Mengenal Spesies Mamalia Laut yang Menarik dan Terancam Punah

Dugong, atau yang sering dikenal dengan nama duyung, adalah mamalia laut yang menarik perhatian banyak orang karena keberadaannya yang unik dan terancam punah. Dalam upaya menjaga populasi dugong serta ekosistem lamun, Universitas Nusa Cendana (Undana) di Kupang, Nusa Tenggara Timur, telah menjalin kerja sama dengan Arafura and Timor Seas Ecosystem Action (ATSEA). Kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat riset konservasi dugong di wilayah Laut Arafura dan Timor yang kaya akan biodiversitas.
Peran Universitas dalam Konservasi Dugong
Wakil Rektor Bidang Akademik Undana, Prof. Annytha I.R. Detha, menyatakan bahwa institusi mereka berkomitmen untuk mendukung kolaborasi ini dengan menyediakan sumber daya manusia serta fasilitas laboratorium yang diperlukan. Selain itu, mahasiswa juga akan dilibatkan dalam penelitian lapangan, yang memberikan mereka pengalaman langsung di lapangan.
“Undana memiliki kapasitas yang signifikan dalam pengembangan riset kelautan, terutama di kawasan kepulauan,” ujarnya. Menurutnya, kolaborasi ini tidak hanya terbatas pada diskusi, tetapi juga akan berlanjut pada implementasi yang dapat memberikan dampak positif baik secara ekologis maupun ekonomi bagi masyarakat pesisir di Nusa Tenggara Timur.
Rencana Kerja Sama Konservasi
Kerja sama yang sedang dijajaki mencakup serangkaian kegiatan seperti focus group discussion (FGD), survei lapangan di wilayah Nusa Tenggara Timur, serta penguatan koordinasi dengan kementerian terkait. Semua langkah ini diharapkan dapat menciptakan kebijakan yang berbasis data ilmiah untuk menjaga populasi dugong yang semakin menurun.
Kepentingan Kawasan Laut Arafura dan Timor
Kawasan Laut Arafura dan Timor memiliki nilai strategis sebagai habitat berbagai biota laut yang penting, termasuk dugong. Oleh karena itu, menjaga populasi dugong melalui kebijakan yang didukung oleh data ilmiah sangatlah krusial. Pihak ATSEA melihat Undana sebagai mitra kunci dalam upaya ini, terutama mengingat bahwa kawasan tersebut memiliki tingkat biodiversitas yang tinggi namun juga rentan terhadap ancaman.
Direktur Eksekutif Interim ATSEA, Dr. Handoko Adi Susanto, mengungkapkan, “Kami percaya bahwa Undana memiliki kapasitas yang memadai untuk mendukung riset dan pelestarian ekosistem laut. Kerja sama ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kolaborasi regional antara Indonesia, Australia, Papua Nugini, dan Timor Leste.”
Proses Penyusunan Dokumen Kerja Sama
Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Undana, Yefry C. Adoe, menjelaskan bahwa kedua pihak saat ini sedang menyusun dokumen formal untuk kerja sama ini, yang meliputi Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA). Penandatanganan dokumen tersebut direncanakan akan dilakukan pada Mei 2026 setelah semua poin kesepakatan difinalisasi.
Kerja sama ini sejalan dengan visi Undana untuk menjadi universitas kelas dunia yang berbasis pada keunggulan lahan kering kepulauan, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pelestarian ekosistem laut di kawasan selatan Indonesia.
Mengenal Dugong Secara Lebih Dekat
Dugong, yang juga dikenal sebagai “sapi laut,” adalah mamalia laut herbivora yang memiliki ukuran besar dan hidup di perairan dangkal tropis dan subtropis di kawasan Indo-Pasifik. Dugong menghabiskan sebagian besar waktunya di dasar laut, di mana ia mencari makanan berupa lamun. Hewan ini memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari mamalia laut lainnya.
Karakteristik Fisik Dugong
Dugong memiliki tubuh yang besar dan berbentuk torpedo, dengan panjang tubuh bisa mencapai 3 meter dan bobot hingga 400 kilogram. Beberapa karakteristik fisik dugong meliputi:
- Mata yang kecil dan terletak di samping kepala.
- Mulut berbentuk paruh yang lebar, cocok untuk memotong lamun.
- Sirip yang besar dan membulat, memungkinkan mereka bergerak dengan lincah di perairan dangkal.
- Warna kulit yang bervariasi dari abu-abu hingga coklat, seringkali ditutupi oleh lumut laut.
- Ekspresi wajah yang lembut, sering kali membuat mereka terlihat ramah.
Habitat dan Kebiasaan Dugong
Dugong biasanya ditemukan di perairan dangkal yang kaya akan lamun, di mana mereka dapat dengan mudah mencari makanan. Mereka dapat ditemukan di sekitar pulau-pulau dan pantai-pantai yang memiliki ekosistem lamun yang sehat. Dugong adalah hewan yang soliter, meskipun terkadang dapat terlihat berkelompok dalam jumlah kecil.
Reproduksi dan Perilaku Sosial
Proses reproduksi dugong tergolong lambat, dengan masa kehamilan yang berlangsung sekitar 13 bulan. Biasanya, seekor induk hanya melahirkan satu anak, yang kemudian disusui selama 18 bulan. Dugong memiliki ikatan yang kuat dengan anaknya dan seringkali terlihat merawat dan menjaga anaknya dengan penuh perhatian.
Dugong menggunakan suara untuk berkomunikasi, dan penelitian menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk membentuk hubungan sosial dengan sesama dugong, meskipun tidak sebanyak mamalia laut lainnya seperti lumba-lumba.
Ancaman Terhadap Populasi Dugong
Sayangnya, dugong saat ini menghadapi berbagai ancaman yang membuat populasinya semakin menurun. Beberapa ancaman utama yang dihadapi oleh dugong meliputi:
- Kehilangan habitat akibat pengembangan lahan dan polusi.
- Penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan dan penggunaan alat tangkap yang merusak.
- Perubahan iklim yang mempengaruhi ekosistem laut dan lamun.
- Perburuan ilegal dan perdagangan satwa liar.
- Konflik dengan aktivitas manusia di laut, seperti pelayaran dan wisata bahari.
Upaya Konservasi Dugong
Untuk melindungi dugong dan memastikan keberlangsungan spesies ini, berbagai upaya konservasi telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun organisasi non-pemerintah. Beberapa langkah yang diambil meliputi:
- Pembentukan kawasan konservasi laut untuk melindungi habitat dugong.
- Program edukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian dugong dan ekosistem lamun.
- Penegakan hukum terhadap perburuan ilegal dan praktik penangkapan yang merusak.
- Melibatkan komunitas lokal dalam upaya pelestarian melalui program-program berbasis masyarakat.
- Riset dan pemantauan populasi dugong untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk kebijakan konservasi.
Pentingnya Kesadaran Konservasi
Kesadaran akan pentingnya konservasi dugong sangatlah krusial untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini. Masyarakat, pemerintah, dan akademisi perlu bekerja sama untuk menciptakan kebijakan yang mendukung pelestarian dugong dan habitatnya. Melalui pendidikan dan penyuluhan, masyarakat dapat lebih memahami nilai dugong sebagai bagian dari ekosistem laut yang sehat.
Dengan melibatkan semua pihak dalam upaya pelestarian, kita dapat memberikan harapan bagi dugong dan memastikan bahwa mereka tetap menjadi bagian dari lautan kita untuk generasi mendatang. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan dapat berkontribusi pada keberlangsungan spesies yang terancam punah ini.
➡️ Baca Juga: Harga BBM Terbaru 1 April 2026: Subsidi Resmi Tetap Stabil dan Tidak Naik
➡️ Baca Juga: Panduan Memilih Suplemen yang Tepat untuk Mendukung Gaya Hidup Sehat Anda



