Dampak Negatif Sound Horeg Terhadap Kenyamanan Warga dan Lingkungan Sekitar

Akhir-akhir ini, perbincangan mengenai dampak negatif sound horeg semakin marak, terutama di wilayah-wilayah di Jawa Timur. Momen perayaan HUT ke-81 RI pada Agustus 2026 menjadi salah satu penyebab meningkatnya jumlah acara karnaval yang menggunakan pengeras suara besar. Bagi segelintir orang, sound horeg bukan sekadar hiburan, melainkan bagian integral dari budaya perayaan yang menambah semarak suasana di lingkungan mereka.
Persoalan Kenyamanan Warga
Namun, tidak semua warga merasakan kemeriahan yang sama. Di tengah dentuman musik dan bass yang mengguncang, beberapa orang justru merasa perlu untuk menutup telinga, menjauh dari rumah, bahkan khawatir akan kondisi bangunan di sekitar mereka. Sebagai contoh, pada akhir Agustus 2026, rangkaian acara sound horeg di Jember diwarnai dengan insiden tragis, termasuk robohnya pos kamling yang disebabkan oleh kendaraan pengangkut sound horeg dan meninggalnya seorang lansia akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Dalam kejadian tersebut, kondisi bangunan yang sudah tua disebut-sebut sebagai salah satu penyebab, dan getaran dari sound system sehari sebelumnya diduga turut memperburuk kerusakan.
Masalah yang timbul tidak hanya terbatas pada kebisingan. Di beberapa daerah, keluhan tentang biaya iuran untuk penyelenggaraan acara juga mencuat. Laporan pada Agustus 2026 mengungkapkan bahwa iuran yang dibebankan berkisar dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, membuat sebagian warga merasa terbebani dan berpengaruh pada kebutuhan rumah tangga mereka.
Berbagai Persoalan yang Muncul
Di samping itu, ada berbagai isu lain yang juga muncul dalam diskusi mengenai dampak negatif sound horeg, seperti masalah sampah pasca-acara, potensi keributan, dan laporan mengenai konsumsi minuman keras pada beberapa kegiatan. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa tidak semua acara mengalami masalah yang sama.
Bagi sebagian kelompok, sound horeg mungkin dianggap sebagai hiburan yang ditunggu-tunggu setiap tahun. Namun, bagi kelompok lainnya, suara yang terlalu keras, getaran, keramaian, serta konsekuensi yang ditimbulkan setelah acara justru menjadi gangguan yang harus mereka hadapi.
Seberapa Besar Dampak Sound Horeg bagi Warga?
Jadi, seberapa besar sebenarnya dampak negatif sound horeg bagi masyarakat? Apakah masalahnya hanya berkaitan dengan kebisingan, atau ada aspek lain yang perlu diperhatikan?
Gangguan pada Kenyamanan Warga
Fenomena sound horeg memiliki banyak penggemar di Jawa Timur. Survei terbaru menunjukkan bahwa 49,92 persen responden pernah mengikuti acara karnaval sound horeg secara langsung, sementara 46,08 persen belum pernah tetapi sudah mengetahui fenomenanya. Hanya 4 persen responden yang mengaku tidak mengenal istilah ini.
Artinya, hiburan dengan musik keras ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Timur. Namun, popularitas ini juga diimbangi dengan banyak keluhan. Dalam survei yang sama, sebanyak 81,5 persen responden menganggap kegiatan sound horeg dapat mengganggu lingkungan sekitar.
Dampak Negatif yang Dikeluhkan oleh Warga
Survei yang dilakukan juga mengidentifikasi beberapa alasan mengapa warga menganggap sound horeg mengganggu. Hasilnya menunjukkan bahwa keluhan yang diajukan tidak hanya berkaitan dengan kebisingan yang mengganggu telinga.
- 73,82 persen responden menyatakan bahwa sound horeg dapat mengganggu kenyamanan orang sakit dan anak-anak.
- 72,19 persen menilai suara tersebut bisa merusak bagian rumah seperti kaca atau genteng.
- 67,59 persen mengkhawatirkan risiko terhadap kesehatan pendengaran akibat paparan suara yang tinggi.
- 49,90 persen merasa terganggu oleh polusi suara.
- 46,83 persen mengeluhkan kondisi lingkungan yang kotor, termasuk sampah yang dihasilkan setelah acara.
Dengan demikian, dampak negatif dari sound horeg sebenarnya memiliki cakupan yang cukup luas, mencakup isu kenyamanan, kesehatan, dan lingkungan.
Seberapa Keras Suara dari Sound Horeg?
Menjawab pertanyaan ini tidak bisa dilakukan dengan satu angka pasti. Tingkat kebisingan dari sound horeg dapat bervariasi tergantung pada jenis perangkat yang digunakan, volume suara, posisi speaker, jarak pendengar, durasi acara, serta kondisi lingkungan sekitar. Oleh karena itu, hasil pengukuran dari satu acara tidak dapat dianggap mewakili semua acara yang menggunakan sound horeg.
Hal ini sejalan dengan berbagai penelitian ilmiah mengenai Sound Pressure Level (SPL) dalam acara luar ruangan. Paparan gelombang akustik berdaya tinggi di area terbuka dipengaruhi oleh beberapa variabel, seperti tata letak subwoofer, pantulan dari bangunan di sekitarnya, serta jarak pendengar dari sumber suara.
Dalam kajian akademis terkait dampak kebisingan dan Noise-Induced Hearing Loss (NIHL), pengukuran yang dilakukan oleh profesional dengan menggunakan sound-level meter standar ANSI diperlukan untuk menghitung intensitas suara secara akurat. Namun, aplikasi seluler seperti Decibel X dapat memberikan gambaran awal bahwa beberapa perangkat sound horeg dapat menghasilkan desibel di atas ambang batas aman, yaitu lebih dari 100 dB.
WHO menjelaskan bahwa suara keras dapat berdampak negatif pada kesehatan jika terpapar dalam jangka waktu yang panjang. Risiko tersebut berhubungan dengan seberapa keras suara dan lama waktu seseorang terpapar. Jadi, semakin dekat seseorang dengan sumber suara dan semakin lama mereka berada di lingkungan bising, semakin penting untuk memperhatikan perlindungan pendengaran yang tepat.
Dampak Sound Horeg Lebih dari Sekadar Telinga
Ketika membahas sound horeg, perhatian sering kali terfokus pada kebisingan yang dihasilkan. Padahal, kebisingan berlebihan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. WHO mencatat bahwa musik yang diperkuat merupakan salah satu sumber kebisingan lingkungan yang dapat mengakibatkan gangguan tidur, gangguan pendengaran, tinnitus, stres, gangguan kognitif, serta peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Bagi warga yang tinggal dekat jalur karnaval, dampak dari sound horeg bisa jadi lebih nyata, karena mereka tidak selalu memiliki pilihan untuk menjauh dari sumber suara. Anak-anak, lansia, orang yang sedang sakit, atau individu yang membutuhkan ketenangan juga memiliki kebutuhan yang berbeda terkait lingkungan yang tenang.
Oleh karena itu, masalah ini tidak hanya berkaitan dengan apakah seseorang menyukai musik keras atau tidak. Ada faktor kesehatan dan kenyamanan warga lain yang juga perlu diperhatikan dalam diskusi ini.
Dampak Fisik pada Bangunan dan Rumah
Keluhan mengenai getaran dan kerusakan pada bangunan sering kali muncul sebagai dampak dari sound horeg. Namun, perlu penilaian yang lebih hati-hati terkait hal ini. Getaran yang dihasilkan oleh frekuensi suara rendah dapat dirasakan secara fisik, terutama ketika sumber suara yang bertenaga dekat dengan bangunan. Namun, jika suatu rumah mengalami keretakan atau roboh, penyebabnya tidak dapat langsung disimpulkan hanya dari keberadaan sound horeg.
Faktor-faktor seperti kondisi konstruksi bangunan, usia bangunan, kualitas material, jarak dari sumber suara, serta faktor mekanis lainnya perlu diperiksa untuk menentukan penyebab kerusakan. Oleh karena itu, lebih tepat untuk mengatakan bahwa getaran dan kerusakan bangunan adalah salah satu keluhan yang muncul dalam polemik mengenai sound horeg, bukan menegaskan bahwa semua kerusakan disebabkan oleh sound system.
Masalah Iuran dan Sampah Pasca Acara
Dampak negatif dari sound horeg bagi warga ternyata bisa muncul bahkan sebelum acara dimulai. Biaya untuk menghadirkan sound system dalam suatu acara menjadi isu tersendiri ketika pembiayaannya melibatkan iuran dari masyarakat. Jika warga merasa keberatan atau tidak memiliki pilihan untuk turut membayar, masalah ini bisa berubah dari sekadar hiburan menjadi isu sosial di tingkat lingkungan.
Selain itu, kondisi setelah acara selesai juga sering kali luput dari perhatian. Karnaval dan kerumunan besar tentunya berpotensi menghasilkan sampah, terutama jika penyelenggara tidak menyiapkan sistem pengelolaan dan pembersihan yang memadai. Namun, sama seperti masalah minuman keras dan keributan, hal ini tidak dapat digeneralisasi sebagai karakteristik dari semua acara sound horeg. Beberapa acara dapat berlangsung dengan tertib, sementara yang lainnya mungkin menghadapi masalah keamanan atau kebersihan.
Budaya dan Batasan dalam Sound Horeg
Perdebatan mengenai dampak sound horeg tidak seharusnya berujung pada pilihan antara “melestarikan budaya” atau “melarang hiburan”. Sound horeg bisa menjadi bagian dari budaya populer yang menghibur masyarakat, namun hak untuk menikmati hiburan juga harus sejalan dengan hak warga lain untuk mendapatkan lingkungan yang nyaman dan aman.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur bahkan telah mengeluarkan Fatwa Nomor 1 Tahun 2025 mengenai Penggunaan Sound Horeg, yang mengharamkan penggunaan pengeras suara skala ekstrem tersebut karena dianggap lebih banyak menimbulkan kerugian (mudarat) dibandingkan manfaat.
Oleh karena itu, yang perlu dibahas bukan hanya apakah sound horeg diizinkan atau tidak, tetapi juga bagaimana acara tersebut diselenggarakan: seberapa keras volumenya, di mana lokasinya, berapa lama berlangsung, bagaimana pengaturan jalurnya, dan siapa yang bertanggung jawab untuk membersihkan lingkungan setelah acara.
Persoalannya bukan hanya pada keberadaan hiburan itu sendiri, melainkan ketika kemeriahan satu kelompok mulai mengurangi kenyamanan kelompok lainnya. Jika Anda termasuk penikmat sound horeg, mungkin sudah saatnya untuk mempertimbangkan perspektif yang berbeda. Di sisi lain, jika Anda merasa terganggu, pengalaman Anda juga layak didengar. Jadi, bagaimana menurut Anda batasan yang paling adil agar sound horeg tetap menjadi hiburan tanpa mengorbankan kenyamanan orang lain?
FAQ Mengenai Dampak Negatif Sound Horeg
Apakah dampak sound horeg pasti berbahaya bagi pendengaran?
Tidak selalu. Risiko tergantung pada tingkat kebisingan, jarak dari sumber suara, dan durasi paparan. WHO menjelaskan bahwa paparan suara keras yang berulang atau berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan pendengaran permanen.
Berapa banyak warga Jawa Timur yang merasa terganggu oleh sound horeg?
Dalam survei yang dilakukan terhadap 1.250 responden di Jawa Timur, sebanyak 81,5 persen responden menilai bahwa kegiatan sound horeg dapat mengganggu lingkungan.
Apa dampak sound horeg yang paling banyak dikeluhkan?
Keluhan yang paling umum berkaitan dengan kenyamanan orang sakit dan anak-anak, potensi kerusakan pada bagian rumah, risiko terhadap pendengaran, polusi suara, serta kondisi lingkungan yang kotor setelah acara.
Apakah salah satu dampak sound horeg bisa menyebabkan rumah roboh?
Tidak dapat langsung disimpulkan demikian. Getaran bisa menjadi salah satu faktor yang perlu diperiksa, namun kondisi konstruksi dan faktor-faktor lain juga harus diperhitungkan untuk menentukan penyebab kerusakan bangunan.
➡️ Baca Juga: Kemenag Cita-Citakan Partisipasi 1.781.945 Peserta dalam Gema Selawat Maulid Nabi
➡️ Baca Juga: Kemenhub dan PT KAI Segera Tertibkan Perlintasan Sebidang Sesuai Arahan Presiden Prabowo




