Corona Menguji Kecerdasan Kita

Penulis : HM Basori M.Si

Dampak wabah corona menimpa pada semua elemen masyarakat, dimana semua aspek kehidupan macet total. Ekonomi, sosial, politik bahkan sampai aspek kehidupan paling privat sangat terganggu. Kehidupan ini bisa berjalan karena adanya aktifitas dan interaksi sosial yang menghasilkan sumber daya dan sumber dana. Ketika unsur sosial terhenti bahkan dipaksa untuk berhenti, maka kita baru sadar bahwa ternyata hidup memang perlu direncanakan, dilaksanakan bahkan diperhitungan dengan matang.

Bagi para jomblo, pengangguran, mahasiswa, bahkan sarjana yang baru selesai kuliah mungkin kemarin merasa bahwa Hidup di Indonesia ternyata sangat Indah dan Merdeka. Dimana sifat malas kerja, gaya bos, suka ngafe, nongkrong, bahkan jalan jalan rasanya enak walau hanya berbekal uang Rp. 50.000. Mereka terlalu menikmati hidup tanpa berfikir segera menata diri untuk mempersiapkan kehidupannya dengan jelas, cepat, tepat dan prospektif.

Kondisi ini menjadi tonggak, untuk mulai berfikir rasional, kritis, setrategis dan jauh kedepan agar siapapun dia siap menghadapi hidup ketika ditimpa krisis yang mengharuskan kita tidak boleh melakukan aktifitas apapun. Pemikiran ini bukan berarti kita tidak percaya takdir Allah, namun realitanya ketika krisis terjadi kita sudah tidak bisa berbuat apa apa, ketika kita tidak punya apa apa alias bokek.

Untuk itu mari kita mencoba mulai mengurai, mengapa kita seperti mimpi buruk dalam menghadapi krisis ini, sehingga kedepan untuk tidak terjadi lagi pada kita.

1.Merubah Mindset

Pola pikir yang tidak prospektif, kritis dan rasional dalam menjalani hidup dimasa depan menjadi faktor utama mengapa kita tidak maju maju. Kita tidak memiliki semangat dan fikir rasional pada diri kita, dimana kita mesti harus bekerja dan menabung. Mungkin faktor pergaulan atau lingkungan yang membuat kita slow slow saja dalam menjalani hidup.

Jika kita dari awal sudah berfikir rasional, bahwa hidup butuh makan, untuk mendapatkan makan kita harus beli dengan uang, maka kita tidak akan merasakan himpitan ekonomi disaat krisis seperti ini. Artinya bekerja dan menabung merupakan sebuah keharusan

2. Setiap Kita Adalah Pengusaha

Terlalu banyak pelajaran yang kita ambil dari nenek dan bapak kita, dimana beliau mengajarkan bahwa “ Nek Ora Obah, Ora Olah Olah”. Filsafat itu begitu sederhana dan mudah dipahami, tetapi mengapa kita sampai sekarang tidak melakukan ? Jawabnya “ Karena Kita Malas” Kemalasan yang berlarut larut melahirkan pengangguran. Kalau kita mau belajar dari yang kecil sebenarnya kita semua adalah seorang pengusaha, selama kita mau melakukan.

Pengusaha sukses berasal dari proses Panjang yang melelahkan. Maka kita jangan terlalu lama bermimpi untuk menjadi orang sukses jika kita tidak pernah mau melakukan mulai dari yang sederhana / kecil. Segera merenung, mengapa orang tua kita begitu hebat walau hanya seorang buruh tani yang bisa menyekolahkan kita sampai sarjana.

Hidup ini terlalu simgkat jika menanti momen yang terbaik menurut kita. Kita harus mampu membuat momen, menciptakan momen dan melakukannya dengan semangat demi kemajuan kita sendiri.

3. Memulai Dari Yang Kecil

Banyak orang berfikir butuh modal yang besar ketika kita mau membuka usaha. Sebenarnya modal besar bukan syarat utama untuk memulai membuka usaha. Dari modal kecil kita akan minim resiko, pelan tapi pasti, ketika kita sudah berjalan peluang dan potensi usaha lain akan mudah kita dapatkan, dan disanalah peluang untuk besar dan maju bisa kita dapatkan. Maka yakinkan pada diri anda bahwa anda harus segera memulai walau dari yang sederhana bahkan hasil yang sangat kecil.

4. Kerja Cerdas

Kemajuan tehnologi telah membawa kita enak dan mudah karena semua bisa dikendalikan dari tangan. Kecanggihan tehnologi harus kita pergunakan sehingga kita bisa membuat jaringan antar manusia dengan menggunakan tehnologi. Kalau dulu kita harus kerja keras karena harus menggunakan fisik, sekarang kita bisa merubahnya menjadi kerja cerdas dengan menggunakan teknologi sebagai media.

5. Menabung ternyata Sangat Penting

Terlalu banyak banyak orang yang memehami hidup terlalu sederhana bahkan sangat santai, dimana dia hanya berfikir bagaimana bisa ngopi, beli pulsa dan makan makan kecil. Krisis sekarang membuka hati dan fikiran kita bahwa kerja keras, kerja cerdas dan menabung merupakan sesuatu yang tidak bisa kita elakkan. Diam ditengah pandemi membutuhkan asupan makanan bergizi yang memaksa kita untuk mengeluarkan uang lebih. Bagi yang tidak memiliki tabungan dan perencanaan keuangan dengan baik, maka hanya kecemasan dan rasa menyesal.

Maka momen krisis ini merupakan sebuah start awal kita untuk mulai menyadari akan makna sebuah kerja keras, kerja cerdas dan menabung. Hidup tidak cukup besok ada yang bisa buat ngopi, tetapi lebih dari itu … !

6. Menjaga Stabilitas Iman

Terlalu lama kita terbuai oleh hiruk pikuk kesibukan ekonomi, gadget bahkan cenderung lupa akan perintah Allah yang mesti harus kita lakukan dengan seimbang antara duniawi maupun ukhrowi. Krisis ini sebagai tonggak evaluasi akan kekurangan amaliyah Ilahiyah selama ini, sehingga kedepan menjadi lebih terformat, terencana dan semangat mengabdi dengan sepenuh hati demi kemulyaan yang hakiki kelak.

Beberapa goresan angan yang sangat sederhana di atas hanya merupakan lamunan unik jika mungkin bisa memberitahu hatiku dan hatimu, meski mungkin tidak membuat anda semua merasa lebih nyaman. Tidak ada keindahan hati kecuali diri kita mampu menciptakannya sendiri, tapi kita semua sepakat, selama Allah tetap di hati kita maka kita akan siaga menjalani bagaimanapun dinamika hidup ini. Permainan dan senda gurau merupakan nash Allah dalam menggambarkan bagaimana hidup di dunia ini.

Salam semangat dan jangan lupa bahagia, karena bahagia merupakan sebuah kata yang mampu memberika energi positif yang luar biasa agar kita tetap Indah Menjalani Kondisi Apapun … !

* Sebuah Lamunan Buat Sahabat Sahabatku

** Direktur Sekolah Perubahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *