Bu Tejo Pahlawan Pemersatu Masyarakat Kita

Film pendek Tilik yang tayang di Youtube baru-baru ini, mampu menyedot perhatian khalayak, terutama netizen yang haus akan hiburan yang menyegarkan. Film yang berdurasi tiga puluhan detik ini bercerita sekitar realitas kehidupan masyarakat yang penuh dengan berita. Gosip tetangga.

Bu Tejo hadir sebagai tokoh yang membumi, benar-benar ada di masyarakat, dan menukik ke jantung problematika peradaban pergunjingan. Bak gayung bersambut, membicarakan tentang emak-emak tentu akan langsung menyedot banyak perhatian dan BUM! Pembahasan film itu bermunculan di time line media sosial saya.

Jika di cermati, dunia emak-emak hingga bapak-bapak, memang tak pernah jauh dari saling bertukar berbagai berita tentang tetangga mulai dari berita anak, perselisihan antar tetangga, desas-desus perselingkuhan hingga tips-tips memasak ramai bersliweran. Layaknya CCTV, kabar-kabar tersebut tertransfer begitu cepat dari mulut ke mulut, hingga seluruh warga kampung mengetahui walaupun itu sebuah rahasia.

Melihat film Tilik dan realitas masyarakat sekitar, saya tidak mendapati ‘tradisi’ tersebut merusak keharmonisan masyarakat. Simak saja saat Bu Tejo bertengkar dengan Yu Ning yang segera akur kembali manakala terjadi problem yang dihadapi bersama. Biasanya, pertengkaran antar ibu-ibu tidak berlangsung lama. Hanya beberapa hari, kemudian mereka kembali akur seperti sedia kala. Dan, tradisi gosip tetap terus berjalan.

Inilah yang membuat saya tergerak menelisik bak detektif. Merenungkan dalam-dalam sikap-sikap yang ada di batin Bu Tejo. Yang kalau saya perhatikan juga terjadi di lingkungan masyarakat yang lainnya.

Saya baru menemukan jawabannya, setelah membaca buku yang berjudul Etika Jawa(2018) karya Ahmad Lutfi. Buku setebal 150-an halaman yang mengungkap gambaran mengenai etika manusia Jawa.

Salah satu kesimpulan menariknya ialah manusia jawa akan mendapatkan kebahagiaan manakala mampu meraih dan menjaga harmoni dengan sesama manusia. Poin inilah yang akhirnya mampu menjawab kegelisahan saya.

Jadinya, masyarakat cenderung menyimpan rapat-rapat ketidaksesuaiannya dengan orang lain dengan menampakkan hal-hal yang cenderung disukai sekitarnya. Dari sinilah muncul tradisi yang bernama gosip. Pilihan tepat mencurahkan isi hati tanpa menimbulkan pertengkaran.

Di sekolah misalnya, kita lebih baik diam dan iyain saja pendapat teman kita yang mengusulkan menaikkan iuran kelas. Padahal dalam hati kita menjerit, “Duh, jatah rokokku berkurang lagi.”

Nah. Misal yang lain, jika Anda pernah mengatakan cinta kepada seorang perempuan, dan dia tidak mengatakan iya, maupun tidak, sebenarnya itu adalah hal yang wajar karena dia menganut prinsip ini. Dia sebenarnya ingin mengatakan ‘tidak’ tapi tidak ingin membuat ketidakharmonisan hubungan antar teman. Sesimpel itu sih.

Akhirnya dia memilih untuk menggantung jawabannya daripada menyakiti temannya. Bukankah kita lebih senang semuanya berjalan begitu saja meskipun itu tidak sesuai dengan apa yang ada di hati kita? Hahaha.

Bagaimana tidak? Wong kita saja mau menanyakan kenaikan gaji kepada bos saja harus berfikir seribu kali, dan sering kali memilih diam dan menerima kerja ala Superman gaji rasa mi instan.

Kita baru berani kalau berkelompok senasip dan seperjuangan yang biasa terjadi satu tahun sekali lewat hari buruh nasional.

Lebih jauh lagi, Islam semestinya juga harus berterima kasih kepada masyarakat kita, karena dengan prinsip inilah agama Islam dapat menyebar begitu cepat seantero pulau. Alih-alih mendemo para pendatang dengan membawa agama baru, nenek moyang kita banyak memilih diam demi menjaga keharmonisan.

Saya sendiri pernah melakukan sebuah penelitian di penduduk lereng gunung di daerah selatan Kabupaten Nganjuk di mana di sana terdapat masyarakat dengan tiga agama. Islam, Hindu, dan Kristen. Mereka hidup berdampingan tanpa ada gesekan yang begitu berarti.

Para pamong desa pun terdiri dari penganut agama yang heterogen. Setelah saya bertanya tentang perbedaan agama di sana, mereka menjawab, “Agama namung ageman (hanya pakaian) fungsinya sama hanya penampakannya saja yang berbeda.” Yang membuat saya terkesan ialah orang yang menjawab itu hanyalah penduduk biasa yang sedang ngopi di sebuah warung.

Artinya mereka tidak mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang ada di sekitarnya, memendam sedalam mungkin benih-benih konflik demi keharmonisan. Itu sudah menjadi tradisi yang tertanam dalam urat nadi mereka.

Akhirnya, mereka memilih membincangnya di ruang-ruang privat yang kecil yang tidak terdengar oleh banyak orang sekalipun kemudian menjadi rahasia umum di sekitar mereka. Dan, salah satu contoh ruang privat yang paling tepat adalah sebuah bak truk yang ditumpangi Bu Tejo.

Dari sini terjawab juga mengapa berita gosip artis di media TV Nasional sangat sulit digeser. Program-program semacam itu akan tetap mendapatkan pemirsanya terutama kalangan ibu-ibu yang ingin istirahat selepas lelah memasak. Lumayan lah untuk bekal obrolan besok saat belanja sayur-mayur.

Hal ini berlanjut dengan membludaknya viewer channel Youtube para artis yang jika ditelisik lebih mendalam hanya berkisar kehidupan sehari-hari mereka. Tidak lah jauh dari tradisi infotainment. Gosip.

Akhirnya tidak mengherankan apabila saya menganggap bahwa Bu Tejo sebenarnya adalah seorang pahlawan yang cerdas. Seorang pahlawan pemersatu masyarakat kita. Bukankah begitu?

“Lho, bagaimana dengan nasihat agama yang melarang ghibah, gosip dan kawan-kawannya?”

Ah, saya kan cuma cerita. Keputusan final tetap di tangan pembaca.

Ditulis Oleh : Ahmad Natsir
Dosen IAIN Ponorogo, Fans FP Waskita Jawi, Member Institut Kajian Agama dan Sosial (IKAS)

Sumber : https://geotimes.co.id/opini/bu-tejo-pahlawan-pemersatu-masyarakat-kita/

Digiqole ad

admin

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *